Sejarah HPRL, Dipicu Kasus Bernuansa SARA, Tokoh Adat dan Agama Bersatupadu Angkat Senjata Usir Penjajah (Bag. 2-Selesai)

407

Malampun semakin makin  larut. Kota Palopo dalam suasana sangat mencekam, angin seolah enggan berembus hanya suara jangrik dan binatang malam lainnya samar terdengar. Wajah-wajah nampak cemas menanti kedatangan pasukan Lasussua.

Dan akhirnya penantian itu berujung saat seorang muncul dengan membawa kabar bahwa pasukan Lasussua telah tiba. Pasukan dari arah tenggara wilayah kedatuan Luwu akhirnya muncul dan masuk ke istana Datu Luwu disambut dengan senyum rindu dan salam merdeka oleh Datu Luwu Andi Djemma. Sembari merangkul satu-satu pejuang Lasussua, Andi Djemma menjamu mereka dengan makan malam karna kelelahan berlayar dan didera rasa lapar.

Setelah rehat, pasukan dari Tenggara itu koordinasi dengan pimpinan pasukan yang ada di Kota Palopo yang sudah mempersiapkan serangan. waktu terus berjalan, dan waktu yang tertuang dalam ultimatum berakhir bersamaan dengan ucapan Andi Tenripadang (permaisuri muda Andi Djemma) yang berkata ’’Saya dan Datu kalian sudah ingin mendengar suara letusan senjata”…………………………………………….(pada bagian 1)

UCAPAN tersebut menjadi tanda serangan 23 Januari segera dimulai dengan letusan senjata dari Yusuf yang setia di depan istana, kemudian disusul dengan pemuda pejuang yang bergerak dengan semangat yang berkobar-kobar. Para pejuang melakukan patroli mencari tentara NICA yang berkeliaran, termasuk penghianat ditembak mati.

Dini hari, tepat pukul 03.00 Wita pagi, tanggal 23 Januari 1946, mendadak patroli pasukan Lasussua pimpinan M. Badewi dan M. Yusuf Setia bertemu pasukan tentara KNIL yang kedapatan berkeliaran di dekat Rumah Sakit Umum (RS Sawerigading). Tembak menembak pun terjadi. Pasukan Andi Tenriadjeng yang juga sudah berjaga sekitar Rumah Sakit Umum memperkuat serangan, hingga pukul 06.30 pagi hampir seluruh Kota Palopo dikuasai pemuda. Pasukan sekutu/Australia yang diam-diam membantu NICA/KNIL tidak bisa berbuat apa-apa.

Pasukan KNIL terdesak mundur sebagian dari mereka lari tungganglanggang ke pinggiran kota Palopo, tepatnya di pinggiran  kaki  gunung  Patte’ne -jalan menuju  ke Tana Toraja.

Hingga tanggal 24 Januari 1946, kota Palopo hampir sepenuhnya dikuasai pemuda dan rakyat pejuang, selain sasaran serangan diarahkan ke tentara KNIL/NICA, tak luput pula dari target Pemuda adalah para penghianat kepada bangsa ini.

Melihat kondisi Kota Palopo yang belum kondusif, atas keinginan Datu Luwu sendiri, maka Pemuda Pejuang bersama Rakyat Luwu mempersiapkan pengungsian Pappoatae Datu Luwu Andi Djemma ke hutan belantara dan diputuskan bahwa dimana Datu berada maka disitulah pusat komando gerilya. Dari Palopo rombongan datu hijrah ke Cappasolo (Malangke)

BACA JUGA: Sejarah Asal Usul HPRL, Diawali Kasus SARA, Kitab Suci Al Quran Dirobek-robek Penjajah (Bag. 1) 

Pada 25 Januari pagi, sebuah kapal mendekati pelabuhan Palopo dengan berpura-pura mengibarkan Bendera Merah Putih. Banyak Pemuda Pejuang yang terkecoh dibuatnya, namun suasana tiba-tiba berubah manakala tentara tentara yang tadinya dianggap bantuan pihak Indonesia ternyata NICA, dengan menyerang pasukan yang menyambut kedatangan kapal itu dari dekat.

