Survei Versi Indikator, Wija To Luwu Terancam Gigit Jari di DPR RI

4323

PALOPO — Indikator Politik Indonesia (IPI) merilis hasil survei yang dilakukan pada 24 Februari – 4 Maret 2019. Lembaga pimpinan Burhanuddin Muhtadi ini melakukan survei untuk peta elektoral Pileg dan Pilpres 2019 di Sulawesi Selatan.

Termasuk melakukan survei caleg yang berpeluang lolos ke DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) 3 Sulsel. Indikator merilis ada tujuh nama yang berpeluang besar lolos ke Senayan dari Dapil 3. Mereka adalah Abdillah Natsir dan Muhammad Fauzi (Golkar), Latinro Latunrung (Gerindra), Yacobus Camarlao Padang (PDIP), Rusdi Masse (Nasdem), Mitra Fahruddin (PAN), Frederick Sorring (Demokrat).

Dari tujuh nama tersebut diatas tidak ada satupun diantaranya yang merupakan produk Wija To Luwu (WTL). Hanya, Muhammad Fauzi yang tercatat sebagai suami dari Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani.

Jika merujuk hasil survei, tiga caleg incumben WTL yakni Bahrum Daido (Demokrat), Andi Fauziah Hatta (Golkar) dan Andi Luthfi Mufty (Nasdem) dipastikan tersingkir. Kursi PPP yang diduduki oleh Abubakar Wasahua, menurut survei disalip oleh PDIP pada pileg kali ini.

Bahrum Daido yang sebelumnya sudah dua periode duduk di DPR RI, hanya berada di urutan kedua di bawah mantan Bupati Toraja Utara, Frederick Batti Sorring. Begitu juga di partai Golkar. Kendati diprediksi tetap meraih dua kursi, namun Andi Fauziah, hanya berada di urutan ketiga menurut hasil survei.

Urutan pertama diraih oleh Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulsel, Abdillah Natsir. Abdillah dikenal punya basis di Kabupaten Pinrang.

Sementara di Nasdem, Lutfi harus bekerja keras untuk menumbangkan keperkasaan mantan Bupati Sidrap dua periode, Rusdi Masse (RMS). Dalam survei tersebut tingkat elektabilitas RMS sebesar 4,8 persen.

Paling tinggi diantara seluruh caleg Dapil 3. Sementara Lutfi hanya meraih 2,3 persen. Pada pileg 2019 ini, ada sejumlah figur yang menjadi caleg di DPR RI. Mereka tersebar di sejumlah partai.

Antara lain Muchtar Lutfi, Hayarna Basmin, dr Ani Nurbani, Andri Alimuddin dan Agustini Karno di Partai Nasdem, Andi Tenri Karta dan Arsyad Kasmar di Partai Gerindra dan lainnya.

Caleg DPR RI Partai Demokrat Nomor urut 7 , Muhammad Devhy Bijak yang dihubungi via WhatsApp mengaku belum melihat hasil survei Indikator secara keseluruhan.

” Tapi, kalau memang itu benar, saya bersama tim harus meningkatkan sosialisasi ke tengah masyarakat,” kata putra Wakil Bupati Luwu, Syukur Bijak ini.

Dhevy sapaan akrabnya mengaku beberapa bulan terakhir ini, dirinya bersama tim kerabat, relawan maupun tim pemenangan terus melakukan sosialisasi ke masyarakat.

Bukan saja di Kabupaten Luwu yang menjadi basisnya, tetapi hampir semua kabupaten yang masuk di Dapil 3 Sulsel. Selain tokoh masyarakat dan tokoh agama, Dhevy menyasar ke pemilih milenial atau pemula.

Sementara itu, jurubicara Muhammad Fauzi, Haeruddin Kasim, yang dimintai tanggapannya mengaku bersyukur atas hasil tersebut. Hanya saja, kata dia survei ini tak boleh menjadi rujukan apalagi membuat tim puas dengan hasil yang dicapai.

” Muhammad Fauzi menyampaikan kepada seluruh tim agar tak boleh kendor dengan hasil survei ini. Tetap bekerja dan sosialisasi ke masyarakat,” katanya.

Haeruddin mengatakan sejak beberapa bulan terakhir ini, tim pemenangan Abang sapaan akrab Muhammad Fauzi terus bergerak di seluruh kabupaten di Dapil 3 Sulsel.

Respon masyarakat cukup antusias dalam menyambut suami dari Bupati Luwu Utara. ” Ini membuktikan bahwa Abang yang dikenal sebagai politisi santun diterima di semua kalangan,” katanya.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia di Provinsi Sulawesi Selatan yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Dalam survei ini jumlah sampel sebanyak 1000 orang. Dengan metode multistage random sampling Desa/kelurahan di tingkat Kecamatan dipilih dengan jumlah proporsional, dan dengan memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sebesar ±3.2% pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. (adn)