Isu Radikalisme-Intoleran Mencuat Jelang Natal, PMII Palopo dan Komunitas Simpul Peradaban Gelar Diskusi

165

Palopo – Isu radikalisme dan intoleransi yang marak akhir-akhir ini tampaknya menjadi perhatian kalangan mahasiswa di Palopo.

Ini tampak dari antusiasme ratusan mahasiswa yang mengikuti diskusi akhir tahun dengan tema “Polemik Agama terhadap Negara sebagai Embrio Radikalisme, Betulkah?” yang digelar oleh Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Palopo bekerjasama dengan Komunitas Simpul Peradaban Kota Palopo, di Solata Cafe Jalan Mungkasa Kelurahan Salekoe Kecamatan Wara Timur Kota Palopo pada Senin malam (23/12/2019).

Dengan menghadirkan tiga narasumber yang menjadi pakar di bidangnya yaitu Dr Sabara Nuruddin (Peneliti di Balitbang Agama Makassar/Dosen Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar), Aslan Abidin (Pendiri Institut Sastra Makassar/Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar/Budayawan) dan Dr Muh Zuhri Abu Nawas Lc MA (Direktur Pascasarjana IAIN Palopo), diskusi berlangsung sangat menarik.

Dr Muh Zuhri Abu Nawas Lc MA yang juga Direktur Pascasarjana IAIN Palopo mengawali diskusi dengan menceritakan kisah jaman Nabi dimana ada kelompok yang berlebih-lebihan dalam beragama. “Berhati-hatilah terhadap kelompok yang suka berlebih-lebihan (Al Ghuluw), ini merupakan ciri-ciri kelompok radikal,” ungkap alumnus Al Azhar Mesir yang juga disapa Ust Zuhri ini.

“Nabi sudah memberikan tanda-tanda adanya orang yang sudah melebihi batas-batas agama. Yang jelas, Orang-orang yang salah memahami agama akan lebih mudah berbuat radikal,” tegasnya.

Sementara itu, Dr Sabara Nuruddin menyoroti sasaran radikalisme ada 3 yaitu negara, pluralitas/kebhinekaan dan kebudayaan. “Dalam konteks negara, jargon-jargon agama dibawa untuk menggugat negara, pluralitas dan kebudayaan,” jelasnya. Peneliti Balitbang Agama Makassar ini mengungkapkan bahwa apabila kekuatan kedua pihak seimbang, maka yang terjadi adalah perang. Apabila kekuatan tidak seimbang, maka yang terjadi adalah teror.

“Dalam konteks Indonesia, mempertentangkan agama dengan negara adalah bibit radikalisme, radikalisme merupakan satu langkah lebih dekat dengan terorisme,” paparnya. “Untuk itu, negara berkepentingan mematikan bibit-bibit radikalisme,” tegasnya kembali.

Sebagai narasumber terakhir, Budayawan Aslan Abidin memandang persoalan ini dari kacamata sastra dan budaya. “Literasi di Indonesia berada di urutan ke 74,” bukanya. “Berdasarkan salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa negara yang banyak mempelajari agama, akan cenderung ketertinggalan dalam bidang sains. Begitu pula sebaliknya,” paparnya lebih lanjut.

Pendiri Institut Sastra Makassar juga menegaskan bahwa Orang-orang yang terlalu teosentris akan menimbulkan tindakan pelainan terhadap orang lain. “Saat ini kita sedang berada pada situasi intoleransi yang mengerikan,” kuncinya.

Diskusi akhir tahun ini bertujuan untuk mengkaji ulang makna Radikalisme dan intoleransi untuk mencegah polemik dalam berbangsa, bernegara, dan beragama. (*/Iys)