PALOPO–Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid Assallangge Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menggelar berbagai perlombaan permainan tradisional yang diikuti para santri dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai perlombaan semarak 17 Agustus ini berlangsung meriah dan semarak. Para santri sangat bersemangat mengikuti berbagai perlombaan.
Sejumlah permainan tradisional yang dilombakan seperti Ma’longga, Ma’bentteng, Ma’galacang, Maccukke, Mangngampang, Ma’boy, Ma’goli, dan Ma’kasti.
Beragam permainan tersebut memiliki aturan dan karakteristik masing-masing. Para santri tidak hanya dituntut untuk menjadi pemenang, tetapi juga belajar menerapkan nilai kerja sama, sportivitas, keberanian, ketangkasan, kedisiplinan, serta kebersamaan.
Kegiatan lomba diikuti secara aktif oleh para santri, baik sebagai peserta lomba maupun sebagai pendukung yang memberikan semangat kepada teman-temannya. Sorak-sorai dan dukungan antarsantri membuat suasana perlombaan semakin semarak.
Selain menjadi bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan RI, kegiatan tersebut juga menjadi sarana penerapan 5 Pilar Karakter Utama Pondok Pesantren. Nilai-nilai karakter yang diajarkan di lingkungan pesantren diarahkan untuk dapat diterapkan santri melalui berbagai aktivitas, termasuk permainan tradisional.

Menurut Kepala Madrasah Nurul Jadid Assallangnge Bua, Hj. Hasniawati, S.Pd., menjadi seorang santri tidak hanya berkaitan dengan proses menuntut ilmu, tetapi juga membangun karakter dan kepribadian yang baik. Lima karakter utama menjadi nilai penting yang diharapkan tumbuh dalam diri setiap santri.
Lima karakter tersebut meliputi Magetteng atau disiplin, Malempu’ atau jujur, Sipammase-mase Padanna Rupa Tau Nennia Wanuanna atau kasih sayang kepada manusia dan lingkungannya, Reso Temmangingngi atau tekun, serta Na Ewai Alena atau mandiri.
Dijelaskan Hasniawati, karakter Magetteng atau disiplin mengajarkan santri untuk menghargai waktu, menaati aturan, dan menjalankan tanggung jawab dengan tertib. Sementara Malempu’ atau jujur menjadi landasan dalam membangun kepercayaan. Santri diharapkan mampu membiasakan diri berkata dan bertindak sesuai dengan kebenaran.
Karakter berikutnya, Sipammase-mase Padanna Rupa Tau Nennia Wanuanna, mengandung nilai kasih sayang terhadap manusia dan lingkungan. Nilai tersebut mendorong santri untuk peduli kepada sesama, saling membantu, serta menjaga lingkungan.
Selanjutnya, Reso Temmangingngi atau tekun menekankan pentingnya semangat dan kegigihan dalam menghadapi berbagai tantangan. Santri diharapkan tidak mudah menyerah dalam proses belajar maupun menjalankan tanggung jawab.
Adapun karakter terakhir adalah Na Ewai Alena atau mandiri, yang mengajarkan santri untuk mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak selalu bergantung kepada orang lain.

“Kelima karakter tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk santri yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kepribadian yang kuat, bertanggung jawab, peduli, dan mampu memberikan manfaat bagi manusia serta lingkungannya,” jelas Hasniawati.
Semangat perlombaan menjadi momentum untuk menanamkan sikap kebersamaan, tanggung jawab, disiplin, sportivitas, kerja sama, keberanian, dan saling menghargai. Dengan demikian, kegiatan 17-an tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan karakter bagi para santri.
Hasniawati mengatakan pada acara puncak, para santri bersama seluruh pihak pondok yang terlibat larut dalam suasana penuh kegembiraan. Peserta saling memberikan dukungan dan menunjukkan semangat dalam mengikuti setiap perlombaan.
Keseruan semakin terasa karena permainan tradisional mampu menghadirkan hiburan sederhana namun sarat kebersamaan. Para santri dapat berinteraksi dan bermain bersama tanpa terlalu bergantung pada teknologi, sehingga tercipta suasana yang akrab, kompak, dan penuh kekeluargaan.
Masih menurut Hasniawati, kegiatan lomba juga menjadi upaya untuk memperkenalkan kembali permainan rakyat kepada generasi muda sekaligus menjaga keberadaan permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
Melalui kegiatan tersebut, Pondok Pesantren Nurul Jadid Assallangge Bua berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan lebih meriah dan melibatkan lebih banyak pihak. Permainan tradisional diharapkan tidak hanya hadir sebagai perlombaan saat perayaan 17 Agustus, tetapi juga tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi muda.
Lebih dari sekadar merayakan kemerdekaan, kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bagi para santri bahwa kemerdekaan perlu diisi dengan aktivitas positif, membangun karakter, mempererat persaudaraan, serta mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan di pondok pesantren. (putri)

