PALOPO–Aktivis kemanusiaan asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Andi Angga Prasadewa, hilang kontak setelah kapal yang ditumpanginya dicegat oleh militer Israel (IDF) di perairan Siprus, Mediterania Timur, Senin lalu, 18 Mei 2026.
Angga diculik bersama beberapa relawan yang tergabung dalam misi kemanusiaan global, Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Kini keluarga dan kerabatnya di Luwu berharap Andi Angga bisa dibebaskan dan kembali ke Tanah Air.
Ayah Andi Angga, Andi Hamzah mengatakan, terakhir kali berkomunikasi dengan anaknya melalui video call, pada hari Minggu malam, 17 Mei 2026. Saat itu, Angga masih dalam perjalanan menjalankan misi kemanusiaan internasional bersama relawan dari berbagai negara.
“Saya setiap hari komunikasi dengan anak ku,” kata Andi Hamzah di kediamannya di Dusun Kariako, Desa Buntu Karya, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Rabu malam, 19 Mei 2026.
“Waktu mau berangkat dari Bandung ke Turki, saya komunikasi terus. Terakhir saya komunikasi itu malam Senin. Sempat video call,” jelasnya.
Andi Hamzah bahkan sempat mengirim pesan penyemangat kepada anaknya. “Saya sempat WhatsApp, kuatkan dirimu. Karena perkara ini adalah tujuan yang mulia, tujuan yang suci,” katanya.
Namun setelah itu, komunikasi dengan Angga terputus. Belakangan keluarga mengetahui kapal yang ditumpangi Angga dicegat Israel di perairan Siprus, Mediterania Timur. “Tetapi setelah itu sudah tidak ada kabar lagi. Ternyata sudah ditangkap,” ujarnya.
Andi Hamzah mengaku mengetahui kabar tersebut dari anak keduanya, Aliya Izaura (32) yang berada di Kota Belopa, Luwu. Informasi itu diterimanya setelah selesai berwudhu menjelang salat magrib pada Senin (18/5/2026).
“Saat itu setelah saya selesai wudhu. Adiknya, anak kedua saya telepon ‘apa kita sudah tahu kapal Angga dicegat saat perjalanan ke Gaza’,” bebernya.
Andi Hamzah menjelaskan, Angga memang rutin mengabarkan perkembangan misi kemanusiaan yang dijalaninya. “Angga rajin mengirim kabar terkait misi kemanusiaan yang dia ikuti ini. Kemarin di Turki juga dia kirim gambar,” ujarnya.
Ia menyebut rencana keberangkatan Angga ke Gaza sudah dipersiapkan sejak tahun lalu. “Dari tahun lalu Angga sudah ada persiapan ke Gaza untuk misi kemanusiaan. Dia bilang, ‘Opu (sapaan Angga ke ayahnya), saya mau ikut misi kemanusiaan ke Gaza. Doakan saya’,” kata Andi Hamzah meniru ucapan Angga.
Sebagai orang tua, ia mengaku hanya bisa memberikan doa dan dukungan. “Saya bilang, itu sudah pasti, selagi itu kebaikan, kenapa tidak,” akunya.
Keluarga kini berharap pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomatik agar seluruh WNI yang ditahan dapat dipulangkan dengan selamat. “Saya harap kepada Pak Prabowo, sebagai Presiden agar cepat permasalahan ini diurus, agar anak-anak yang disandera cepat pulang semua,” pinta Andi Hamzah.
Ia mengaku juga telah berkomunikasi dengan anggota DPR RI, Unru Baso dan Andi Irwan Aras, terkait kabar penangkapan Angga. “Saya sempat telepon kolega saya, Unru Baso dan juga Pak Andi Irwan Aras, kalau keponakan ta dicegat tentara Israel. Reaksinya kaget,” ujarnya.
Sementara itu, ibu Angga, Sutrawati Kaharuddin (52) disebut terus berupaya mencari jalan agar anaknya bisa segera bebas. “Ibunya untuk saat ini juga proaktif agar Angga bisa bebas dan selamat,” kata Andi Hamzah.
Meski berusaha tegar, sang ibu disebut sempat tak kuasa menahan tangis. “Namanya juga seorang ibu,” ujarnya.
Anggota DPRD Sulsel Dapil XI, Asni ikut prihatin atas kejadian yang menimpa Angg Ia turut mengecam tindakan zionis Israel yang menangkap sejumlah relawan asal Indonesia. “Kami mengecam tindakan yang sangat tidak manusiawi kepada WNI yang sedang menjalankan misi kemanusiaan yang sangat mulia yaitu membawa bantuan ke Gaza, Palestina,” bebernya.
Asni mengaku, ia mengenal Angga sebagai pemuda yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Apalagi Angga sejatinya merupakan keponakannya sendiri dari jalur sang ibu, Sutrawati Kaharuddin. Menurutnya, Angga dan para relawan kemanusiaan hanya ingin menjalankan misi kemanusiaan sebab peduli dengan kondisi warga Palestina yang dirundung konflik.
