PALOPO — Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan (Pusdiklatkes) Multi Edukasi Nusantara (MedNus) menjalin kerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kamus Arunika (STIKES KAMI) dalam upaya memperkuat pengembangan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya di bidang kegawatdaruratan, Jumat (14/8/2026).
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang berlangsung di Auditorium STIKES KAMI, Jumat (14/8/2026). Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan kegawatdaruratan sekaligus memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi kesehatan dengan kebutuhan kompetensi profesional di lapangan.
Direktur Pusdiklatkes MedNus, Supriadi, yang dalam kegiatan tersebut diwakili Trainer MedNus, Hakbar, mengatakan bahwa kolaborasi dengan STIKES KAMI merupakan bagian dari komitmen MedNus untuk memperluas sinergi dengan institusi pendidikan kesehatan dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga kesehatan.
“Kerja sama ini kami harapkan tidak hanya berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan yang memberikan pengalaman serta kompetensi nyata kepada mahasiswa maupun tenaga kesehatan. Kami melihat STIKES KAMI memiliki potensi yang sangat baik, khususnya dalam pengembangan kompetensi kegawatdaruratan,” ujar Hakbar.
Menurutnya, pembekalan kompetensi kegawatdaruratan menjadi semakin penting karena tenaga kesehatan dituntut mampu memberikan respons yang cepat, tepat, dan sesuai standar ketika menghadapi kondisi yang mengancam jiwa.
Sementara itu, Ketua STIKES KAMI, Hairuddin Safaat, menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Ia mengatakan kolaborasi dengan Pusdiklatkes MedNus diharapkan dapat semakin memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan kompetensi lulusan STIKES KAMI.
“Kerja sama ini menjadi bagian penting dari upaya kami untuk memastikan lulusan STIKES KAMI tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang kuat dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. Salah satu kekuatan yang terus kami kembangkan di Program Studi D3 Keperawatan adalah bidang Keperawatan Gawat Darurat,” kata Hairuddin.
Ia menambahkan, penguatan kompetensi tersebut dilakukan melalui integrasi pembelajaran, praktik keterampilan, serta pelatihan yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa.
“Kami ingin keunggulan di bidang Keperawatan Gawat Darurat benar-benar tercermin pada kompetensi lulusan. Karena itu, sinergi dengan lembaga pelatihan seperti MedNus menjadi sangat penting agar mahasiswa mendapatkan exposure terhadap standar dan praktik kegawatdaruratan yang aplikatif,” lanjutnya.
Hairuddin berharap kerja sama tersebut dapat menjadi awal dari berbagai program kolaboratif yang berkelanjutan, baik dalam bentuk pelatihan, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa, maupun kegiatan pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan.
Usai penandatanganan MoU, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS) secara offline di STIKES Kamus Arunika.
Pelaksanaan BTCLS tersebut menjadi bentuk nyata implementasi kerja sama kedua institusi dalam meningkatkan keterampilan peserta dalam penanganan kondisi kegawatdaruratan. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran dan praktik mengenai penanganan trauma serta kegawatdaruratan kardiovaskular secara terintegrasi.
Kolaborasi antara Pusdiklatkes MedNus dan STIKES KAMI diharapkan dapat terus berkembang menjadi kemitraan strategis dalam mencetak sumber daya manusia kesehatan yang kompeten, responsif, dan memiliki kesiapan menghadapi berbagai situasi kegawatdaruratan.

