PALOPO–Publik menaruh perhatian serius terhadap tiga kasus kematian misterius yang terjadi di Sulawesi Selatan, dalam dua hari terakhir ini. Tiga kasus kematian tersebut, kasus kematian gadis berinisial KSR, seorang wanita cantik asal Kabupaten Toraja Utara, paling menyita perhatian publik. Sebab, gadis malang ini ditemukan sudah dalam kondisi membusuk dalam kamar kosnya.

Kasus kematian misterius kedua terjadi di Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo. Kasus ini korbannya seorang pelajar asal Luwu bernama Muh Algi Aprisal. Oleh keluarganya, Algi sempat dilaporkan hilang. Namun beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis sore, 14 Mei 2026,
Algi ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di Jalan Sepakat, Desa Batu, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo.

Selanjutnya, kasus kematian misterius lainnya terjadi di Kota Palopo, tepatnya di Kelurahan Salubulo, Kecamatan Wara. Dalam kasus ini, seorang pria lanjut usia ditemukan meninggal di kawasan Bukit Salubulo, di belakang Perumahan Libukang Permai, Kamis sore, 14 Mei 2026. Kondisi mayat korban sangat mengenaskan karena sudah membusuk.

1.Gadis KSR Ditemukan Membusuk dalam Kamar Kos di Makassar

Akhir hidup gadis KSR sangat tragis. Mayatnya dalam kondisi membusuk ditemukan dalam kamar kosnya di Jalan Tidung Mariolo, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Rabu pagi lalu, 13 Mei 2026. Korban ditemukan sekitar pukul 08.30 WITA setelah penghuni kos mencium bau menyengat dari lantai dua bangunan kos tersebut.

Awalnya, bau tidak sedap pertama kali dicium seorang penghuni kos berinisial RK (38). Ia kemudian melaporkan hal tersebut kepada anak pemilik kos yang sedang membersihkan area sekitar.

Untuk memastikan sumber bau, anak pemilik kos naik ke lantai dua menggunakan tangga dan mengintip melalui bagian plafon kamar. Dari celah tersebut, ia melihat kaki korban tergeletak di dalam kamar. Setelah pintu kamar dibuka, korban ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa.


Almarhumah KSR semasa hidupnya. (ft/ist/internet)

Saat ditemukan, korban berada dalam posisi terlentang dengan wajah tertutup bantal. Korban mengenakan daster berwarna ungu. Di bagian paha ditemukan bercak darah yang telah mengering, sementara kondisi tubuh sudah membengkak dan dikerubungi lalat. Penemuan itu kemudian dilaporkan kepada Ketua RT setempat dan diteruskan ke pihak kepolisian dari Polsek Rappocini yang segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Diketahui, KSR telah tinggal di rumah kos tersebut selama kurang lebih satu tahun. Korban merupakan alumni salah satu perguruan tinggi di Makassar dan telah diwisuda tahun lalu. Sehari-hari, ia bekerja di sebuah studio foto di kawasan Hertasning.

Sejumlah penghuni kos menyebut korban dikenal sebagai pribadi yang sehat, bersih, dan tidak pernah mengeluhkan sakit. Korban terakhir kali terlihat pada Minggu (10/5/2026) saat beraktivitas seperti biasa. “Korban biasa pergi dan pulang kerja menggunakan ojek online,” ujar salah seorang penghuni kos.

Selain itu, penghuni kos juga mengaku pernah melihat seorang pria yang diduga pacar korban datang sekitar sebulan lalu menggunakan sepeda motor NMAX merah. Hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti kematian korban. Kapolsek Rappocini Kompol Ismail mengatakan kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan jenazah korban sementara menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.

2. Sempat Dilaporkan Hilang, Pelajar Asal Luwu Ditemukan Tewas dengan Sejumlah Luka di Wajo

Seorang pelajar asal Luwu bernama Muh Algi Aprisal dilaporkan hilang oleh keluarganya. Namun, beberapa hari kemudian, keluarga korban di Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Luwu, menerima kabar duka. Pelajar berusia 18 tahun ini ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Jenazah Algi ditemukan di Jalan Sepakat, Desa Batu, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, hari Kamis (14/5/2026), sekitar pukul 15.30 WITA. Sesuai identitas yang ditemukan di saku celana korban, korban diketahui bernama Muh. Algi Aprisal.

