Nestapa Gadis Cantik di Luwu, Alami Kekerasan Seksual, Kini Hilang Diduga Terjun ke Sungai

478
ADVERTISEMENT

JEJAK Nurhayati (25) gadis asal Kelurahan Libukang, Kecamatan Kamanre, Kabupaten Luwu, kini sementara dalam penelusuran. Diduga kuat, ia nekat melompat dari jembatan ke dalam Sungai Cilallang, Sabtu (20/05/2023).

BEBERAPA bulan sebelumnya, alumni STIEM Muhammadiyah Palopo itu dikabarkan mendapat pelecehan seksual beberapa waktu lalu. Pelakunya adalah tukang bangunan. Kejadiannya berlangsung di rumah korban. Tukang yang merenovasi rumahnya, berbuat tak senonoh terhadapnya. Saat kejadian, gadis cantik itu tengah sendiri di rumah.

ADVERTISEMENT

Orang tuanya tengah menjalankan ibadah di Tanah Suci. Peristiwa ini sudah dilaporkan ke pihak berwajib. Pelakunya pun sudah menjalani proses hukum. Pasca itu, Nurhayati, mengalami trauma berat. Peristiwa kelam yang menimpanya masih teringat di memorinya. Ia kerap terlihat takut terhadap lelaki.

Sejak itu, kehidupannya berubah. Ia murung dan mengurung diri dalam rumah. Hingga Sabtu pekan lalu, beredar kabar bahwa seorang perempuan terjun ke Sungai Cilallang. Diduga kuat, perempuan itu adalah Nurhayati. Di saat yang sama, Nurhayati tak ada di rumah. Untuk membuktikan bahwa korban adalah Nurhayati, saat ini petugas tengah melakukan pencairan dan penyisiran di sepanjang Sungai Cilallang.

” Masih simpang siur Nurhayati melompat ke sungai,” kata Kapolsek Belopa, Iptu Marino. Pasalnya, ada keterangan lain yang mengatakan, Nurhayati berangkat menuju arah utara dengan menaiki mobil travel antar daerah. “Mudah-mudahan kalau itu memang benar, kami bisa ditemukan. Tapi mudah-mudahan adek kita ini tidak lompat ke sungai karena informasi masih simpang siur,” jelasnya.

“Karena ada juga yang mengatakan kemarin pergi ke utara, dan salah satu supir mobil daerah yang mau ke Palopo mengaku pernah dihentikan oleh adik tersebut. Kebetulan kendaraan tersebut sudah penuh, sehingga adek tersebut tidak diambil,” katanya.

Kapolres Luwu, AKBP Arisandi, membenarkan kejadian tersebut. Menurut Arisandi, saat ini Polsek Belopa dan Basarnas Masamba sedang melakukan pencarian. “Informasinya sudah kami terima. Unsur Polsek Belopa dan Basarnas sudah bergabung dalam upaya pencarian,” ungkapnya. Tim gabungan sedang berupaya memastikan apakah korban adalah orang yang sama dengan wanita yang sebelumnya dilaporkan hilang. “Kami akan memastikannya terlebih dahulu apakah korban adalah orang yang sama dengan wanita lain yang dilaporkan hilang,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Humas Basarnas Masamba, Usman Ali, mengonfirmasi bahwa mereka telah mengirimkan tiga anggota ke lokasi kejadian. “Operasi sudah dilakukan. Anggota kami telah diterjunkan ke lokasi,” ucapnya. “Ikut dalam tim, kami juga membawa perahu karet dan alat menyelam untuk membantu dalam upaya pencarian,” katanya.

Sementara itu, keluarga korban saat ini juga masih terus melacak keberadaan korban. Semua informasi yang mereka terima, ditindaklanjuti, termasuk mencari ke Parepare. “Adik saya mengalami trauma berat dan selalu mengurung diri dalam kamar. Takut kalau ketemu laki-laki,” kata Jumrana, kakak kandung korban.

Pasca kasus percobaan pemerkosaan yang dialaminya, korban stress berat dan berat badannya turun drastis. Korban kata Jumrana sakit-sakitan dan lebih banyak berdiam diri dalam kamar. Nurhayati terakhir berada di rumahnya Jumat malam (19/5/2023), sekitar pukul 21:00 WITA. Keluarganya baru menyadari Nurhayati pergi meninggalkan rumah pada Sabtu pagi. Hanya sepeda motor, rok dan celana panjang yang kami temukan di pinggir jalan,” ujarnya.

Sebelum dilaporkan pergi dari rumahnya di Desa Waituo, Kamanre, Kabupaten Luwu, Nurhayati sempat mengupdate status di laman facebook miliknya. Nurhayati meluapkan isi hatinya di sosial media dan ditanggapi puluhan rekan-rekannya.

” Cukupku katakan bahwa ketika saya mengingat kembali perlakuan pelaku hingga menangis sesegukan, di situ pula saya mengalami trauma berat hingga berdampak pada penurunan badan yang begitu drastis. Namun pada saat itu saya meminta untuk dibawa ke RS namun pihak RS tidak mengatakan apa-apa. Dan orang-orang di sekeliling hanya mengatakan bahwa ini hanya gejala penyakit tipus dan di situ saya mulai sadar bahwa tidak semua orang-orang terdekat bisa mengerti dan memahami dengan keadaan sekarang.

Saya sudah menjelaskan dengan berbagai carai bahwa saya mengalami trauma berat dengan keadaan namun tidak sedikitpun yang merespon dengan baik. Saat itu saya benar-benar merasa putus asa dengan keadaan cukup sakit rasanya jika hanya bercerita kepada diri sendiri, bercerita kepada angin, bercerita kepada Allah,” tulisnya. (yon/roy)

ADVERTISEMENT