MALILI–Pengadaan mobil ambulance desa yang dananya bersumber dari CSR PT Vale menyita perhatian publik di Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatan. Sebab, dana CSR sudah cair senilai Rp6 miliar, namun mobil ambulance yang dipesan tidak jelas keberadaannya. Bahkan, pihak Daihatsu Luxio Serpong mengaku unit permintaan sudah disiapkan, namun hingga saat ini belum dibayar lunas.
Supervisor TMS Daihatsu Serpong, Ratno Budiarto, mengakui, pihaknya bekerjasama dengan Erwin Sandi terkait pengadaan mobil ambulance. Namun sampai saat ini, lantaran belum dibayar lunas, kerjasama pihaknya situasinya makin tidak jelas karena Erwin Sandi yang dikenal sebagai Ketua Pospera Luwu Timur sudah tidak bisa dihubungi dan terkesan menghilang.
Ratno mengaku unit mobil Daihatsu Luxio itu dipesan di TMS Daihatsu Serpong, Kabupaten Tenggarang Selatan. Barangnya sudah ready sejak Februari 2026. Hanya saja, Erwin Sandi tak menyelesaikan pembayaran.
“Dari kami tidak ada kendala. Sejak Februari Kami sudah siapkan 21 unit. Barangnya baru dan ada semua. Bahkan sebelum deadline, kita siapkan lebih maju unitnya. Cuma belum dipasangi stiker ambulan semua masih standart. Tapi itu tadi belum dibayarkan,” kata Retno.
Ratno mengaku kehilangan kontak dengan Erwin Sandi. Ia hanya bisa berkomunikasi dengan rekan Erwin Sandi bernama Herlina Andriani Haris. Seorang sales mobil di Makassar yang menjadi penghubung Erwin Sandi dalam melakukan pemesanan unit di Serpong.
Dikatakan, dari Herlina diketahui jika belum ada pembayaran dari PT Vale. “Padahal kami sudah dikonfirmasi juga dari PT Vale, uangnya sudah ditransfer ke Vendor. Karena masalah ini, saya kena marah dengan atasan. Saya bisa kehilangan pekerjaan Pak,” ungkap Ratno.
Masih menurut Retno, Erwin Sandi selaku vendor melalui Herlina memesan 26 unit. Uang yang disetorkan baru booking fee sebanyak Rp260 juta atau senilai Rp10 juta per unit.
“Sudah pelunasan 2 unit. Harga per unitnya Rp199,79 juta. Yang 3 unit itu dia pesan dari dealer lain. Bukan dari saya. Jadi PT Malili ini pecah dealer. Sekarang tersisa 21 unit ini belum dibayar. Unit yang sangat sulit dijual. Saya kena marah dari atasan gara–gara Erwin ini,” kata Ratno.
Dalam pengadaan 26 unit ambulance merek Daihatsu Luxio D, Erwin Sandi menggunakan jasa Herlina Andriani Haris. Dalam pembelian yang tidak tuntas itu, Herlina yang bertanda tangan.
Kenapa mesti Herlina karena Herlina ber-KTP Tanggerang, kalau pakai KTP Tanggerang harganya bisa lebih murah dari pada menggunakan KTP Makassar.
“Kalau KTP Tanggerang Harganya Rp199 juta lebih. Tak cukup Rp200 juta. Dokumen faktur dan lainnya nanti diurus di Sulsel,” jelas Ratno.
Herlina saat dikonfirmasi terkait pengadaan mobil ambulan tersebut tidak bersedia memberikan penjelasan. Berdasarkan dokumen PO 26 unit Daihatsu Luxio, tertulis pada tanggal 3 Februari 2026. Harga setiap unitnya Rp230 juta.
Sebuah angka yang berbeda jauh dari pengakuan supervisor Daihatsu Luxio Ratno. Yang menyebut harganya satu unit Rp 199 jutaan. Tak sampai Rp 200 juta.
Sementara itu, Armin Jafar selaku Direktur Utama (Dirut) PT Malili Suplai Utama sangat keberatan dengan Erwin Sandi. Sebagai dirut, dia mengaku tidak pernah dilibatkan. Tapi setelah bermasalah, namanya ikut terseret.
“Ini semua berkaitan dengan pengadaan mobil ambulance untuk 26 desa yang bersumber dari dana CSR PT Vale. Dan PT Malili Suplai Utama adalah perusahaan yang dipercayakan untuk pengadaan ambulan desa tersebut,” jelas Armin Jafar.
Menurut Armin, posisinya dalam perusahaan tersebut adalah Direktur Utama, Erwin Sandi sebagai Komisaris. “Ini yang saya tanda tangani sewaktu di notaris. Dan hanya itu saja dokumen yang saya tandatangani semenjak perusahaan itu dibuat. Setelah itu saya tidak tahu menahu lagi soal aktivitas perusahaan,” ungkap Armin, dilansir dari okson.com, Selasa (13/5/2026).
Armin mengaku kaget setelah membaca di media perusahaan yang dipimpinnya bermasalah dalam pengadaan ambulance. Dia juga ngaku gerah setelah perusahaan tersebut bermasalah, pihak PT Vale menghubunginya terkait perkembangan mobil ambulance. “Saya tidak tahu menahu soal itu, dan selama inikan komunikasinya orang Vale sama Erwin saja, masa setelah bermasalah baru saya dihubungi,” kata Armin.
Setelah mengetahui perusahaannya bermasalah dalam pengadaan ambulance, Armin berusaha menghubungi Erwin Sandi. “Tapi nomornya tidak aktif. Saya juga mencoba menghubungi isterinya Erwin, istrinya juga tidak tahu keberadaannya. Heran juga saya, isterinya saja tidak tahu dimana dia,” kata Armin.
Jika persoalan ini sampai ke ranah hukum, dia akan mempertanyakan pihak bank, bagaimana bisa terjadi pencairan keuangan sementara dia selaku direktur tidak pernah bertanda tangan. “Ini yang saya mau cari tahu,” ujar Armin. (***)

