MAKASSAR — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Partai Amanat Nasional (PAN), Hj. Asni, S.Pi angkat bicara terkait konflik antar kelompok mahasiswa yang terjadi di Makassar dan melibatkan mahasiswa asal Luwu Raya.
Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) XI Sulsel, Hj. Asni menyampaikan keprihatinannya atas bentrokan tersebut. Ia menyesalkan kejadian yang berpotensi mencoreng dunia akademik dan menciptakan ketegangan sosial berbasis kesukuan.
“Sebagai anggota dewan dari Dapil Luwu, saya tentu sangat prihatin dan menyayangkan terjadinya konflik antara mahasiswa asal Makassar dan Luwu Raya. Saya minta kepada seluruh mahasiswa agar bisa menahan diri dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu benar,” kata Hj. Asni, Senin (28/7/2025).
Ia menekankan bahwa mahasiswa adalah aset bangsa yang memiliki peran penting sebagai generasi penerus dan intelektual masa depan. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk menyikapi situasi dengan kepala dingin.
“Kita semua harus sadar bahwa mahasiswa ini adalah intelektual bangsa. Jangan sampai karena ulah segelintir oknum, kita terjebak dalam konflik horizontal yang bisa memecah belah persatuan,” tegasnya.
Hj. Asni juga mendesak pihak kepolisian untuk segera mengambil langkah tegas dan terukur dalam menangani kasus ini. Ia mengusulkan agar aparat keamanan memfasilitasi proses mediasi dan dialog antara kedua belah pihak agar penyelesaian bisa tercapai secara transparan.
“Kepolisian harus bergerak cepat menyelesaikan masalah ini dengan mengedepankan pendekatan persuasif, mediasi, dan membuka ruang dialog. Jangan sampai masyarakat mendapatkan informasi yang tidak utuh atau sepihak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hj. Asni mewanti-wanti agar konflik yang membawa nama suku harus segera dihentikan. Ia mengingatkan bahwa hal tersebut dapat berdampak luas pada masyarakat dan merusak kerukunan antarsuku dan budaya yang selama ini telah terjalin harmonis.
“Ini bukan sekadar konflik antar mahasiswa, tapi sudah membawa nama suku. Ini sangat berbahaya. Kita tidak ingin konflik oknum ini berubah menjadi konflik sosial yang lebih luas. Mari kita jaga kerukunan dan keutuhan kita sebagai bangsa yang beragam,” tutupnya. (*)

