PALOPO–Walikota Palopo, Hj Naili Trisal menegaskan komitmennya dalam menurunkan angka stunting di kota bermotto ‘Idaman’ ini.
Dia menekankah bahwa stunting bukan sekadar isu kesehatan, melainkan tantangan serius pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, dia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi lintas sektor.
Walikota Naili menyampaikan hal tersebut usai menyalurkan bantuan pangan dan makanan bergizi bagi warga Kelurahan Penggoli, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Senin (12/1/2026).
Penyaluran bantuan bagi keluarga beresiko stunting dan ibu hamil di Kelurahan Penggoli diadakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Palopo bekerjasama Bank Sulselbar Kota Palopo.
Menurut Walikota Naili, penurunan dan pencegahan stunting di Kota Palopo tidak bisa hanya dibebankan kepada DPPKB Palopo dan dinas terkait. “Semua pihak harus bergerak bersama, mulai dari OPD, kecamatan, kelurahan, hingga dunia usaha. Stunting bukan masalah yang bisa diselesaikan sendirian oleh pemerintah. Kita butuh sinergi lintas sektor,” kata Walikota Naili.
Eltris Cafe Palopo Tempat Nongkrong Bagi Semua Kalangan, Ini Keunggulannya Bikin Pengunjung Betah
Terkait penyaluran bantuan di Kelurahan Penggoli, Walikota Naili mengapresiasi DPPKB Kota Palopo bersama Bank Sulselbar. “Kita harapkan, kedepan, instansi swasta lainnya, termasuk perbankan ikut berpartisipasi dan berkolaborasi bersama Pemkot Palopo dalam menangani stunting di Kota Palopo,” katanya.
Dengan kolaborasi berbagai pihak, Walikota Naili optimisme bahwa Kota Palopo bisa menjadi contoh nasional dalam percepatan penurunan stunting. “Mari kita buktikan bahwa Pemerintah Kota Palopo benar-benar hadir untuk rakyat. Dengan kerja nyata dan sinergi lintas sektor, saya yakin kita bisa wujudkan Palopo bebas stunting,” ujar Walikota perempuan pertama di Sulsel ini.
Sementara itu, Kepala DPPKB Kota Palopo, Samsil mengatakan, pihaknya bersama instansi terkait fokus program pencegahan stunting. Termasuk DPPKB Kota Palopo, sesuai arahan Walikota Palopo, menggandeng instansi terkait, seperti perbankan dan dunia usaha lainnya untuk berkolaborasi dalam rangka mencegah dan menurunkan stunting di Kota Palopo.
Diuraikan Samsil, sesuai data Tim Pergerak Gizi (TPG) per Juli 2025, jumlah kasus stunting di Palopo mencapai 95 kasus. Sedangkan,
merujuk data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Suvei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting Kota Palopo 22,25 persen atau masih jauh dari angka target nasional. Untuk itu, DPPKB Palopo bersama instansi terkait masih fokus program pencegahan stunting.
Tersisa Satu Dewas, Andi Enceng Ajak Karyawan Perumda TM Palopo Berkolaborasi Majukan Perusahaan
Menurut Samsir, untuk pencegahan kasus stunting ini juga perlu untuk diwaspadai agar tidak meningkat kembali karena masih ada 4.737 keluarga berisiko yang harus diselesaikan. “Sebab, jika tidak ditangani dengan baik dengan program pencegahan, maka angka beresiko tersebut bisa menjadi stunting tahun 2026,” katanya.
Samsil menjelaslan, ada beberapa program yang dilakukan pihaknya, untuk pencegahan dan penanganan stunting, diantaranya
pendampingan keluarga melalui kunjungan rumah, verifikasi lapangan bagi keluarga berisiko stunting, serta program Gerakan Orang Tua Asuh (Genting). Tak hanya itu, penguatan edukasi pra-nikah melalui Bimbingan Perkawinan juga digencarkan pihaknya. (nada)

