Dr. Mustaming ; dalam khutbah Jumat

230
Nurdin
ADVERTISEMENT

Oleh : Nurdin
(Dosen IAIN Palopo)

KHUTBAH Jumat (29 Juli 2022) oleh bapak Dr. Mustaming Dekan fakultas syari’ah IAIN Palopo di Masjid Al-Ikhlas Polres Palopo, diawali dengan mengutip hadis nabi Muhammad Saw, “Salat-lah sebagaimana engkau melihat aku salat”

ADVERTISEMENT

Lantas, bagaimanakah salat sebagaimana yang dipraktikkan oleh nabi Muhammad Saw ? Lebih lanjut beliau menjelaskan sebuah hadis qudsi terkait bacaan Al-fatihah, yang sedapat mungkin dalam salat dibaca tidak dengan terburu-buru.

Oleh karena, setiap ayat dalam surah Al-fatihah merupakan dialog ruhani yang menggetarkan antara hamba-nya dengan Rabb-nya, lebih lengkap hadis itu dijelaskan oleh beliau, bahwa ketika seorang hamba membaca “Alhamdulillahi rabbil alamin”. Allah Swt berfirman “Hamba-Ku telah memuji-Ku”

ADVERTISEMENT

Kemudian “Ar-rahmanir rahim” Allah Swt berfirman “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku” lalu apabila seorang hamba membaca “Maliki yaumiddin” Allah Swt berfirman “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Apabila hamba membaca “Iyyaka na’budu wa Iyya
ka nasta’in” Allah Swt berfirman “Ini adalah antara aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku adalah apa yang dimintanya”.

Dan apabila hamba membaca “Ihdinash shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladh-dhal-lin” Allah Swt berfirman “Ini adalah untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku adalah apa yang dimintanya”

Hadis di atas merupakan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan merupakan hadis qudsi, yang mana hadis qudsi merupakan firman Allah Swt yang maknanya oleh Allah Swt sementara redaksinya oleh nabi Muhammad Saw.

Untuk itu, agar memiliki dampak saat dibaca dalam salat, maka Al-fatihah (dalam ayat demi ayat) harus benar-benar diresapi dalam hati, menancap ke dalam kalbu, dan kita jadikan sarana komunikasi dengan Allah Swt. Wallahu A’lam (*)

ADVERTISEMENT