“Kehadiran para relawan, termasuk Andi Angga, yang juga ponakan saya, bukan untuk kepentingan politik atau konflik, melainkan semata-mata peduli akan kemanusiaan. Dan solidaritas kepada saudara saudara kita di Palestina yang menderita akibat perang berkepanjangan,” beber legislator asal Partai PAN itu.
Ia menambahkan, sebagai legislator meminta agar pemerintah Indonesia segera mengambil langkah tegas untuk membebaskan seluruh WNI yang diculik zionos Israel. “Sebagai anggota DPRD Sulsel, saya meminta agar pemerintah Indonesia mengambil langkah yang tegas, diplomatik, dan terukur. Guna memastikan keselamatan seluruh relawan,” ujarnya. (***)
RELAWAN TANGGUH
Terpilihnya Andi Angga dalam misi berisiko tinggi ini bukan tanpa alasan. Angga adalah sosok senior di Rumah Zakat Action yang memiliki jam terbang tinggi. Ia dikenal sebagai relawan yang tangguh dan memiliki komitmen luar biasa di berbagai wilayah bencana maupun area konflik.
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, membeberkan karakter asli Angga yang dikenal disiplin namun tetap humoris di lapangan. “Ya, jadi ini luar biasa, memang orangnya humoris gitu ya, tapi juga disiplin ya, dan memang memulai aktivitas dari ikut kerelawanan dari mulai dari dasar gitu ya sampai sekarang. Kurang lebih ada 12 tahun terlibat dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan di Rumah Zakat,” ujar Irvan, Selasa (19/5/2026).
Sebelum bertolak dari Turki menggunakan Kapal Josef pada hari Kamis lalu, 14 Mei 2026, Angga tercatat sangat aktif memimpin pergerakan relawan di Papua. Tidak hanya itu, ia juga terjun langsung menangani respons darurat di berbagai wilayah Indonesia, seperti Aceh dan Sumatera Barat.
Misi kemanusiaan yang membawa nama Indonesia ini sebenarnya dipantau ketat secara real-time melalui fasilitas CCTV yang terhubung ke command center di Istanbul dan Kuala Lumpur. Namun, situasi mulai memanas saat kapal mendekati wilayah konflik.
Melalui komunikasi terakhirnya, Angga melaporkan bahwa sejumlah drone militer Israel terbang rendah mengitari armada mereka. “Nah, memang pada saat sudah melalui mendekati dari perairan Siprus, di antara Siprus dan Gaza tuh sudah mulai tuh, ya misalnya ada drone dan satu macam, gitu ya, berkabar. Jadi seperti itu update kondisinya,” ungkap Irvan.
Ia menambahkan bahwa laporan mengenai kemunculan armada pengintai itu datang sesaat sebelum sistem darurat aktif. “Ya, sempat ngasih kabar gitu ya, udah mulai dikelilingi (drone), kayak gitu ya. Dan segala macam, begitu. Jadi kan memang di setiap kapal ada kita pasang, gitu ya, apa namanya, CCTV. Ya, jadi itu command center bisa mengetahui gitu ya, perkembangan kapal di mana posisinya, terus kondisinya bagaimana di kapal itu. Itu bisa terlihat dari CCTV yang dipasang, kan gitu,” lanjutnya.
Kekhawatiran tim di command center menjadi kenyataan pada sore hari. Alat pelacak menunjukkan bahwa Kapal Josef dihentikan paksa (intercept) oleh militer Israel. Sinyal darurat pun sempat menyala sebelum akhirnya komunikasi dengan Angga terputus total. “Sampai kemarin sore, ya kemarin itu berarti jam 3 sore ya, mendapatkan kabar ada SOS alert ya. Dan akhirnya setelah itu udah hilang,” katanya.
“Sebelumnya masih bisa ngasih kabar posisi kita selalu tanya kabarnya bagaimana, masih berhubungan, ya. Lihat itu, ya,” sambung Irvan.
Aksi sepihak militer Israel langsung memicu reaksi keras dari Pemerintah Republik Indonesia. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) secara resmi mengecam penyanderaan para relawan dan mendesak pembebasan segera.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi bahwa ada lima Warga Negara Indonesia (WNI) dari total sembilan anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang kini resmi ditahan oleh IDF.
Selain Andi Angga Prasadewa, terdapat empat WNI lain yang ikut menjadi korban intersepsi di kapal berbeda, yaitu Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, dan Bambang Noroyono alias Abeng.
“Kementerian Luar Negeri mengutuk keras tindakan militer Israel yang mencegat sejumlah kapal dan menangkap relawan WNI yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Summit Flotilla atau GSF 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur,” tegas Yvonne Mewengkang. (***)

