PALOPO–Bagi kebanyakan orang, sirine mobil pemadam kebakaran adalah pertanda adanya bahaya besar atau si jago merah yang mengamuk. Namun, di markas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, makna “penyelamatan” kini telah bergeser menjadi jauh lebih personal dan menyentuh hati.

​Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 255 aduan yang masuk. Menariknya, tidak semua tentang api atau ular sanca. Di balik seragam tahan panas itu, tersimpan kisah-kisah unik yang menunjukkan betapa warga Palopo begitu mengandalkan para petugas ini—bahkan untuk urusan yang paling sederhana sekalipun.

​​Kepala Dinas Damkarmat Palopo, Rachmad, menceritakan dengan senyum simpul bagaimana kantornya kerap berubah menjadi “pusat solusi” segala masalah.

​”Ada yang menelepon minta dibantu ganti lampu rumah, pasang tabung gas, sampai ada juga yang datang ke kantor hanya untuk curhat,” kenang Rachmad saat ditemui di kantornya, Minggu (21/12/2025).

​Bagi petugas, permintaan memasangkan tabung gas mungkin terlihat sepele, namun bagi warga yang ketakutan atau lansia yang tinggal sendirian, kehadiran petugas adalah rasa aman. “Di sinilah nilai kemanusiaan diuji, mereka tidak menolak, selama bantuan itu memang dibutuhkan,” katanya.

​Salah satu cerita yang paling membekas adalah ketika seorang perempuan datang ke kantor Damkarmat dengan raut wajah penuh keputusasaan. Ia bukan melaporkan kebakaran, melainkan membawa beban hidup yang berat.

​Perempuan tersebut, kisah Rachmad, yang bukan warga asli Palopo, meminta tolong untuk diantarkan ke rumah kekasihnya di luar kota. Ia mengaku tengah hamil dan merasa ditinggalkan tanpa kepastian. “Setiap laporan yang masuk tetap kami layani selama tidak melanggar aturan dan masih dalam konteks pelayanan kemanusiaan,” tegas Rachmad.

​Kejadian ini membuktikan bahwa Damkarmat telah menjadi “pelabuhan terakhir” bagi warga yang merasa tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa.

​Meski pintu kantor selalu terbuka untuk bantuan kemanusiaan, Rachmad tetap mengimbau warga untuk bijak. Tugas utama menyelamatkan nyawa dari bencana kebakaran dan ancaman hewan liar tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh terganggu.

​Kisah Damkarmat Palopo tahun ini mengajarkan kita satu hal: menjadi pahlawan tidak selalunya harus menerjang api.
Terkadang, cukup dengan bersedia mendengarkan keluh kesah atau sekadar membantu menyalakan lampu di rumah warga yang kegelapan, seorang petugas sudah menjadi pahlawan di hati masyarakatnya. (***)