Isu Kasus KM 50 dan Jebolan Madrasah Sulit Masuk Anggota Polisi Ikut Dibahas Komisi III Saat Fit and Proper Test Calon Kapolri

192
ADVERTISEMENT

JAKARTA–Dua isu panas terkait insiden KM 50 yang tewaskan 6 orang laskar FPI dan lulusan madrasah aliyah utamanya jebolan pesantren susah masuk menjadi anggota Polri adalah dua isu yang sempat dibahas anggota Komisi III DPR RI saat menguji kepatutan dan kelayakan calon Kapolri, Komjen Listyo Sigit Prabowo, Rabu (20/1) di Jakarta.

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS Achmad Dimyati Natakusumah menyitir data KontraS terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sepanjang 2019-2020. Dimyati juga bertanya kepada calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo mengenai insiden KM 50 yang menewaskan laskar FPI.

ADVERTISEMENT

“Tahun kemarin KontraS menyatakan Polri diduga terlibat dalam 921 kekerasan dam pelanggaran hak asasi manusia, sepanjang Juli 2019 sampai Juni 2020. Dari peristiwa itu, 1.627 orang luka-luka dan 304 orang tewas. Kejadian lain yang menjadi perhatian publik adanya extrajudicial killing di Km 50 pada bulan Desember 2020, bulan yang lalu,” kata Dimyati dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri di Komisi III DPR.

Dimyati mengatakan selama ini banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai peristiwa KM 50. Menurut Dimyati, masyarakat heran mengapa pelanggaran protokol kesehatan membuat enam orang meninggal dunia.

ADVERTISEMENT

“Terus terang kami sebagai salah satu anggota komisi III, yang menjadi mitra Polri, selama ini banyak dimintai penjelasan oleh masyarakat soal isu-isu demikian, misalkan kenapa penanganan demo kok represif, kenapa pelanggaran Prokes sampai dibuntuti, kenapa pelanggaran Prokes sampai membuat 6 nyawa melayang. Kami sendiri pun selama ini mengalami kesulitan untuk memberikan berbagai penjelasan kepada masyarakat,” tutur Dimyati.

Dimyati berharap Polri ke depan lebih humanis, sehingga keberadaan Polri lebih dirasakan masyarakat.

“Saya kira pendekatan ke depan yang profesional dan humanis oleh Polri perlu lebih dikedepankan sehingga Polri melindungi dan mengayomi akan semakin dirasakan masyarakat,” katanya.

Komjen Listyo Sigit Prabowo pun menjawab pertanyaan tersebut. Dia menegaskan akan menindaklanjuti rekomendasi Komnas HAM.

“Terkait masalah extrajudicial killing yang direkomendasikan Komnas HA, kami dalam posisi sikap mematuhi dan menindaklanjuti rekomendasi dari Komnas, tentunya akan kita ikuti,” ujar dia.

Kendati demikian, Komjen Listyo Sigit Prabowo menegaskan protokol kesehatan harus terus ditegakkan. Dia menyinggung angka kasus Corona yang semakin tinggi.

“Namun protokol kesehatan itu harus tetap kita tegakkan karena keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi bagaimana supaya masyarakat tetap bisa kita jaga, kita lihat angkanya sudah di atas 14 ribu, barangkali 13-14 ribu,” imbuh Sigit.

POLRI Siap Menampung Lulusan Madrasah Aliyah

Masih tentang fit and proper test calon Kapolri di Komisi III DPR, Komjen Listyo Sigit Prabowo menyatakan kepolisian RI siap menampung lulusan madrasah aliyah untuk bisa bergabung menjadi personel Polri.

Hal itu ditegaskan mantan Kapolda Banten itu saat mengikuti prosesi uji kepatutan dan kelayakan.

Semula, pertanyaan itu diajukan oleh Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKB Cucun Sjamsurijal kepada Listyo. Ia mempertanyakan adanya pernyataan yang menyatakan lulusan madrasah dilarang masuk perguruan tinggi.

“Ini pertanyaan dari Dapil pak, bukan hanya Dapil tapi semua-lah. Hari ini beredar berita bahwa lulusan Aliyah dilarang Perguruan Tinggi Negeri, ini jangan ada pak nanti statemen semacam ini di jajaran Polri. Karena ini melukai dan bisa membuat gejolak di masyarakat. Saya mewakili komponen dari madrasah pak, saya anak madrasah,” tanya Cucun saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan Kapolri di Gedung DPR RI, Rabu (20/1).

Menjawab hal itu, Listyo mengaku tak masalah jika ada anak madrasah bergabung menjadi salah satu personel Polri.

Listyo yang juga beragama Nasrani itu menghargai seluruh komponen bangsa yang memiliki bakat.

“Kalau memang ada yang berminat jadi polisi pak, nanti biar nanti anggota kita datang tengok pak, kalau memang kita butuh anggota Polri yang memiliki kemampuan mengaji yang baik hafal Alquran dia bisa memberikan edukasi memimpin di masyarakat,” jawab Listyo.

Menurutnya, personel Polri yang memiliki kemampuan di bidang agama juga diperlukan agar bisa menjadi teladan yang baik di masyarakat.

“Jadi anggota yang bisa menjadi teladan, kalau tempat lain gak bisa, kami dari Polri siap pak mencari yang seperti itu,” tutup Listyo, dilansir Koran Seruya dari Tribun.

(*/iys)

ADVERTISEMENT