Kekuatan pihak Belanda makin bertambah. Tembakan meriam yang dimuntahkan dari kapal itu menyasar sejumlah fasilitas umum dan rumah-rumah masyarakat kota Palopo. Suara jerit tangis terdengar disana-sini, banyak warga kota Palopo yang menjadi korban. Kota Palopo benar-benar luluhlantak terbakar. Chaos!

Pemuda  Pejuang  dipukul  mundur  kemudian  bergerilya  di luar  kota dan menciptakan sesering mungkin serangan. Guna mengalihkan perhatian musuh untuk menelusuri jejak pengungsian Datu Andi Djemma, sehingga rombongan Datu tiba dengan selamat di Latou dekat benteng batu putih (Kolaka utara, Sulawesi Tenggara).

Tanggal   28   Februari   1946, dilakukan   rapat   penggabungan   pasukan. Andi Tenriadjeng berposisi sebagai komando barisan bersenjata/penerjang. Keberadaanya selama di daerah wilayah Kedatuan Luwu bagian tenggara itu beliau sering terlibat beberapa kali pertempuran diantaranya Lelewawo dan Pakue. Namun diluar dugaan, Pemuda Pejuang yang berposisi di bibir benteng, ternyata pasukan KNIL pimpinan Letnan Veenick dari Kendari nekat menerobos melalui belakang benteng yang dibalut tumbuhan rotan berduri dan akhirnya bisa menembus masuk ke dalam benteng kemudian menangkap Pappoatae Datu Luwu Andi Djemma.

Peristiwa bobolnya Benteng Batu Putih yang disertai penangkapan Datu Luwu terjadi pada tanggal 3 Juni 1946 dini hari. Andi Achmad  sebagai wakil kepala staf PKR Luwu, mengirim  pesan  ke markas PKR di luar benteng melalui seorang kurir NICA, yang kesimpulan isi surat tersebut menyatakan, bahwa Baginda Datu Luwu beserta perangkat adat yang ada bersama Datu di dalam benteng tertangkap dan diharapkan kepada pasukan Merah Putih tidak menyerang masuk ke dalam benteng demi keselamatan Datu Luwu dan perangkat adat yang bersama Datu di dalam benteng.

Pasukan Merah Putih yang membaca surat tersebut merasa sangat terpukul, usaha mereka melindungi Datu Luwu mulai sejak mengungsi dari Kota Palopo ke Cappasolo (Malangke) hingga ke Latou berakhir pada uraian berita yang tersirat dalam secarik kertas. Andi Tenriadjeng memerintahkan pasukan yang berjaga di luar Benteng Batu Putih segera bergegas meninggalkan tempat dan menuju ke Toaha, tempat yang jauh lokasinya dari Benteng Batu Putih.

Pada malam  hari, Sulewatang Pitumpanua yang  juga paman Andi Tenriadjeng datang di tempat para pasukan tersebut menginap dan menyarankan mereka untuk menyerahkan diri ke markas KNIL yang ada di Kolaka dengan pertimbangan dan konsekwensi keselamatan Datu jika masih ada perlawanan yang dilakukan oleh pemuda pejuang merah putih. Maka dengan pertimbangan yang dijabarkan oleh Sulewatang Pitumpanua itu menjadi pertimbangan Andi Tenriadjeng bersama pasukan lainnya untuk menyerahkan diri. Setibanya di Kolaka, rombongan Pemoeda Pejoeang akhirnya menyerahkan diri dan pada September 1946 ada 17 (tujuh belas) tawanan dipindahkan ke Kendari, antara lain:

Andi Tenriadjeng,

Andi Kasim,

Sanusi Dg Mattata,

Andi Achmad,

Yusuf Arief,

Andi Muttakalimun,

Andi Sultani,

Rasyid,

Muhammad Jufrie Tambora,

La Guli,

Andi Hamzah Pangerang,

Lapase,

Tahrir,

Ch. Pengak,

Baso Daeng Pallewang,

A Kadir Tokia, dan Hasyim Pangerang.

Selama ditahan di Kendari, pasukan Merah Putih ini mendapatkan penderitaan yang teramat sangat. Di dalam sel tahanan yang kumuh itu, setiap orangnya hanya makan nasi segenggam disertai ikan kering. Dalam sebulan hanya 3 kali mandi. Pemuda Pejuang seringkali disiksa dalam bentuk kontak fisik yang tidak manusiawi oleh Tentara-Tentara KNIL jahanam.

