OPINI : Ramadan yang Mulia

77
Nurdin. (ist)
ADVERTISEMENT

Ramadan yang mulia
Oleh : Nurdin

TERMASUK hadis favorit da’i di bulan mulia ini adalah hadis sahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. “Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu”

Sebagai orang awam bidang ilmu agama, banyak pertanyaan yang muncul; Apakah secara fisik, benar-benar pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu ? Apakah surga dan neraka sudah ada saat ini ? Dan seterusnya.

Rupanya ulama terbagi dua kelompok besar dalam memaknai atau memahami hadis itu dalam dua pendekatan, tekstual dan kontekstual. Demikian Prof Ahmad Zahro (guru besar hukum Islam) dalam bukunya “Fiqh kontemporer” (2017: 60-63)

ADVERTISEMENT

Bahwa, ulama tekstualis memaknai ungkapan Nabi Saw. tersebut secara harfiah (leterlijk). Di mana dalam bulan Ramadan memang benar-benar pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Pemaknaan semacam ini lebih aman dari kemungkinan disalahkan karena bunyi hadisnya demikian.

Di sisi lain, ulama kontekstualis memahami makna hadis Nabi Saw. tersebut sebagai ungkapan metaforis (kiasan, majazi, tidak sesungguhnya). Pintu surga dibuka, menggambarkan betapa mudahnya orang berbuat baik dalam bulan Ramadan.

Dan betapa besar pahala kebaikan di bulan Ramadan, sehingga seakan-akan pintu surga terbuka untuk mereka. Kemudian pintu neraka menggambarkan betapa tingginya sensitivitas terhadap dosa di bulan Ramadan.

Betapa tingginya kesadaran mereka untuk menjauhi segala larangannya, sehingga seakan-akan pintu neraka tertutup untuk mereka. Baik surga maupun neraka yang ditampakkan saat Nabi Saw. mikraj hanyalah penggambaran atau ilustrasi saja.

Surga dan neraka baru ada penghuninya ketika semua manusia sudah mati dan dunia sudah kiamat serta penghitungan (hisab) dan penimbangan (mizan) amal sudah dilakukan. Demikian halnya dengan setan yang dibelenggu.

Setan adalah semua yang jahat dan selalu ingkar kepada Allah (al-Isra’: 27) baik dari jenis manusia maupun dari jenis jin. Bahwa setan dari golongan manusia tidak ada yang dibelenggu pada bulan Ramadan. Sehingga jika terjadi tindak kejahatan pada bulan Ramadan kita tidak bisa mengkambinghitamkan setan dari golongan jin sebagai penyebabnya.

Sejalan dengan itu, ada ungkapan menarik dari Imam Al-Ghazali, sebagai manusia dalam konteks kehidupan sosial, bahwa “Kita adalah makhluk yang suka menyalahkan yang ada di luar tidak menyadari bahwa masalah biasanya dari dalam”. Wallahu a’lam.
(*)

ADVERTISEMENT