Kapolsek Urban Pitumpanua, AKP Andi Suhidin, membenarkan penemuan mayat pelajar asal Luwu itu. “Kami menerima laporan adanya penemuan mayat di wilayah Desa Batu. Setelah dilakukan pengecekan identitas, korban diketahui merupakan seorang pelajar asal Kabupaten Luwu,” ujar Kapolsek Urban Pitumpanua, AKP Andi Suhidin.

Seorang pelajar asal Luwu bernama Muh Algi Aprisal dilaporkan hilang oleh keluarganya. Namun, beberapa hari kemudian, keluarga korban di Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Luwu, menerima kabar duka. Pelajar berusia 18 tahun ini ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Korban pertama kali ditemukan oleh warga yang akan pergi ke kebun. Dalam perjalanan, Saksi mencium bau busuk dan kemudian menelusuri sumber bau tersebut hingga menemukan korban dalam keadaan yang tidak bernyawa. “Atas penemuan tersebut, saksi kemudian melaporkan kepada aparat desa dan diteruskan ke Polsek Perkotaan Pitumpanua,” jelas Kapolsek.

Dari hasil pemeriksaan awal di lokasi, ditemukan luka retak pada bagian tengkorak kepala korban serta patah pada tulang kaki sebelah kanan. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa sepasang sandal yang ditemukan di sekitar TKP.

Selanjutnya korban dievakuasi ke RSUD Siwa guna dilakukan visum et repertum (VER) untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. Polisi juga masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait peristiwa tersebut. “Hingga saat ini kami masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian korban,” katanya.

3. Pria Lansia Ditemukan Meninggal Dunia di Salubulo, Mayatnya Sudah Membusuk

Seorang pria lanjut usia ditemukan meninggal dunia di Kelurahan Salubulo, tepatnya di kawasan Bukit Salubulo, di belakang Perumahan Libukang Permai, Kamis sore, 14 Mei 2026. Kondisi mayat korban sangat mengenaskan karena sudah membusuk.

Mayat pria malang ini pertama kali ditemukan warga bernama Ara. Saat itu, Ara sedang menuju kawasan perbukitan untuk memindahkan sapi peliharaannya. Namun setibanya di lokasi, ia melihat sesosok tubuh manusia tergeletak diantara semak-semak.

Karena curiga, saksi kemudian mendekat dan mendapati jasad seorang pria lanjut usia dalam kondisi sulit dikenali. Wajah korban rusak akibat proses pembusukan, sementara sebagian tubuhnya telah menjadi tulang. Korban diketahui masih mengenakan kaos berwarna hijau.


Jenazah korban dievakuasi dari Bukit Salubulo

Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Ketua RT setempat dan diteruskan kepada pihak kepolisian. Aparat dari Polsek Wara Utara bersama Bhabinkamtibmas Kelurahan Salobulo segera mendatangi lokasi untuk melakukan pengamanan dan memasang garis polisi di sekitar tempat kejadian perkara.

Kabar penemuan mayat itu dengan cepat menyebar dan mengundang perhatian warga sekitar. Di lokasi kejadian, seorang perempuan bernama Hanafiah tampak histeris setelah mengenali pakaian yang dikenakan korban sebagai milik suaminya.

Beberapa anggota keluarga lainnya kemudian datang dan memastikan bahwa jasad tersebut adalah Septa (81), warga Kota Palopo yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak 4 Mei 2026.

Kasi Humas Polres Palopo, AKP Marsuki, menjelaskan bahwa korban selama ini diketahui mengalami gangguan daya ingat serta penurunan pendengaran sehingga keluarga kesulitan menemukan keberadaannya setelah dinyatakan hilang. “Korban memang sebelumnya dilaporkan hilang oleh pihak keluarga. Dari keterangan keluarga, korban mengalami gangguan ingatan dan pendengarannya juga sudah terganggu,” ujar AKP Marsuki. (***)