OPINI: Polemik Menajemen Keuangan di Tengah Pandemi Covid-19

200
Linda Febianti, mahasiswa Prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN PALOPO
ADVERTISEMENT

PENANGANAN Covid-19 pada Jum’at (29/05/2020), pukul 15.30 WIB menunjukkan terdapat penambahan 678 kasus baru dalam sehari terakhir. Dengan penambahan pasien baru itu, total jumlah kasus positif corona di Indonesia pada hari ini menjadi sebanyak 25.216 orang.

Kemudian sampai hari ini ada 252 pasien dinyatakan sembuh, sehingga total pasien sembuh tercatat 6.429 orang. Sementara untyk pasien meninggal dunia bertambah sebanyak 24 korban, sehingga total menjadi 1.520 kasus kematian. Dalam kondisi seperti ini sangatlah mempengaruhi banyak sector mulai dari sector perdagangan, pertanian, maupun industri perusahaan.

ADVERTISEMENT

Terkait hal ini, yang sangat terpengaruh adalah keadaan ekonomi Indonesia yang menjadi buruk, dimana banyak masyarakat yang harus kehilangan pekerjaannya. Pasalnya, Covid-19 ini juga menimbulkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan oleh perusahaan terhadap karyawannya, sementara perusahaan memilki kewajiban untuk memberikan pesangon kepada para karyawannya. Sedangkan pemasukan perusahaan sangatlah minim, akibat pemasaran produk yang terkendala karena adanya Covid-19 ini.

Lalu apa kabar dengan para investor yang ingin melakukan investasi terhadap suatu perusahaan, tetapi kondisi saat ini membuat pendapatan perusahaan mengalami penurunan? Sedangkan dalam kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh para investor untuk membeli saham dengan harga yang murah, tetapi bagaimana cara meyakinkan investor untuk tetap berinvestasi dan tidak menarik sahamnya?. Terkait hal ini sebaiknya pemerintah melakukan beberapa upaya diantaranya:

ADVERTISEMENT

1. Rupiah harus menguat
2. Pemerintah harus meyakinkan investor agar mau berinvestasi di Pasar Modal dengan mengambil kebijakan-kebijakan ekonomiyang dapat membangun lagi iklim usaha di Indonesia.
3. Pemerintah harus membuat melakukan kebijakan yang tepat dan cepat untuk mengatasi virus Covd-19. Karena investor akan melihat bagaimana kecepatan pemerintah dalam mengatasi Covid-19 tersebut.

Lalu bagaimana kondisi keuangan di tengah pandemic Covid-19 saat ini, dampak pandemi tidak hanya dirasakan oleh brand, tetapi juga pemasok serta pabrik di mana mereka kehilangan demand untuk menyuplai barang dan produksi karena saat ini kemampuan beli konsumen menurun. Oleh karena itu terjadi perubahan pada sistem pembayaran ke supplier dan pabrik yang mengharuskan Men’s Republic untuk membayar pesanan dan produksi di awal. Alhasil cash flow perusahaan pun terganggu karena penjualan yang turun, pembayaran untuk supplier dan pabrik dipercepat, dan tetap harus membayar biaya operasional perusahaan termasuk memberikan gaji karyawan.

Dalam situasi seperti ini maka manajer keuangan dalam perusahaan tersebut harus berupaya melakukan pengalokasian dana salah satunya dengan efisiensi biaya dan mengalokasikan biaya non-operasional sebagai cadangan agar produksi bisa tetap berjalan, sehingga diharapkan kas perusahaan dapat digunakan untuk jangka waktu yang lebih panjang dalam menghadapi perubahan pasar. Lalu seperi apa upaya yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam menghadapi perubahan pasar di tengah Pandemi Covid019 saat ini?

Terkait hal tersebut beberapa upaya yang harus dilakukan dalam menghadapi perubahan pasar diantaranya yaitu:
1. Mengatur cash flow
2. Berempati dan menjaga komunikasi
3. Pengaturan karyawan
4. Strategi marketing yang baru
5. Memanfaatkan layanan perbankan

Lalu bagaimana dengan taksiran laba yang telah diprediski akan meningkat oleh perusahaan, sedangkan saat ini jumlah pembelian produk mulai kurang karena jumlah konsumen yang kurang akibat Covid-19?. Dalam hal ini hal yang harus dilakukan jika tidak mencapa taksiran, maka perusahaan harus melakuksn evaluasi terhadap strategi pemasarannya yaitu 4P (Product, Price, Place, Promotion). Selain itu, perusahaan harus membandingkan kinerja tahun lalu dan yang akan dilaksanakan, memperbaiki tingkat komunikasi terhadap konsumen dan peningkatan terhadap kualitas produk.

Hal ini sebenarnya wajar, bahwa bisnis itu ada risikonya (ketidakpastian mengenai hasil yang akan diperoleh di masa yang akan dating disebabkan oleh berbagai factor eksternal dan internal perusahaan, apalagi di tengah situasi saat ini, sangat mungkin untuk melakukan perubahan strategipemasaran guna meningkatkan produksi.

Dalam situasi lain terkadang hal yang sering terjadi di perusahaan adalah laba yang didapatkan tidak sesuai dengan penambahan kas yang diterima perusahaan. Hal ini dikarenakan adanya arus kas keluar perusahaan yang terlalu banyak, jadi laba yang didapatkan digunakan untUk membiayai kegiatan operasi perusahaan, membayar utang, dan lain-lain. Sehingga uang yang masuk dikas perusahaan jumlahnya mungkin lebih kecil disbanding laba yang didapatkan.

Hal ini sangat erat kaitannya dengan problematika THR yang dikabarkan tidak akan diberikan, sanagt banyak polemic yang timbul, apalagi mengingat 9 bulan terakhir perusahaan sudah banyak memperoleh keuntungan, sedangkan Covid-19 ini terjadi sekitar 3 bulan terkahir.

THR yang seharusnya diberikan senilai dengan gaji mereke sebulan bagi karyawan yang telah bekerja selama satu tahun, kini dikabarkan tidak diberikan karna alasan bagi perusahaan yang mengalami kerugian/jumlah pemasukan yang sangat menurun, menjadi penyebab THR tersebut tidak diterima oleh karyawan. Bahkan dalam hal ini Wakil Ketua Umum Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang menyebut bukan tidak mungkin pengusaha tidak mampu membayar THR sepenuhnya karena dampak corona atau covid-19 sudah sangat memukul sektor usaha. (*)

PENULIS: Linda Febianti, mahasiswa Prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN PALOPO

ADVERTISEMENT