– Demo Ganggu Distribusi Air Bersih ke Masyarakat Picu Amarah ‘Tukang Ledeng’ Hingga Terjadi Kericuhan
– Koordinator GAM Luwu Raya: Kami Tertib Sampaikan Dua Aspirasi

Aksi unjukrasa yang digelar sejumlah mahasiswa dari aliansi Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) Luwu Raya di depan Kantor Perumda Tirta Mangkaluku (Perumda TM) atau PDAM Kota Palopo, berahir ricuh, Senin (2/11/2026). Akibat kericuhan demo ini, masyarakat terkena imbasnya lantaran Perumda TM Palopo menghentikan sementara layanan distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak krisis air bersih.

Penghentian distribusi layanan air bersih ini, terutama sistem suntik pipa menggunakan mobil tangki dan armada tandon (Ardon) ke berbagai lokasi terdampak krisis air bersih di 9 kecamatan di kota bermotto ‘Idaman’ ini.

Sekaitan aksi unjukrasa tersebut, Humas Perumda TM Palopo menyampaikan klarifikasi atas insiden terjadinya aksi ricuh di depan Kantor Perumda TM Palopo. Dalam siaran pers yang diterima KORAN SERUYA, bahwa saksi unjukrasa yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Aksi Mahasiswa (GAM) akan dilaksanakan pada pukul 14.00 Wita atau jam 2 siang, sesuai surat yang ditembuskan pihak aparat keamanan ke Perumda TM.

Namun sebelum jam 14:00 Wita, atau sekitar pukul 11.00 Wita, puluhan mahasiswa telah menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Perumda TM Palopo. Selain berorasi, massa juga membakar ban bekas tepat di depan pintu gerbang masuk kantor. Hal ini mengakibatkan pelayanan mobil tangki PDAM tidak bisa keluar masuk.

Selain menghambat distribusi air bersih, asap yang ditimbulkan dari pembakaran ban bekas ini juga mengganggu pelayanan administrasi warga yang berada di area kantor PDAM.

Beberapa warga dan pegawai PDAM Palopo bersama anggota TNI kemudian mencoba meminta agar massa memadamkan api agar mobil tangki air bersih PDAM bisa tetap melayani permintaan air bersih dari masyarakat. Sebab, tim satgas PDAM telah memutuskan pelayanan distribusi air bersih
dihentikan sementara waktu pada pukul 14.00 wita untuk menerima aspirasi pengunjukrasa. Namun hal ini tidak mendapat tanggapan dari pengunjukrasa.

“Selain waktu distribusi pelayanan air bersih kepada masyarakat yang telah atur jadwal, sekiranya masih di jam sebelum aksi, tiba-tiba massa kurang lebih pukul 11.00 wita sudah melakukan aksi diluar dari surat pemberitahuan yang kami terima di pukul 14.00. Di samping itu, api dari hasil ban yang dibakar dapat membahayakan armada dan kendaraan masyarakat yang keluar masuk ke area kantor,” tulis Humas Perumda TM Palopo dalam rilisnya.

“Bahkan saat satu unit mobil tangki hendak keluar, beberapa pengunjukrasa mencoba menghalangi. Salah seorang anggota satuan pengamanan (security) PDAM mencoba menghalangi hal tersebut, namun mendapat perlakuan tidak layak dari pengunjukrasa. Beberapa saat kemudian, sejumlah pegawai PDAM dan warga bersama pengunjuk rasa terlibat bersitegang yang tak dapat terhindarkan,” masih dalam siaran pers Humas Perumda TM Palopo.

Dalam rilis tersebut disampaikan, bahwa bentrok dipicu kekesalan warga terhadap aksi sejumlah pengunjuk rasa yang dinilai mengganggu jalannya distribusi air bersih menggunakan mobil tangka kepada mereka.

Sementara itu, masih dalam rilis Humas Perumda TM, Direktur Utama Perumda Tirta Mangkaluku, Steven Hamdani menyayangkan unjuk rasa yang berakhir kurang baik tersebut. “Kami sangat menyayangkan kejadian yang terjadi tersebut, kami berharap semua dapat menahan diri. Kami mengerti bahwa kebutuhan air bersih menjadi kebutuhan yang utama bagi masyarakat. Kami juga telah melakukan langkah-langkah taktis dalam menanggulangi kejadian yang memang cukup parah akibat kemarau yang sangat panjang setelah tahun 20 tahun kemarau panjang sebelumnya,” kata Steven.

“Kami menyadari bahwa mungkin distribusi air belum sempurna ke masyarakat akibat debit air yang memang menurun drastis, tetapi upaya maksimal yang memang bisa kami lakukan, kami lakukan secara terus menerus,” lanjut dia.

Dikatakan Steven, pihaknya tidak mungkin menahan distribusi air jikalau memang debit air mencukupi. “Ini sudah tugas kami bagaimana mengolah air bersih untuk bisa tersalurkan kepada masyarakat. Terkait usulan warga tentang air laut dan air tanah, kami telah kaji dengan kondisi
yang ada dengan segala kelebihan dan kekurangan, sehingga air permukaan menjadi opsi yang realistis dan telah berjalan dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

“Kami dari PDAM bukan pihak yang anti kritik, justru masukan yang positif dan membangun tanpa adanya kepentingan lainnya, menjadi
cambuk bagi kami untuk terus berbenah. Tetapi kami berharap distribusi air bersih ke masyarakat tidak terganggu, karena yang rugi
juga adalah masyarakat kita, bila pelayanan terhenti,” masih kata Steven.

