PALOPO–Malam di Desa Siteba, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, kini terasa lebih panjang. Sejak Mei 2025, desa itu gelap lantaran listrik tidak lagi menyala. Bahkan, ratusan warga di dua dusun, yakni Kole dan Balatana harus rela kembali ke masa lalu, saat listrik masih menjadi mimpi.
PLTM Siteba Energy, satu-satunya sumber cahaya mereka, kini tak lagi beroperasi. Sejak Februari 2025, perusahaan masih menyuplai listrik untuk 3 dusun, yakni Kole, Balatana, dan Makawa di Desa Siteba meski kontraknya sudah habis sebagai bentuk kepedulian kepada warga. Namun pada akhirnya, di akhir bulan Mei 2025 lalu, betul betul off karena biaya operasional.
Dampaknya bukan hanya sekadar mati lampu. Bagi anak-anak, malam yang seharusnya menjadi waktu belajar kini berubah menjadi perjuangan. Mereka harus menatap remang-remang cahaya lilin atau lentera, yang membuat mata cepat lelah. Cita-cita mereka seolah ikut redup bersama gelapnya malam.
Tak hanya itu, ekonomi desa juga ikut lumpuh. Sekitar 50 kepala keluarga kini harus menelan pil pahit karena kehilangan pekerjaan dari PLTM.
Usaha kecil seperti warung, bengkel, penggilingan padi, dan usaha rumahan lain tak bisa lagi beroperasi maksimal. Warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli genset dengan bahan bakar yang mahal.
Sejak pukul 18.00, Desa Siteba seolah ditarik mundur ke era purba. Suasana sunyi, hanya dihiasi binar redup dari api yang menemani. Aktivitas warga terhenti, membatasi setiap gerak-gerik mereka. Mereka yang seharusnya bisa berinteraksi, kini terpaksa membatasi diri dan bersiap melawan gelap.
Keterbatasan ini terasa semakin ironis. Saat desa-desa lain di Kabupaten Luwu terus menikmati kemajuan, Desa Siteba justru terperosok dalam isolasi.
Listrik mati, dan bahkan jaringan seluler pun tak bisa diakses. Tak hanya itu, untuk mencapai desa ini, butuh perjuangan berat melewati jalan berbatu yang memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan dengan motor.
Seorang pemuda desa, Katu mengatakan, mereka merasa tertinggal karena hidup tanpa listrik. “Selama bertahun-tahun, warga desa memang telah menikmati listrik gratis dari PLTM. Kini, setelah semua itu hilang, mereka merasa harapan untuk masa depan yang lebih baik ikut sirna,” katanya.
Warga Desa Siteba kini hanya bisa berharap dan menunggu uluran tangan dari pemerintah, berharap cahaya penerangan kembali datang. Mereka berharap agar kegelapan yang melanda desanya segera berakhir, dan Desa Siteba dapat kembali menjadi bagian dari kemajuan yang sama-sama dinikmati oleh desa lain.
“Masyarakat sangat berharap agar ada solusi nyata dari pemerintah maupun pihak terkait. Warga ingin agar PLTM yang terbengkalai bisa segera difungsikan kembali, sehingga listrik bisa kembali mengalir ke rumah-rumah warga,” kata Katu.
Sementara itu, Sekretaris Desa Siteba, Iyan mengatakan masyarakat hanya membutuhkan kejelasan dari pihak perusahaan Siteba Energy karena selama ini hanya informasi simpang siur yang menjanjikan bahwa akan kembali dialiri listrik.
Iyan menegaskan mereka hanya butuh kejelasan agar bisa mengambil langkah alternatif segera apakah akan membuat Turbin atau meminta pemasangan instalasi dari PLN langsung. “Sebanyak 260 KK yang mengambil manfaat secara gratis dari perusahaan Siteba Energy sehingga hingga hari ini masyarakat belum menggunakan aliran langsung dari PLN,” katanya.
Sebagai informasi terakhir yang diterima oleh Iyan, permasalahan berawal dari belum adanya kesepakatan dari PLTM dengan PLN untuk proses pembelian perusahaan sehingga berdampak pada pemberhentian pengoperasian.
Harapan ini bukan sekadar soal penerangan, melainkan soal masa depan, terutama masa depan pendidikan anak-anak, ekonomi desa, hingga martabat warga Siteba sebagai bagian dari bangsa yang berhak atas energi. Mereka percaya dengan adanya perhatian dan kebijakan yang tepat, PLTM bisa kembali beroperasi dan menghidupkan semangat pembangunan di Desa Siteba. (nada)

