Sejarah 23 Januari, Selain HPRL/HJTL Ada Peristiwa Pecahnya Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil di Bandung 1950

164
ADVERTISEMENT

Tanggal 23 Januari bukan saja dikenal dengan peristiwa Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) maupun Hari Jadi Tana Luwu (HJTL), tapi juga beragam peristiwa penting lainnya yang bertepatan dengan tanggal bersejarah itu.

Pada tanggal 23 Januari 1950, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh Raymond Westerling melakukan kudeta militer di kota Bandung, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

Westerling adalah Kapten KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang dengan dukungan dari Belanda dan berbagai elemen minoritas berupaya untuk menggulingkan Negara Republik Indonesia Serikat yang baru saja didirikan oleh Soekarno.

Westerling dan pasukannya masuk ke kota Bandung pada 23 Januari 1950 dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui di kota ini. Peristiwa sejarah penuh darah nan sadis ini lantas dikenang sebagai peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau APRA. Berikut cerita selengkapnya.

ADVERTISEMENT

Raymond Westerling adalah seorang anggota pasukan khusus baret hijau Kerajaan Belanda. Karier Westerling di dunia militer dimulai saat Perang Dunia II, melalui pelatihan militer tingkat komando oleh Inggris, Westerling diterjunkan di medan perang Eropa untuk berperang bersama Sekutu.

Dikutip dari P. Matanasi dalam buku berjudul Westerling: Kudeta yang Gagal, setelah Perang Dunia II usai Westerling bekerja untuk Kerajaan Belanda dan dikirim ke Medan dengan tugas untuk membebaskan tawanan Jepang di Siringgo-ringgo, setelah misi tersebut Westerling berangkat ke Jakarta untuk melatih pasukan khusus DST yang akan ditugaskan untuk kepentingan militer Belanda.

Salah satu tugas pasukan DST adalah memadamkan pemberontakan di Sulawesi Selatan. Pemadaman pemberontakan yang dilakukan oleh Westerling dan pasukan DST menggunakan cara yang sangat kejam yaitu dengan melakukan pembantaian terhadap masyarakat Sulawesi Selatan pada tanggal 11 Desember 1946 sampai 17 Februari 1947.

Setelah melakukan aksinya di Sulawesi Selatan Westerling keluar dari dinas militer Belanda, selanjutnya Westerling mendirikan pasukan lain di Jawa Barat yang dikenal dengan APRA. Tujuan dari dibentuknya pasukan APRA adalah untuk melakukan pemberontakan terhadap Republik Indonesia dan mendukung terbentuknya Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara federal Belanda.

Latar Belakang Kudeta APRA di Bandung

Westerling mendirikan organisasi rahasia dengan pengikut sekitar 500.000 orang. Hal ini lantas diketahui oleh dinas rahasia militer Belanda pada bulan November 1949. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa organisasi bentukan Westerling bernama Ratu Adil Persatuan Indonesia (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Pada 5 Desember malam, sekitar pukul 20.00 Westerling menelepon Letnan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda pada saat itu. Westerling menanyakan pendapat van Vreeden tentang rencananya untuk melakukan kudeta terhadap Sukarno. Jenderal van Vreeden adalah penanggung jawab kelancaran acara “penyerahan kedaulatan” Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949.

Van Vreeden telah memberikan peringatan agar tidak melakukan kudeta pada Indonesia, namun hanya sebatas itu saja. Van Vreeden tidak memerintahkan penangkapan atas Westerling meskipun tahu rencana kudeta Westerling.

Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang berisi ultimatum. Ia menuntut agar Pemerintah RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalam waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar.

Ancaman tersebut menimbulkan ketidaknyamanan antara RIS dan Belanda, yang telah menyepakati kedaulatan Indonesia. Menteri Dalam Negeri Belanda pada saat itu, Stikker, lantas menginstruksikan pada Hirschfeld yang adalah Nederlandse Hoge Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) untuk menindak semua pejabat sipil dan militer Belanda yang bekerja sama dengan Westerling.

Pada 10 Januari 1950, Hatta menyampaikan pada Hirschfeld bahwa pihak Indonesia telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling.

Aneka Kejadian di tanggal 23 Januari 

Pada 23 Januari 1950, dikenal sebagai Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Yakni peristiwa di mana Kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling masuk ke Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar) dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui.

Peristiwa itu merupakan salah satu dari sekian banyak peristiwa bersejarah dunia yang layak dikenang pada hari ke-23 sesuai sistem Kelender Gregorian, 23 Januari.

Berikut sejumlah peristiwa bersejarah pada 23 Januari dilansir dari Thepeoplehistory.com dan Wikipedia.org:

1579

Perjanjian Utrecht, adalah sebuah seri perjanjian yang ditandatangani pada 23 Januari 1713, membantu mengakhiri Perang Suksesi Spanyol. Dalam perjanjian ini tertulis bahwa cucu Louis XIV Philip V dari Spanyol diakui sebagai Raja Spanyol, tetapi Kerajaan Eropa Spanyol dibagi-bagi: Savoy menerima Sisilia dan sebagian Lombardia.