Kelima orang yang dianggap punya andil besar pada peristiwa 23 Januari di Tana Luwu itu kemudian dipindahkan ke Makassar oleh Letnan J Boon dengan menggunakan helikopter. Pada tahun 1948, pengadilan militer Belanda yang berkedudukan di Makassar menjatuhi hukuman mati kepada lima orang Pemoeda Pejoeang tersebut antara lain :

– Andi Tenriadjeng

– Andi Achmad

– M. Yusuf Arief

– M. Landau dan

– M. Jufrie Tambora

Salah satu putra Andi Djemma yang lolos dari daftar hukuman mati Belanda adalah Andi Mackulau, ini dikarenakan salah satu tim eksekusi dari pihak Belanda adalah temannya saat sekolah yang kemudian mencabut daftar nama dan menghilangkannya.

Keputusan pengadilan militer Belanda itu mendapat kecaman dan reaksi keras dari kalangan pemimpin–pemimpin tinggi Republik Indonesia karena dianggap kejam dan semena-mena. Selain itu Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga turut memberi peringatan keras pada Kolonial Belanda karena dianggap telah melanggar perjanjian Linggarjati.

Kuatnya desakan pemimpin nasional dan PBB membuat Belanda menerima protes tersebut dan merubah keputusanya dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Setelah sekian kali akhirnya kelima Pemuda Pejuang tersebut dipindahkan ketahanan Cipinang Jakarta. Sejak mulai berangkat sampai dalam perjalanan kepala mereka ditutupi karung hingga tidak mengetahui mereka dibawa kemana.

Sementara itu atas gagasan dan ide Letnan Kolonel Kahar Mudzakkar yang terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap Penjajah guna menampik isu propaganda Kolonial Belanda bahwa wilayah Sulawesi bisa diatasi dan aman-aman saja.

Akhirnya pergolakan perlawanan terakhir Pemuda yang dikenal dengan Masamba Affair getarannya sampai di Konferensi Meja Bundar (KMB) The Hague (Den Haag). Akhirnya upaya memulihkan kedaulatan Bangsa Indonesia membuahkan hasil. Kolonial Belanda menyerahkan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949.

Dengan adanya penyerahan kedaulatan itu berimplikasi pada pembebasan para tawanan. Setelah bebas mereka (para Pemuda Pejuang dari Luwu, Sulawesi Selatan) baru mengetahui bahwa mereka ditahan di Cipinang dari M Amir, anak Sanusi Dg Mattata yang menjemput mereka atas perintah Letnan Kolonel Abdul Kahar Mudzakkar di Yogyakarta.

Sepak terjang para Pejuang Tana Luwu untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia mengundang komentar dari berbagai kalangan tentang betapa besar perjuangan Rakyat Luwu bersama Pemuda Pejuang di Republik Indonesia.

Sejarawan barat, seperti Williem Ijzereef dan komentar dari Alm Jendral AH Nasution yang menyatakan “ada dua perlawanan Rakyat Indonesia” yang paling besar pada penjajah pasca Proklamasi kemerdekaan. Yang pertama, perlawanan yang dikenal dengan “Arek-arek Suroboyo” pada 10 November 1945 dan “Perlawanan Rakyat Luwu pada tanggal 23 Januari 1946”.

Sehingga kesimpulannya, seandainya peristiwa 10 November 1945 tidak terjadi di Surabaya, maka peristiwa “23 Januari” di Luwu yang akan diperingati sebagai Hari Pahlawan setiap tahunnya di Indonesia. Juga Betapa besar peran perjuangan Rakyat Luwu pada Republik Indonesia,dan begitu tegas dan tulusnya pernyataan Andi Djemma yang menyatakan sikap kedatuan Luwu berdiri dibelakang prokla masi dan Tana Luwu adalah bahagian Republik Indonesia”.

Semoga catatan sejarah perjuangan para pahlawan kita tidak akan pernah terlupakan dan tetap dihargai oleh generasi yang akan datang, karena sesunguhnya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Selamat Hari Perlawanan Rakyat Luwu dan Hari Jadi Bangsa Luwu.

SELESAI

*) Penulis: Musly Anwar, Baharman Supri (Buku Andi Djemma-Datu Luwu Pahlawan Nasional)

 

(iys)