Manfaatkan Kepopuleran Toraja, Pariwisata-Ekonomi Kreatif di Kota Palopo Coba Didongrak

379

TORAJA–Toraja masih jadi magnet bagi para wisatawan baik manca maupun domestik, yang jika dilihat dari data statistik, masih menyedot angka kunjungan tertinggi untuk skala regional Sulawesi Selatan.

Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, dua destinasi wisata kelas dunia, yang tercatat paling dekat dengan Kota Palopo, hanya berjarak sekira 60 menit perjalanan dari Palopo menuju Rantepao, Toraja Utara.

Maka merugilah Palopo, jika tidak mendapat “untung” apa-apa jika dilihat dari jarak yang cukup dekat, dan yang kedua dari sisi ekonomi-bisnis, limpahan berkah dari Pariwisata Toraja yang cukup menjanjikan itu berdampak pada semakin banyaknya orang Toraja dan sekitarnya yang mengunjungi Palopo sebagai kota niaga baik – yang sekedar untuk “foya-foya” sehingga Palopo kelak bisa menjadi surga belanja dan juga surga kuliner di jazirah utara Sulsel.

Hal ini disampaikan Ilham Hamid, Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Palopo usai melakukan kunjungan kerja selama dua hari ke Toraja sejak 12 hingga 13 Februari 2020 bersama rombongan DPRD Palopo.

“Jurus-jurus jitu untuk memacu jumlah kunjungan wisatawan ke kota Palopo bisa dilakukan dengan banyak cara, kami bersama Komisi III DPRD Palopo dalam rangka Studi Tiru ingin mengetahui jurus-jurus Toraja menggaet ‘Dollar’,” papar Ilham saat dihubungi, Kamis (13/2).

Kita mencoba membangkitkan sektor kepariwisataan, lanjut dia, dengan memadukan konsep ekonomi kreatif sebagai penopang peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, ulasnya.

“Karena orang yang masuk ke Palopo bukan saja sebagai turis, ada juga sebagai pebisnis dan ada yang datang untuk berburu ilmu di Perguruan Tinggi di Palopo, maka tiga pilar yang ada di Palopo yakni kawasan hiburan/rekreasi, kawasan bisnis dan kawasan pendidikan harus terus dikembangkan, sarana prasarananya juga terus dibenahi Pemerintah Kota Palopo, salahsatunya dengan rencana pembanguan Pusat Kuliner Menara Payung,” Ilham mengulas.

Sementara itu, rombongan DPRD Palopo yang dipimpin Wakil Ketua I, Abdul Salam, didampingi Ketua Komisi III, Steven Hamdani dan beberapa anggotanya diantaranya Dahri Suli, Bogi Harto, Robert Arelius Rante, Darmawati, A Herman, dan Christiani L Dengen, dan tentu saja Kadisparekraf Palopo, Ilham Hamid, selama melakukan “plesiran” ke Tana Toraja maupun Toraja Utara mendapat banyak kesan dan pesan penting untuk dibawa pulang dalam memajukan sektor pariwisata di kota Palopo.

Tak sekedar hanya menyaksikan penataan dan pengelolaan objek wisata saja, kehadiran mereka juga sekaligus untuk menelusuri penguatan ekonomi kerakyatan pada sektor pariwisata Bumi Lakipadada.

Di Makale misalnya, rombongan DPRD dan Disparekraf Palopo menyambangi Pasar Seni atau Pasar Cinderamata yang disediakan Pemda setempat. Di pasar ini, banyak ditemui jenis souvenir khas Toraja untuk oleh-oleh dibawa pulang setiap turis/wisatawan yang datang.

“Kehadiran Pasar Seni tentu sangat membantu memberdayakan masyarakat sekitarnya melalui konsep ekonomi kerakyatan. Warga yang memiliki keterampilan membuat barang-barang souvenir dan cinderamata punya akses luas memasarkan barang kerajinan tangan yang mereka olah dan buat sendiri,” sebut Dahri Suli, legislator PKB Palopo.

Lain halnya Wakil Ketua I DPRD Palopo, Abdul Salam. Ia mengaku kagum jika dilihat dari perspektif perekonomian masyarakat Toraja yang dinilainya mampu memaksimalkan potensi wisata sehingga dapat menghasilkan keuntungan dari aneka kerajinan tangan. Langkah tersebut, ia nilai cocok juga diterapkan di Palopo. Diakui Legislator Nasdem ini, sangat diperlukan pemberdayaan secara massif kepada masyarakat dalam menunjang keberadaan objek-objek wisata di Palopo agar bisa tampil lebih baik lagi,dan kemasannya lebih menarik lagi.

Rombongan tim Studi Tiru ini asal Palopo ini disambut hangat Kadis Pariwisata Toraja, Rospita Napa yang istri Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae itu. Ia menjelaskan, untuk memaksimalkan Pariwisata di Toraja, anggaran yang digelontorkan sebesar Rp9 miliar dalam APBD tahun 2020. “Dari angka Rp9 miliar, Rp2 miliar diantatanya dialokasikan untuk promosi pariwisata. Selebihnya untuk pengembangan SDM di bidang pariwisata dan pembenahan objek wisata yang ada,” pungkasnya.

Kadisparekraf Palopo, Ilham Hamid, menegaskan, pihaknya memang terkendala dana promosi dan anggaran operasional di OPD yang ia pimpin. Dengan Studi Tiru bersama anggota DPRD Palopo ini, mudah-mudahan anggaran Disparekraf bisa lebih baik dan lebih meningkat lagi, karena pokok masalah kepariwisataan di Palopo salah satunya soal kebijakan anggaran, Ilham menuntaskan. (iys)