PALOPO–Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Palopo belum sepenuhnya dinikmati pelajar mulai tingkat PAUD/TK hingga SMA/SMK. Baru dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang beroperasi di Kota Palopo. Salah satunya SPPG Balandai, Kecamatan Bara. SPPG Balandai dinaungi Yayasan Anak Indonesia Cerdas.

Kepala SPPG Balandai, Syahrani Dwi, menjelaskan, dapur MBG yang dikelola pihaknya melibatkan 47 relawan yang terbagi dalam lima divisi, yakni persiapan, pengolahan, pemorsian dan pengemasan, distribusi, dan administrasi/logistik.

“Divisi yang paling awal mulai bekerja itu bagian persiapan, karena mereka mulai sore untuk terima bahan, mencuci, dan memotong bahan. Kalau tim utama yang masak mulai datang jam dua belas malam untuk bersih-bersih bahan, lalu memasak sampai jam delapan atau sembilan pagi,” ujar Syahrani, Jumat (7/11/2025).

“Artinya, sebagian besar relawan tidak tidur di malam hari. Mereka bekerja dengan sistem shift agar produksi berjalan terus. Kami ada staf yang stand by 24 jam di sini, memantau setiap proses. Semua relawan sudah dibekali pengarahan soal SOP dapur,” lanjut Syahrani.

Setiap hari, dapur MBG Balandai memproduksi sekitar 3.375 porsi makanan untuk delapan sekolah penerima manfaat. Masing-masing menu disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak di tiap jenjang pendidikan. “Kalau TK sampai SD kelas tiga, biayanya Rp8.000 per porsi. Kelas empat sampai SMA Rp10.000 per porsi,” ujar Syahrani.

Dalam sehari, mereka mengolah 230 kilogram beras, ratusan butir telur, dan puluhan kilogram ayam segar. “Kalau ayam dan telur dari kami ambil dari peternak lokal, dan beras dari supplier tetap,” jelasnya.

Menurut Syahrani, relawan kerap menerima surat-surat kecil dari siswa penerima makanan bergizi. “Sering anak-anak kirim surat. Ada yang minta menu sate, mie ayam, spaghetti. Banyak juga yang kirim ucapan terima kasih dan doa untuk relawan,” ujarnya tersenyum.

Surat-surat itu biasanya datang dari siswa SMP dan MAN, sementara anak SD lebih jarang menulis. “Biasanya SMP 8, MAN, atau SMK Pelayaran. Mereka tulis nama sekolah di kertasnya,” tambahnya.

Selain memperhatikan masukan dari siswa, tim ahli gizi juga membuat daftar 10 menu bergilir setiap sepuluh hari. “Jadi minggu ini menunya beda dengan minggu depan. Kalau ada request dari anak-anak, kami tampung untuk siklus berikutnya,” terang Syahrani.

JAGA KUALITAS

Syahrani menegaskan, kualitas dan kebersihan makanan menjadi prioritas utama. “Kami jaga betul prosesnya, dari bahan mentah, pencucian, sampai pengemasan. Semua dipantau sesuai SOP,” katanya.

Untuk saat ini, SPPG Bara belum bisa melayani seluruh sekolah, termasuk SLB yang berada di wilayah kecamatan tersebut. “SLB itu sebenarnya dekat, tapi kapasitas dapur kami masih terbatas. Nanti kalau ada SPPG baru, mereka akan dilayani dari sana,” ujar Syahrani.

Ia menambahkan, SPPG juga tengah mengusulkan perluasan layanan ke sejumlah keluarga rentan gizi bekerja sama dengan BKKBNN dan kader lapangan. “Kalau nanti layanan itu disetujui, setiap kader akan mendistribusikan makanan ke tempat dan mendapat insentif sesuai juknis,” katanya.

Nah, bagi para relawan dan puluhan pekerja dapur lainnya, program MBG bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi tentang kontribusi bagi masa depan anak-anak di Palopo. “Anak-anak senang, uang jajannya bisa ditabung, dan kami juga punya pekerjaan yang bermanfaat,” ujar Maryam.

Syahrani berharap dukungan untuk program MBG terus berlanjut agar semakin banyak anak di Palopo menikmati makanan bergizi setiap hari. “Dengan gizi yang baik, anak-anak bisa tumbuh sehat dan berprestasi. Itu tujuan utama kami,” ujarnya. (nada)