1900

Pertempuran antara pasukan Inggris dan pasukan Boer—orang Belanda yang tinggal di Afrika Selatan (Afsel)—meletus di Bukit Spioenkop, sebelah barat daya Ladysmith, Afsel. Pertempuran yang berlangsung selama dua hari itu berhasil dimenangi pasukan Boer yang berhasil menumpas 243 tentara Inggris dan hanya kehilangan 68 tentaranya. Salah satu pertempuran di masa Perang Boer II itu dikenang dengan sebutan Pertempuran Spioenkop.

Nani Wartabone. (Wikimedia.org)
Nani Wartabone. (Wikimedia.org)

1942

Nani Wartabone bersama sejumlah warga mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo pada 23 Januari. Peristiwa itu diwarnai dengan penurunan bendera Belanda dan pengibaran bendera Indonesia, merah-putih. Namun demikian, Jepang berhasil menguasai Gorontalo setelah tiba pada 26 Februari 1942 dan Nani Wartabone ditangkap pada 30 Desember 1943.

1942

Pasukan Jepang yang menginvasi wilayah Rabaul di Britania Baru, Papua Nugini memicu pertempuran dengan pasukan Australia hingga Februari di tahun yang sama. Pertempuran itu berhasil dimenangi Jepang yang kemudian menguasai wilayah Rabaul.

1945

Jerman mulai melaksanakan Operasi Hannibal demi mengevakuasi warga dan tentaranya dari wilayah Prusia dan Polandia melalui jalur laut pada 23 Januari. Evakuasi itu dilakukan menyusul terdesaknya pasukan Jerman di wilayah tersebut oleh pasukan Uni Soviet. Sebanyak 800.000 hingga 900.000 warga sipil Jerman dan sekitar 350.000 tentara Jerman berhasil dievakuasi dalam operasi yang berlangsung sekitar empat bulan itu.

1946

Perlawanan Rakyat Luwu dipimpin Raja Luwu Andi Djemma melawan penjajahan Belanda. Andi Djema adalah Raja (Datu) Luwu dan seorang tokoh Indonesia dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 8 November 2002.

Megawati
Ketua PDI Perjuangan Megawati (kabar24.bisnis.com)

1947

Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri lahir di Yogyakarta, Indonesia dari rahim Fatmawati, istri presiden pertama Indonesia Soekarno 23 Januari. Megawati kemudian menjadi wakil presiden ke-8 pada 1999 mendampingi Abdurrahman Wahid. Setelah Abdurrahman Wahid turun dari jabatannya pada 2001, Megawati resmi menggantikannya sebagai presiden. Sejak 1999 hingga kini, Megawati menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

1950

Kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling yang juga mantan komandan Pasukan Khusus KNIL, masuk ke Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar) dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui.

APRA yang ingin menggulingkan pemerintahan Soekarno kemudian menduduki Bandung untuk sementara waktu. Pemerintah Republik Indonesia Serikat kemudian mempercepat integrasi wilayah-wilayahnya pada 17 Agustus 1950. Peristiwa itu kini dikenang dengan sebutan Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil.

1963

Perang Kemerdekaan Guinea Bissau meletus setelah pasukan Guinea Bissau menyerang pasukan Portugal di wilayah Tite, Quinara, Guinea Bissau pada 23 Januari. Perang tersebut berlangsung sampai 10 September 1974 dan berakhir dengan kemerdekaan Guinea Bissau.

Arjen Robben. (Reuters)
Arjen Robben. (Reuters)

1984

Arjen Robben lahir di Bedum, Belanda. Kini, namanya dikenal sebagai mantan pemain sepak bola yang pernah membela salah satu klub raksasa di Jerman, Bayern Munchen. Selama membela Bayern Munchen sejak 2009 hingga 2019, Robben telah mencetak 99 gol dari 201 penampilannya di Liga Jerman.

1986

Jose Enrique Sanchez lahir di Valencia, Spanyol pada 23 Januari. Namanya kemudian dikenal luas sebagai pemain sepak bola yang pernah membela salah satu klub besar di Inggris, Liverpool, sejak 2011 sampai 2016. Sebelum menyatakan pensiun pada 2017 lalu, pemain yang berposisi sebagai bek kiri itu sempat membela salah satu klub di Spanyol, Real Zaragoza, selama semusim.

1991

Berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia yang dikenal dengan TPI. TPI adalah sebuah stasiun televisi swasta nasional di Indonesia. Namanya berganti menjadi MNCTV yang sejak 20 Oktober 2010 pada pukul 20.10 WIB.

2015

Abdullah bin Abdulaziz Al Saud lahir 1 Agustus 1924 – meninggal 23 Januari 2015 pada umur 90 tahun. Abdullah bin Abdulaziz Al Saud adalah Raja Arab Saudi yang keenam dari tahun 2005 sampai 2015. Setelah sebelumnya bergelar Pangeran Abdullah, ia mencapai puncak kekuasaan pada 1 Agustus 2005, sesaat setelah wafatnya Raja Fahd.

(iys)

ADVERTISEMENT