PALOPO–Di tengah harga bahan pokok yang kerap naik turun, pemilik usaha sambal rumahan “Jenk Elly” justru memilih tidak menaikkan harga jual produknya.

Ya, di era serba instan, sambal buatan Erlina Sigallang itu tetap bertahan 9 tahun tanpa setetes pengawet. Racikan rumahan beralamat di Jalan Sungai Rongkong, Kelurahan Salobulo, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan ini tak hanya setia jadi teman makan warga Palopo, tapi juga diburu pelanggan dari luar daerah hingga luar negeri sejak 2017.

Erlina Sigallang, atau akrab disapa Jenk Elly, memulai usaha ini dari dapur rumah dengan modal Rp300 ribu. Ia menuturkan bahwa awalnya hanya membuat beberapa botol. Namun keluarga dan kerabat justru nagih dan memesan bertoples-toples.

Ia menambahkan, lama-kelamaan sambalnya dibawa pelanggan ke luar kota bahkan ke luar negeri. Kini, sambal Jenk Elly menjadi pilihan para pelaut, jemaah haji, dan umrah untuk bekal perjalanan.

Saat ini, Jenk Elly rutin mengolah 30 hingga 40 kg cabai segar setiap pekan, menyesuaikan permintaan pasar. Sambal Jenk Elly memiliki 6 varian andalan, yaitu sambal ayam suwir, ikan tuna, cumi, ikan teri, terasi, dan sambal rica-rica. Seluruh varian dimasak dadakan tanpa bahan pengawet.

Elly mengaku enggan menggunakan bahan yang aneh-aneh. Ia menyebut hanya memakai cabai, bawang, terasi, garam, dan minyak. Prosesnya digoreng, lalu dibotolkan jika sudah dingin.

Karena tidak memakai pengawet, Elly mengatakan memiliki trik khusus agar sambalnya awet. Ia menjelaskan bahwa sambal dimasak cukup lama. Hasilnya, sambal bisa tahan 2 minggu di suhu ruang dan berbulan-bulan di lemari pendingin.

Menurutnya, hal itu yang membuat pelanggan percaya karena rasanya juga tidak pernah berubah sejak 2017.

Terkait tantangan usaha, Elly mengungkapkan bahwa kendala terbesar adalah saat harga cabai, kemasan, dan bahan baku lain melonjak naik. Meski begitu, ia memilih menipiskan untung dan tidak menaikkan harga sambal.

Ia beralasan, jika rasa dan harga diubah, pelanggan bisa kecewa dan beralih. Ia menegaskan bahwa harga jualnya tetap sama sejak awal buka, yakni mulai Rp25 ribu hingga Rp35 ribu.

Konsistensi harga dan rasa itu yang membuat pelanggan betah. Dari awalnya hanya dijual ke tetangga dan warung, kini pesanan rutin datang dari Makassar, Masamba, Morowali, hingga Luwu Timur.

Mengenai target ke depan, Elly berharap sambalnya bisa masuk etalase ritel modern di dalam maupun luar Palopo. Ia menyebut saat ini produknya sudah mengantongi izin PIRT dan label halal. “Saya berharap ada dukungan dan bantuan dari pemerintah terkait pemasaran. Sambal saya ini
merupakan sambal kemasan pertama yang ada di Palopo,” katanya.

Selain menjual sambal, owner yang akrab disapa Jenk Elly ini juga merambah bisnis kue kering. Ia memproduksi kue choco pie seharga Rp35 ribu per kemasan dan lidah kucing Rp40 ribu. “Ada harga spesial bagi yang berminat bergabung menjadi reseller,” ujar Jenk Elly.

Penjualan juga aktif melalui media sosial seperti WhatsApp, TikTok, Facebook, dan Instagram.Bagi yang berminat, pemesanan bisa dilakukan melalui kontak +62 877-9669-9723 atau mengunjungi Facebook Sambal Jenk Elly. (nada)