Bakti Anak di Ujung Pohon Pinang

775
ilustrasi
ADVERTISEMENT

LUTRA – Sore itu di Desa Dandang Kecamatan Sabbang, puluhan bocah nampak saling berebut memanjat pohon pinang yang di ujungnya bergantung sejumlah hadiah yang sangat berharga untuk ukuran mereka. Ada baju kaos, celana, beras 10 kg, uang tunai dan peralatan rumah tangga lainnya. Menariknya, ada pula pakaian gamis wanita yang juga nampak paling menyita pandangan, utamanya kaum hawa.

Anggapan bahwa pakaian gamis tidak akan menarik minat para bocah tidaklah salah, karena siapa pun yang akan sampai di puncak pohon pinang, para bocah yang semuanya laki-laki, pasti lebih memilih hadiah lain ketimbang harus bersusah payah mengambil pakaian gamis wanita.

ADVERTISEMENT

Tapi anggapan tersebut tidak berlaku bagi Kenzo, bocah asal desa Dandang, yang pada lomba panjat pinang kali ini berhasil sampai ke tiang tertinggi.

Kenzo sendiri di atas. Riuh rendah sorak sorai penonton menambah keyakinannya untuk mengambil hadiah paling menarik dari lomba yang dilaksanakan dalam rangka HUT Kemerdekaan ini.

ADVERTISEMENT

Ia nampak kebingungan, lalu diam beberapa saat, sembari menoleh ke bawah seakan mencari seseorang. Ia menoleh kiri kanan, hingga ia tiba pada satu sosok yang ia ditemukan di bawah. Lama ia menatap sosok yang belakangan diketahui adalah ibunya.

Mereka saling berpandangan, seakan terjadi dialog dari hati ke hati antara ibu dan anak. Selang beberapa saat, Kenzo dengan lincah mengambil pakaian gamis wanita.

ADVERTISEMENT

Para penonton yang berdiri di bawah, nampak seakan tidak percaya, ketika ia lebih memilih pakaian gamis wanita ketimbang baju kaos dan celana yang lebih layak ia gunakan di hari raya iduladha. Padahal sebelum Kenzo, teman lainnya lebih memilih baju kaos, uang tunai dan celana.

“Saat itu di benak saya masih standar, tetapi setelah hadiah itu sampai ke tangan ibunya yang tidak jauh dari tempat saya menonton, barulah saya ikut terharu. Mata ibunya berkaca-kaca, dan berucap, baju ini akan saya pakai untuk salat iduladha. Alhamdulillah, ucapnya sambil mengusap air matanya,” cerita Hasim salah seorang penonton yang menjadi saksi nyata bakti seorang anak untuk ibunya.

“Saya pun kemudian berpikir bahwa ternyata pahlawan anak-anak ada juga di negeri ini. Terima kasih Kenzo, Anda telah mengajarkan moral kepada kami semua. Bagi saya, Anda adalah Joni NTT yang memanjat tiang bendera. Bedanya, Anda memanjat pohon pinang untuk menunjukkan bakti seorang anak kepada ibunya,” ucap Hasim menutup ceritanya sore itu. (lh/liq)

ADVERTISEMENT