Sekadar diketahui, sejak beberapa bulan terakhir, distribusi air bersih ke masyarakat melalui jaringan pipa tidak maksimal. Hal ini
disebabkan karena produksi air bersih menurun drastis sebagai dampak kemarau berkepanjangan. Dari lima instalasi pengelolaan air
minum (IPAM) yang saat ini dimiliki PDAM, rata-rata penurunan produksi air bersih mencapai 65-80%.

IPAM Latuppa mengalami penurunan produksi sekitar 70%, IPAM Mangakaluku sekitar 80%, bahkan harus dibantu dengan sistem pompanisasi, IPAM Magandang produksi berkurang sekitar 65%.

IPAM Bambalu yang saat ini kondisi produksi tidak terlalu penurunan drastis, harus terbenani dengan men-cover area layanan lainnya.
Produksi IPAM Batupapan juga sama dengan IPAM Bambalu. Dengan kondisi produksi air bersih saat ini, mengharuskan PDAM melayani
distribusi air bersih dengan menggunakan mobil tangki agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi.

“Teman-teman di sini (PDAM) bahkan harus membuka pelayanan 24 jam untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, meninggalkan perhatian ke anak istri dan keluarganya demi memberikan pelayanan sampai subuh, tetapi kami tidak mengeluh karena menjadi tugas dan tanggung jawab kami dalam pekerjaan. Kami tidak butuh pujian, kami hanya berharap kita dapat sama-sama memahami di tengah keterbatasan yang ada,” katanya.

DUA TUNTUTAN

Sementara itu, Ketua GAM Luwu Raya, Ahmad Hanifullah mengecam aksi penyerangan dan pemukulan terhadap sejumlah mahasiswa yang berunjukrasa di Kantor Perumda TM Palopo. “Kami hanya menyampaikan aspirasi secara tertib,” katanya.

Dikatakan Ahmad, awalnya pihaknya datang ke Kantor Perumda TM Palopo dan berorasi disertai teatrikal dengan menggunakan ember dan timba sebagai bahan tertrikal di depan kantor Perumda TM Palopo.

Ahmad menuturkan, dalam aksi tersebut massa aksi membawa dua tuntutan utama, yakni evaluasi direksi PDAM dan pemberian kompensasi kepada pelanggan. Dia menyebut, tuntutan itu didasari atas kegelisahan kondisi masyarakat Palopo saat ini. “Kami datang menuntut agar adanya kompensasi pembayaran, kita ketahui saat ini semenjak kekeringan air tidak jalan, dan kami meminta adanya kompensasi untuk pelanggan disitu,” ucapnya.

“Namun baru sekitar 3 orator yang menyampaikan aspirasinya, tiba-tiba seorang pegawai PDAM datang menendang ember teatrikal massa,” sambungnya.

Ahmad menjelaskan, massa kemudian tetap melanjutkan aksinya dengan membakar ban. Saat aksi bakar ban, tiba-tiba sejumlah pegawai PDAM datang dan terjadilah aksi saling dorong dan pemukulan. “Sekitar 10 massa aksi yang dipukul, bahkan ada yang memar di wajah dan bekas cakar di leher,” bebernya.

Ahmad mengungkapkan, pihaknya telah melakukan visum dan akan melaporkan pihak PDAM ke Polres Palopo. Dia pun mengecam aksi anarkisme yang dilakukan oleh pegawai PDAM. “Hampir semua pegawai PDAM yang baju biru melakukan pemukulan, ada juga beberapa dari tim lapangannya yang baju kaos. Dan itu sudah masuk aksi anarkisme,” tutupnya.

Informasi dihimpun KORAN SERUYA, sejumlah mahasiswa yang menjadi korban pemukulan melapor ke Polres Palopo. Termasuk beberapa karyawan Perumda TM Palopo juga melapor ke Polres Palopo lantaran mengaku ikut dipukuli saat insiden ricuh terjadi. “Iya, ada beberapa teman melapor di Polres,” kata Alvin Talantan, Asisten Manajer Humas Perumda TM Palopo.

CURHAT KARYAWAN

Diluar aksi unjukrasa yang berujung ricuh, informasi diperoleh media ini, selama dua bulan terakhir ini, karyawan Perumda TM Palopo all out bekerja melayani pendistribusian air bersih kepada masyarakat sejak kemarau panjang. Mereka bekerja mendistribusikan air bersih dari pagi hingga subuh menggunakan mobil tangki dan armada Ardon.

“Banyak teman-teman sudah lelah, capek, bahkan stress karena tiap malam begadang mendistribusikan air bersih ke pelanggan. Sudah dua bulan lebih kami kurang tidur, begadang dan pisah anak istri demi memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata salah seorang karyawan Perumda TM Palopo, enggan dilansir identitasnya.

Idealnya, lanjut dia, karyawan bekerja 8 jam setiap hari. Namun sejak kemarau panjang menyebabkan krisis air bersih, terutama dalam dua bulan terakhir, karyawan laki-laki masuk kantor di malam hari untuk ikut pendistribusian air bersih dengan sistem shift. “Kejadian ini memang sangat tidak kita inginkan, tetapi ini amarah teman-teman yang memuncak karena kelelahan, capek, dan merasa tidak dihargai setelah bekerja siang dan malam melayani masyarakat,” kata karyawan ini. (***)