Mendagri Imbau Warga Tak Pilih Kada yang Gagal Tangani Corona, Lantas Lutim? Data Terbaru Rangking 6 Tertinggi Kasus Positif di Indonesia

288
Mendagri, Muhammad Tito Karnavian
ADVERTISEMENT

MENTERI Dalam Negeri RI atau Mendagri, Muhammad Tito Karnavian belum lama ini, mengatakan, para calon kepala daerah petahana yang tidak efektif menangani Covid-19 di daerahnya sebaiknya tidak dipilih lagi dalam kontestasi Pilkada Serentak 2020.

Siapa Kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Luwu Timur 2020-2025 Pilihan Anda ?
1. Irwan Bachry Syam-Andi Muhammad Rio Pattiwiri Hatta (Ibas-Andi Rio)
2. HM Thoriq Husler-Budiman Hakim (MTH Berbudi)
Dibuat OlehMW Quiz

Menurut Tito Karnavian, masyarakat membutuhkan kepala daerah yang mampu menangani persoalan Covid-19 secara efektif. “(Kalau) kepala daerahnya tidak efektif menangani Covid-19, ya jangan dipilih lagi, karena rakyat membutuhkan kepala daerah yang efektif, bisa menangani persoalan Covid-19 di daerah masing-masing, berikut dampak sosial ekonominya,” ujar Tito Karnavian dalam konferensi pers di Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2020) lalu.

ADVERTISEMENT

Dalam menghadapi tahapan pilkada yang telah dimulai kembali, Tito Karnavian mengimbau masyarakat mengkritik upaya penanganan Covid-19 di daerah masing-masing. Selain itu, penanganan dampak sosial dan ekonomi oleh kepala daerah juga bisa menjadi isu penting. “Misal ada daerah yang akan pilkada, dan petahananya ikut ternyata PSBB-nya berantakan, masih banyak orang berkerumun tanpa masker, tanpa jaga jarak,” tutur Tito Karnavian.

Isu-isu seperti itu, menurut dia, juga menjadi perhatian di sejumlah negara yang menggelar pemilu, seperti di Korea Selatan dan Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

Dengan demikian, kemunculan isu-isu primordial yang sering memecah belah masyarakat dan menimbulkan kerawanan pilkada bisa ditekan. “Kepala daerah akan sangat bersungguh-sungguh, apalagi yang akan running (maju) lagi. Kenapa? Kalau daerahnya merah apalagi ada korban meninggal dunia itu akan menjadi amunisi bagi kontestan lain yang non-petahana,” kata dia.

Nah, sejalan dengan pernyataan Mendagri tersebut, jika merujuk pemaparan 10 daerah memiliki kasus corona tertinggi di Indonesia, ada dua daerah di Sulsel yang masuk 10 besar. Menariknya, Kabupaten Luwu Timur (Lutim) menempati urutan keenam, sedangkan Kota Makassar di urutan kesepuluh.

Anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Dewi Nur Aisyah, memaparkan data kabupaten/kota yang memiliki kasus Corona tertinggi.

“Kita bisa melihat kota mana dengan jumlah penduduknya apakah kasus tersebut tinggi di daerahnya, untuk yang pertama adalah kota Jakarta Pusat, kedua adalah Kota Jayapura. Kita harus memperhatikan jumlah penduduk sebagai bagian yang kita hitung untuk melihat tingkat laju penularan dalam masyarakat. Ketiga Surabaya, keempat Banjarmasin, kelima kota Mataram,” ujar Dewi dalam konferensi pers yang disiarkan kanal YouTube Setpres, Rabu (24/6/2020).

Adapun ke-10 Kabupaten/Kota dengan insiden Kasus tertinggi di Indonesia, yakni Jakarta Pusat, DKI (149,2 per 100.000 penduduk), Jayapura, Papua (108 per 100.000 penduduk), Surabaya, Jatim (107,6 per 100.000 penduduk), Banjarmasin, Kalsel (94,5 per 100.000 penduduk), dan Mataram, NTB (20,10 per 100.000 penduduk).

Di Sulsel, Luwu Timur masuk peringkat 6 (87,6 per 100.000 penduduk), Mimika, Papua (87,3 per 100.000 penduduk), Manado, Sulut (79,6 per 100.000 penduduk),
Jayapura, Papua (78,5 per 100.000 penduduk), dan Makassar, Sulsel (73,7 per 100.000 penduduk).

Terkait dengan jumlah kematian berdasarkan pasien positif Corona, Dewi menyebut DKI Jakarta juga menempati jumlah terbanyak. Selain DKI, ada Kalimantan Selatan dan Banten.

“Kita melihat kematian bukan berdasarkan jumlah, tapi harus berdasarkan jumlah positif yang ditemukan pada lokasi tersebut maupun berdasarkan jumlah penduduk, karena kalau penduduk dari DKI Jakarta untuk provinsi menempati peringkat pertama, kedua Kalimantan Selatan, ketiga Jatim, keempat Sulsel, dan kelima adalah Banten,” ungkapnya.

Untuk angka kematian dengan jumlah per 100 penduduk, jumlah terbanyak adalah Surabaya, Banjarmasin, Manado, dan Jakarta Pusat di urutan keempat. “Untuk angka kematian kita lihat jumlah per 100 ribu penduduk, kita bisa lihat pertama adalah Surabaya, kedua Banjarmasin, ketiga Manado, keempat Jakpus, dan kelima kota Makassar. Ini adalah PR kita bersama dan monitoring kita bersama, bagaimana kita dapat bergerak menuju perbaikan,” ucap Dewi. (*/iys)

Berikut Top 10 Kab/Kota dengan Insiden Kasus Tertinggi:

1. Jakarta Pusat, DKI (149,2 per 100.000 penduduk)
2. Jayapura, Papua (108 per 100.000 penduduk)
3. Surabaya, Jatim (107,6 per 100.000 penduduk)
4. Banjarmasin, Kalsel (94,5 per 100.000 penduduk)
5. Mataram, NTB (20,10 per 100.000 penduduk)
6. Luwu Timur, Sulsel (87,6 per 100.000 penduduk)
7. Mimika, Papua (87,3 per 100.000 penduduk)
8. Manado, Sulut (79,6 per 100.000 penduduk)
9. Jayapura, Papua (78,5 per 100.000 penduduk)
10. Makassar, Sulsel (73,7 per 100.000 penduduk).

ADVERTISEMENT