Siti Rodiah, Sopir Truk Cantik Ini Ikut Terjebak Banjir di Luwu Kisahnya Bikin Haru, Bekerja Keras Demi Membiayai Dua Anaknya di Pesantren

4463
Siti Rodiah berfoto diatas truknya, saat ikut antrian panjang kendaraan di poros Luwu akibat banjir. (ft istimewa/eksposindo.com)
ADVERTISEMENT

KORANSERUYA.COM–Profesi sebagai sopir truk biasanya lekat dengan laki-laki karena pekerjaan ini terkenal berat dan membutuhkan fisik serta keterampilan. Namun Siti Rodiah berhasil membuktikan jika sopir truk juga bisa menjadi pekerjaan kaum hawa.

Siti Rodiah yang menjalani profesi sebagai sopir truk ekspedisi selama 10 tahun terakhir ini, kini sudah cukup dikenal di kalangan pengemudi kendaraan besar itu. Terutama para sopir truk lintas Sulawesi.

Saat banjir melanda Trans Sulawesi, Sabtu (28/8/2021) lalu di poros Desa Sampano, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, Sulsel, truk yang dikemudikan
Siti Rodiah ikut terjebak banjir. Truknya ikut antrian panjang.

Nah, sosok warga Kelurahan Tinombala, Kecamatan Bulanolambuno, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah ini jadi pusat perhatian warga. Sebab, di tengah
banjir merendam Trans Sulawesi itu, sosoknya terlihat mengemudikan truk ekspedisi.

ADVERTISEMENT

Maklum saja, bagi sebagian warga, sopir truk yang dilakoni Siti Rodiah tak lazim karena pekerjaan itu lebih banyak dilakoni kaum adam. Tapi bagi Siti Rodiah, pekerjaannya sudah biasa dan tidak ada masalah.

“Asalkan dilakoni dengan ikhlas, sabar dan tidak melalaikan ibadah akan membawa berkah. Toh pekerjaan ini halal,” kata Siti Rodiah sambil tersenyum kepada wartawan yang menyapanya, di lokasi banjir.

Bagi Siti Rodiah, pekerjaannya sebagai sopir truk membawa berkah bagi keluarganya. Selain bisa memiliki rumah permanen di kampungnya, dia juga telah memiliki 3 mobil truk. “Alhamdulillah, hasilnya berkah buat keluarga,” kataya.

Siti Rodiah juga mengaku bekerja keras menjadi sopir truk untuk mencari nafkah halal bagi keluarganya, termasuk biaya pendidikan dua anaknya.


Siti Rodiah berfoto dengan latar belakang truknya, saat ikut antrian panjang kendaraan di poros Luwu akibat banjir. (ft istimewa/eksposindo.com)

“Saya rela bekerja keras seperti ini, untuk bisa menyekolahkan dua anak saya, yang saat ini mondok di salah satu pesantren di Kudus, Jawa Tengah,” ujar Siti Rodiah, tersenyum.

Wanita berusia 35 tahun ini menceritakan seperti apa suka duka menjadi sopir truk. Awal melakoni profesi ini, dia mengaku kerap digoda lelaki, terutama
sesama sopir truk. Namun dirinya selalu mengabaikan atau menepis dengan cara yang halus. Sehingga para lelaki itu justru menghargainya.

“Mayoritas teman-teman saya laki-laki. Mereka juga sopir truk. Mereka baik semua dengan saya. Kadang mereka membantu kalau saya ada masalah di jalan,” kata
Siti Rodiah.

Tantangan lain yang dihadapinya, aku Siti Rodiah, yakni masih ada sebagian orang berprasangka buruk dan menilai negatif perempuan jadi sopir truk lantaran
pekerjaan itu lebih banyak dilakoni kaum laki-laki. Namun, Siti Rodiah mengaku tak mau ambil pusing penilaian negatif tersebut.

“Bagi saya, yang penting bisa jaga diri, jaga ibadah, biar Allah SWT yang jadi pelindung saya di jalan. Santai saja, kerja ikhlas karena pekerjaan ini sangat
halal,” kata Siti Rodiah.

Sehari-harinya, saat mengemudikan truk, Siti Rodiah hanya seorang diri. Jika dalam perjalanan dia lelah atau mengantuk, maka dia beristirahat di pinggir jalan. Biasanya, dia mencari rumah makan di pinggir jalan, kemudian memarkir mobilnya. “Truk saya ini sudah saya anggap seperti rumah sendiri. Kabin mobil saya gunakan sebagai tempat tidur,” katanya. (*)

ADVERTISEMENT