21 ABK Asal Sulsel Terombang-ambing di Laut Timor Leste Sejak 16 Maret, Bakamla Langsung “OTW”

531
Amir Hamzah Ranta ABK asal Jeneponto yang terkatung-katung di Perairan Timor Leste. (Foto: screenshot video/rakyatku.com)
ADVERTISEMENT

JAKARTA–Nasib malang yang menimpa 21 anak buah kapal (ABK) Kapal Motor Tanker (MT) Ocean Star yang terkatung-katung selama tiga bulan lebih di perairan Timor Leste tak lama lagi berakhir.

Pasalnya, Badan Keamanan Laut (Bakamla) dikabarkan segera “on the way” mengirimkan armada untuk mengevakuasi mereka.

ADVERTISEMENT

Dalam keterangan resmi Bakamla, dikutip dari Antara, 21 ABK yang seluruhnya berkewarganegaraan Indonesia (WNI) itu terombang-ambing selama hampir empat bulan lamanya di atas Kapal MT Ocean Star.

Kabar itu menjadi viral usai salah satu ABK MT Ocean Star mengunggah video permintaan pertolongan di media sosial baru-baru ini. Dalam video tersebut, ABK meminta bantuan sesegera mungkin karena kondisi kapal dan ABK memprihatinkan saat ini.

Berdasarkan keterangan ABK dalam videonya, kapal tiba di Dili 3 April silam untuk mendukung kegiatan operasional minyak dan gas (migas) di Timor Leste.

Kapal dengan status disewakan dua perusahaan saat ini mengalami mati mesin dan mati listrik. Hanya genset penerangan saja yang dapat dinyalakan, karena status bahan bakar minyak sudah 0 persen.

Hal itu menyebabkan pompa tidak dapat berfungsi untuk menanggulangi kebocoran yang terjadi di salah satu ruangan.

Dalam kondisi kapal yang hampir tenggelam, ABK kapal mengunggah video dengan maksud memohon pertolongan. Karena kedua perusahaan yang terkait atas penugasan kapal itu juga tidak memberi respons.

Mengetahui informasi tersebut, Bakamla melakukan pelacakan posisi kapal dan kondisi di sekitar kejadian melalui Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) Bakamla.

Direktorat Operasi Laut juga melaksanakan koordinasi dengan Kemenlu dan Athan Timor Leste, dan berhasil memastikan keberadaan dan kondisi kapal beserta ABK

video courtesy: Metro TV

Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Aan Kurnia pun memerintahkan Direktur Operasi Laut Bakamla RI Laksma Bakamla Suwito untuk menggelar evakuasi.

Bakamla mengaku siap menggerakkan KN Ular Laut-405 yang saat ini berada di Tual, dan KN Kuda Laut-403 berada di Ambon, untuk menyelamatkan para ABK yang diketahui berada di perairan Timor Leste itu.

“Bakamla terus berkoordinasi dengan Bagian Asia Selatan dan Tenggara (Aselteng) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dan pihak Kemenlu akan memberikan informasi kepada Bakamla jika ada perkembangan lebih lanjut guna menggerakkan unsur Bakamla,” kata Laksma Bakamla Suwito, dalam keterangan resmi.

Bakamla terus memantau proses penanganan yang dibutuhkan, berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan pihak-pihak terkait.

Pihak yang terlibat dalam penyelamatan MT Ocean Star, di antaranya KBRI Dili Timor Leste, KSOP Kupang, Ditpolairud Polda NTT, Polairud Atapupu Kabupaten Belu, Pos AL Atapupu Belu, dan SROP Kupang.

ABK asal Luwu, Alam Prasetiawan, adalah warga Desa Olang Ponrang, alumni SMAN 2 Ponrang Kab. Luwu. (Foto: Facebook)

Cerita ABK Viral di Sosmed 

Seperti ramai diberitakan, puluhan ABK MT Ocean Star di bawah PT Niaga Sipping Internasional tengah telantar di perairan Timor Leste. Seluruhnya dari Sulsel.

Salah satu ABK bernama Amir Hamzah mengutip Rakyatku.com mengatakan, di kapal tersebut ada sekitar 20 ABK. Mereka berangkat dari Batam pada 8 Februari 2021 lalu.

“Tanggal 10 Maret, saya diantar ke kapal yang letaknya di Tanjung Uban, Batam, tanggal 8 Maret kami bertolak dari Tanjung Uban menuju Wini, NTT, dan tiba pada 16 Maret 2021,” kata Amir Hamzah yang merupakan warga Parrasangan Beru, Kecamatan Turatea, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Kamis (17/6/2021).

Namun, kata dia, selang beberapa hari di Wini, kapal diberangkatkan ke Dili Timor Leste dan tiba pada 2 April.

“Sesampainya kami tiba di Timor Leste kapal kami tidak pernah dioperasikan oleh pihak pencarter di Timor Leste. Adapun keluhan kami di kapal, pertama gaji kami sudah berjalan empat bulan tidak dibayar,” terangnya.

Selain itu, suplai bahan bakar dan air tawar beserta makanan terakhir pada 11 Mei. Dan dikasih tanggal 1 Juni semua sudah habis. Sampai saat sekarang ini kami tidak disuplai lagi bahan makanan dan lainnya,” akunya.

“Adapun yang membantu kami, yaitu dari pihak KBRI. Itupun makanan seadanya dan tidak ada air tawar, yang ada hanya air botol kemasan untuk minum saja,” sebutnya.

Dia menambahkan, air yang dipakai memasak hanya mengandalkan air hujan. Dia pun berharap perhatian pemerintah Indonesia agar dapat pulang ke kampung halaman.

“Untuk memasak kami menunggu air hujan baru kami tadah. Itulah yang kami pakai untuk memasak di kapal itupun kalau hujan turun. Kami juga berharap di sini perhatian pemerintah Indonesia agar dapat memulangkan kami ke kampung halaman. Beserta hak-hak kami yang selama kurang lebih empat bulan itu dipenuhi,” harapnya.

Muhlis Tahrim, ABK asal Bajo Kabupaten Luwu yang terlantar bersama 20 rekannya di MT Ocean Star di perairan Timor. (Foto: Facebook)

Berikut nama-nama ABK asal Sulsel yang telantar di Perairan Timor Leste:

Herman (Sinjai), Ariyanto (Bulukumba), Zulpadli (Parepare), Jamaluddin L (Pinrang),
Iwan (Pinrang), Wahyudi (Parepare), Amir Hamzah Ranta (Jeneponto), Baharuddin (Batam), Ayun Suary (Makassar), Hirwandi (Bone).

Farhan (Maros), Muh Nurdin (Gowa), Suardi R (Gowa), Muh Rusli (Makassar), Muliadi Ruddin (Enrekang), Jamaluddin (Sinjai), Samiruddin (Makassar), Muhlis Tahrim (Luwu), Adi Faisal (Bulukumba) dan Alam Prasetiawan (Luwu).

(*)

ADVERTISEMENT