OPINI: Vaksin dari Si Penunggang Kuda VS Ular

46
ADVERTISEMENT

OPINI–Salah satu langkah penting pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia adalah melakukan vaksinasi terhadap rakyat Indonesia. Pilihannya sudah ditetapkan, barangnya sudah hadir, yaitu vaksin Sinovac. MUI Pusat juga sudah memberikan fatwa dan sertifikat halal untuk vaksin made in China ini. Ditambah lagi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah memberikan izinnya. Dan vaksin ini gratis.

Seharusnya, dengan statusnya yang kuat dengan biaya yang ditanggung pemerintah, sudah dapat meyakinkan seluruh rakyat Indonesia untuk mau divaksin. Tapi, das sein, masih ada narasi buruk yang dbuat, dihembuskan terus, oleh pihak-pihak tertentu tentang vaksin Sinovac ini yang menimbulkan keragu-raguan, kecurigaan bahkan penolakan.

ADVERTISEMENT

Dalam ajaran Islam, jika sudah menyangkut urusan mashalahat hifdzunnafs, menjaga keselamatan jiwa, maka tidak ada pilihan bagi ulama dan umat Islam selain mendukung pemerintah dan turut melawan narasi buruk tersebut dengan berbagai cara. Ulama dan umat harus mendukung pemerintah untuk menjadi seperti Si Penunggang Kuda melawan ular dan racunnya dalam kisah sufi karya Salim Abdali dari Rumi (1700-1765) agar vaksinasi dapat berjalan sukses.

Dikisahkan di masa lalu, ada seorang penunggang kuda, dari suatu tempat yang aman. Dia melihat ada seekor ular menyusup ke dalam tenggorokan seseorang yang sedang tertidur. Si Penunggang kuda itu menyadari bahwa apabila orang itu dibiarkannya terus tidur, tentulah racun ular tersebut akan mematikannya.

Si Penunggang Kuda kemudian mencambuk orang yang tertidur tersebut sampai terbangun. Karena mendesaknya waktu, Si Penunggang Kuda pun memaksa orang itu pergi ketempat yang terdapat sejumlah buah apel yang busuk, dan memaksanya memakan buah-buah busuk itu. Setelah itu, Si Penunggang Kuda, memaksanya minum air sungai sebanyak-banyaknya.

Selama perbuatan itu berlangsung, orang tersebut selalu berusaha melepaskan diri dan menangis, “Apa dosaku, hai kemanusiaan, sehingga aku kau siksa begini kejam?”

Akhirnya, ketika dia hampir lemas, dan sore hari tiba, lelaki itu jatuh ke tanah dan memuntahkan buah apel, air, dan ular tadi. Ketika diketahuinya apa yang telah dimuntahkannya, dia memahami apa yang telah terjadi, dan mohon maaf kepada Si Penunggang Kuda.

Orang yang ditolong itu mengatakan kepada Si Penunggang Kuda, “Kalau tadi kau mengatakan hal itu, tentu saya terima perlakuanmu itu dengan rasa terima kasih.”

Si Penunggang Kuda menjawab, “Kalau tadi kukatakan hal itu, tentu kau tidak percaya atau kau menjadi kejang ketakutan. Atau kau lari pontang-panting. Atau malah tidur lagi.” Sambil memacu kudanya, orang yang diliputi rahasia itu, Si Penunggang Kuda, segera berlalu.

*) oleh: Rakhmad Zailani Kiki, Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL)

ADVERTISEMENT