Peresmian Bandara Toraja, Berdampak Positifkah Bagi Bandara Lagaligo Bua dan Prospek Pariwisata Palopo?

206
ADVERTISEMENT

PALOPO–Rupanya peresmian Bandar Udara Buntu Kunik di Tana Toraja dicemaskan beberapa pengamat dan pemerhati di kota idaman, Palopo.

Diketahui, Kamis siang Kemarin, 18/3, Bandar Udara dengan panjang runway 2,5 Km tersebut diresmikan oleh presiden Jokowi.

ADVERTISEMENT

Nah, salah satu pengamat yang juga dosen Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo, DR Bakhtiar SE MM, merasa cemas jika Bandara Lagaligo Bua sepi peminat, lantaran, turis-turis, baik domestik maupun asing kini tak lagi melalui Bandar Udara tersebut, tapi langsung ke Tana Toraja.

“Jujur saja, secara hitungan bisnis, pasti akan berpengaruh. Karena turis tak lagi harus lewat Palopo. Tapi yang penting jadi catatan, mindset brain, cara berpikir kita sebagai Wija To Luwu saya lihat masih slow. Sekarang ini dibutuhkan lompatan berpikir dan bertindak (komunikasi, koordinasi dan kolaborasi) perlu re-grand desain ke arah program pembangunan yang sifat full kapasitas dalam mengakselerasi perekonomian di wilayah ini,” urai DR Bakhtiar yang juga anggota Exco PSSI Palopo itu, saat dimintai Koran Seruya tanggapannya.

ADVERTISEMENT

“Kenapa? Sudah ada pembukaan akses jalan dari Bua melalui Labokke menuju Toraja. Selain itu bandara Bua memilki keunggulan komparatif dibanding Bandara Buntu Kunik. Bandara Bua bisa ekspansi area runway, itu bisa diperlebar dan di perpanjang lagi agar bisa didarati oleh pesawat berbadan besar (Airbus, dll). Kita harus optimis ke arah itu,” imbuhnya.

Bakhtiar merasa, Pemimpin di Tana Luwu masih ego sektoral, sehingga yang ada hanyalah pembangunan tanpa konsep besar (grand design) bagi Tana Luwu secara komprehensif, padahal daerah ini luas, akan dijadikan apa dan bagaimana nasibnya dalam konsep jangka panjang ke depan.

ADVERTISEMENT

“Harusnya ini, dengan Sumberdaya Alam dan SDM kita bisa lebih integrasikan 4 daerah kita di Tana Luwu supaya moda transportasi darat, laut dan udara ini bisa lebih efektif dan berkembang,” jelasnya lagi.

Jangan semua bikin Bandara, nanti Palopo juga bikin. Kita punya pelabuhan, sayangnya masih ala kadarnya. Belum ada pelabuhan rakyat untuk muat penumpang antarkota di Sulawesi, katanya.

Ia juga mengatakan, Bandar Udara di Toraja yang telah diresmikan itu harusnya bisa pula menjadi berkah bagi Tana Luwu dalam hal Eco Tourism sehingga turis Asing maupun Domestik, yang masuk lewat Toraja kita bisa ajak jalan-jalan ke Tana Luwu, selain untuk berwisata juga untuk melihat potensi bisnis di daerah ini.

“Turis itu ada yang murni Pelancong ada juga yang punya otak bisnis (Pengusaha). Jadi kalo kita ajak mereka jalan-jalan ke Luwu, Palopo, dan sebagainya, berarti ada income bagi daerah ini juga.”

“Sisa bagaimana Pemerintah di Tana Luwu menciptakan infrastruktur jalan yang bagus antarkota Toraja-Luwu atau Toraja-Palopo, begitupun dengan tempat / objek wisata baik wisata alam, agro wisata maupun wisata budaya dan lainnya itu harus dibuat menarik, sehingga ada cerita manis yang bisa mereka sampaikan kepada keluarga dan kolega para Pelancong tersebut di daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Konsepnya, masuk lewat Toraja, pulang harus lewat Bua Luwu, pungkas Bakhtiar.

Komentar Kadis Parekraf Kota Palopo

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kota Palopo, Ilham Hamid SE MSi saat dihubungi Jumat (19/3) berpikir positif atas dibukanya Bandara Toraja yang menjadi saingan Bandara Lagaligo Bua.

“Kita lihat sisi positifnya. Bandara Bua tetap akan menarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Tana Luwu utamanya Palopo. Jualan kita di kota Palopo bukan hanya Pariwisata, tetapi ekonomi, industri perniagaan dan pendidikan,” sebut Ilham.

Dengan diresmikannya Bandara Toraja ini akan menjadi satu keuntungan besar bagi daerah tetangga khususnya kita Palopo, karena di samping dapat meningkatkan perekonomian daerah dan juga dapat menciptakan lapangan kerja dan tidak kalah pentingnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (Ekraf) akan lebih meningkatkan arus kunjungan wisatawan, baik manca negara maupun wisatawan lokal, tambah Ilham.

Untuk mengimplementasikan hal itu, lanjut Kadis Parekraf Palopo, pihaknya akan melakukan kerjasama dengan Pemda Tana Toraja cq. Dinas yang membidangi pariwisata dan industri pariwisata yang ada di Toraja untuk mensinergikan programnya.

Selain itu, Ilham menilai, saat ini Palopo telah merampungkan Ranperda RIPPARDA, yakni Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah, yang sudah masuk dalam rencana pembahasan di Pansus Balegda, DPRD Palopo.

“Setelah Perda RIPPARDA ini jadi, karena itu adalah blue print, konsep kepariwisataan yang kita susun, maka dampaknya diharapkan mampu menjadi “kitab suci” bagi pengembangan kepariwisataan di 9 kecamatan di kota Palopo, insha Allah kita tak perlu cemas (dengan dibukanya Bandara Toraja), karena kami hanya cemas dengan Pandemi, semoga ini berakhir dan Pelaku Usaha Pariwisata di kota Palopo kembali bisa bangkit,” tutupnya.

(*)

ADVERTISEMENT