MALILI–Anggota DPRD Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, Sukman Sadike menyebut program seragam sekolah gratis bagi pelajar di daerah berjuluk ‘Bumi Batara Guru’ sarat masalah. Bahkan dia menyebut anggaran sebesar Rp8,7 miliar
“Program ini (seragam gratis) banyak masalah di lapangan. Niatnya baik untuk meringankan beban orang tua siswa, tetapi pelaksanaan program ini justru merugikan siswa,” kata Sukman Sadike, di Malili, Jumat (3/4/2026).
Dia menyoroti pelaksanaan proyek program seragam gratis ini lantaran dinilai tidak profesional sehingga banyak merugikan siswa. “Salah satu masalah yang muncul, yang banyak dilaporkan masyarakat, ukuran seragam tidak sesuai. Sejumlah besar seragam yang dibagikan kepada siswa dilaporkan kekecilan atau tidak pas, sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Sukman Sadike menegaskan, Dinas Pendidikan (Disdik) Luwu Timur harus bertanggung jawab penuh atas amburadulnya distribusi seragam sekolah ini mengingat anggaran yang dikucurkan tidak sedikit, yakni mencapai Rp8,7 miliar untuk siswa tingkat PAUD hingga SMP, kualitas dan ketepatan ukuran seharusnya menjadi prioritas utama.
”Ini menyangkut uang rakyat yang jumlahnya miliaran. Jangan sampai niat baik pemerintah untuk membantu masyarakat malah menjadi masalah di lapangan karena kelalaian dalam pengawasan,” tegas Sukman.
Menindaklanjuti polemik ini, DPRD Luwu Timur berencana segera memanggil pihak-pihak terkait dalam waktu dekat. Rencana Rapat Dengar Pendapat (RDP) akan melibatkan Dinas Pendidikan (Disdik) sebagai instansi penanggung jawab, pihak Penyedia (UMKM) yang mengerjakan proyek pengadaan seragam tersebut. “DPRD ingin memastikan di mana letak kesalahan koordinasi, apakah pada proses pengukuran di sekolah-sekolah atau pada proses produksi di pihak ketiga,” katanya.
Sementara itu, di tengah masyarakat, sejumlah orang tua siswa mengeluhkan kondisi ini. Harapan untuk meringankan beban biaya pendidikan sedikit terganggu karena seragam yang diterima tidak bisa langsung dipakai dan harus diperbaiki sendiri atau bahkan ditukar kembali. (***)

