PALOPO–Kapten Miswar Maturasi asal Pattedong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), dinyatakan hilang usai kapal Tugboat Musaffah 2 meledak dan tenggelam di Selat Hormuz. Istri sang nahkoda, Marliani Ahmad berdoa agar suaminya dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Persatuan Emirat Arab (PEA) dilaporkan meledak dan tenggelam di Selat Hormuz pada Jumat (6/3/2026). Kapal ini tenggelam di antara perairan PEA dan Oman pukul 02.00 dini hari waktu setempat.

Keluarga kapten Miswar di Luwu mendapat kabar terkait insiden tersebut pada hari kejadian. Informasi itu pertama kali disampaikan oleh rekan kapten Miswar yang juga bekerja di perusahaan kapal dinahkodai korban.

Marliani Ahmad mengaku sudah mendapat kabar terkait insiden yang dialami kapal suaminya. Dia pun berharap suaminya yang kini dalam pencarian segera ditemukan dalam kondisi selamat. “Sudah ada informasi bahwa dilakukan dan dimaksimalkan pencariannya. Semoga bisa sehat selamat kembali, ditemukan dengan selamat,” harap Maliani.

Dia mengatakan suaminya selalu memberi kabar saat akan melakukan pelayaran. Mereka pun sempat video call WhatsApp pada Rabu (4/3). “Ya sempat video call seperti biasa, ngobrol seperti biasa sampai dia minta izin dia mau istirahat waktu itu Rabu sore dia video call,” katanya.

Sehari setelahnya atau Kamis (5/3) pagi, Kapten Miswar mengirim pesan ke istrinya. Miswar mengabari akan melakukan pelayaran pada sore harinya. “Hari Kamis jam 9 pagi dia masih sempat WA untuk pamit berlayar, berangkat sore katanya Insyaallah tiba sore juga Jumat,” bebernya.

Marliani menuturkan suaminya itu berlayar untuk menjemput kapal milik temannya yang rusak. Namun Miswar tidak memberitahu istrinya bahwa kapal yang akan dijemput berada di Selat Hormuz. “Tidak, dia hanya sampaikan bahwa menjemput kapal yang rusak,” katanya.

Diketahui, situasi Mencekam di Selat Hormuz Dalam sepekan terakhir, sekitar 10 kapal menjadi sasaran serangan di atau sekitar Selat Hormuz, setelah Iran memblokade jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Serangan-serangan yang terjadi sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026 itu nyaris melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sembilan serangan terhadap kapal di kawasan selat tersebut dalam kurun satu minggu. Baca juga: Analis: Harga Minyak Dunia Bisa Terus Naik Jika Selat Hormuz Tetap Tertutup Pada 6 Maret, empat orang tewas setelah kapal Musaffah 2 menjadi sasaran serangan.

Namun, Pemerintah Indonesia pada Minggu (8/3/2026) mengumumkan, kapal dengan karakteristik dan posisi terakhir sesuai Mussafah 2 sudah tenggelam dua hari sebelumnya dengan jumlah korban berbeda.

Kementerian Luar Negeri Indonesia melaporkan tiga Anak Buah Kapal (ABK) dari Warga Negara Indonesia hilang. Salah satu WNI yang hilang adalah Kapten Miswar. (***)