PALOPO–Perum  Bulog Cabang Palopo mencatat realisasi serapan gabah petani pada semester kedua atau periode Juli hingga September 2026 mencapai sekitar 33 ribu ton.

Pemimpin Perum Bulog Cabang Palopo, Maysius P, mengatakan penyerapan gabah tersebut merupakan bagian dari upaya Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus menyerap hasil produksi petani.

Dalam proses penyerapan, Bulog juga mengerahkan tim jemput pangan yang tidak hanya bertugas membeli gabah secara langsung dari petani, tetapi juga memberikan edukasi mengenai cara menghasilkan gabah berkualitas.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana petani dapat meminimalisir bulir gabah hampa sehingga kualitas hasil panen dapat meningkat.
“Bulog memang ditugaskan untuk melakukan pembelian gabah any quality. Namun, tentu akan lebih baik jika gabah yang dibeli memiliki kualitas yang baik,” kata Maysius.

Menurutnya, kondisi musim kemarau berkepanjangan yang terjadi saat ini turut mempengaruhi hasil produksi petani. Di sejumlah daerah, ditemukan bulir gabah kosong akibat tanaman padi tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

Karena itu, Bulog melakukan pendekatan persuasif kepada petani melalui sosialisasi dan pemberian motivasi agar kondisi produksi dapat diperbaiki pada musim tanam berikutnya. “Kami terus memberikan sosialisasi dan semangat kepada petani. Harapannya, tahun depan kondisi produksi bisa jauh lebih baik,” ujarnya.

Maysius juga meminta petani tidak perlu khawatir mengenai penyerapan hasil panen. Menurutnya, program pemerintah dalam menyerap gabah petani akan terus berjalan.

Bulog, kata dia, siap membeli gabah petani dengan harga pembelian pemerintah minimal Rp6.500 per kilogram. “Petani tidak perlu khawatir karena program Presiden tidak akan terputus. Bulog akan terus melakukan pembelian gabah petani dengan harga minimal Rp6.500 per kilogram,” jelasnya.

Di sisi lain, Maysius mengungkapkan stok beras yang tersedia di Perum Bulog Cabang Palopo saat ini mencapai 78.900 ton. Jumlah tersebut disebut sebagai stok terbesar sepanjang sejarah Bulog Palopo dan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga sembilan sampai 10 bulan ke depan.

Meski stok cukup besar, Bulog tetap melakukan distribusi ke sejumlah daerah yang mengalami defisit beras. “Sekarang kami melakukan pengiriman beras ke Merauke, Sulawesi Tengah dan Kalimantan karena daerah-daerah tersebut sedang mengalami defisit,” katanya.

Menurut Maysius, Sulawesi Selatan memiliki posisi penting sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, khususnya untuk komoditas beras. Karena itu, ia memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras meski saat ini terjadi musim kemarau berkepanjangan.

“Kami sampaikan kepada masyarakat, meskipun saat ini kita menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan, tidak perlu khawatir. Ketersediaan beras masih cukup untuk beberapa bulan kedepan,” ujarnya.

Ia juga menghimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau membeli beras secara berlebihan karena stok masih dalam kondisi aman. Selain itu, penyaluran bantuan pangan dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga terus dilakukan. Target penyaluran program tersebut disebut akan ditambah hingga akhir tahun.

Dengan kondisi stok yang masih melimpah dan penyerapan gabah petani yang terus berjalan, Bulog memastikan ketersediaan beras untuk masyarakat tetap terjaga. (nada)