SERUYA WEEKEND — Jika anda, warga Tana Luwu yang kebetulan jalan-jalan hendak ke Makassar dan melihat ada sebuah resto yang ramai dengan pengunjungnya, dan berada di tepian pematang sawah dengan interior yang elegan, eksotik dan punya ciri khas tersendiri, tak salah lagi, anda memasuki wilayah Sidenreng Rappang atau Sidrap.
Karena, itu tandanya jika anda sedang berada di sekitaran Resto Tepi Sawah yang terletak di Jalan Poros Soppeng-Sidrap, kurang lebih 2 kilometer dari Pangkajene ibukota Kabupaten Sidrap, tepatnya di Desa Tanete, Maritengae.
Sebagai lumbung beras nasional, menurut Ferdhy, pemilik Resto ini saat dihubungi Koran Seruya via telepon, Sabtu (6/2/2021) yang mengaku jika ia merasa terpanggil untuk memberikan edukasi kepada generasi muda, sekaligus sebagai motivasi, agar kaum milenial tak melupakan histori dan kultur budaya Bugis-Makassar yang begitu erat dengan kultur pertanian, khususnya padi atau beras.
“Sidrap ini dikenal sebagai lumbung beras Sulsel bahkan Nasional. Daerahnya istri saya. Kalo saya sendiri asalnya dari Wajo. Saya tidak terinspirasi dari mana-mana, saya cuma ingin sebagai anak muda, kita turut berkontribusi bagi bangsa dan negara lewat kuliner, apalagi memadukan unsur edukasi tentang pertanian dan budaya tradisional kita sebagai orang Bugis,” tutur ayah dua anak, berusia 28 tahun ini.
“Saya bercita-cita, di tempat ini, nanti ada Penari yang sambil menggiling pagi dengan lesung ikut Mappadendang, budaya kita ini jangan sampai hilang. Banyak anak-anak muda sekarang yang tidak peduli lagi dengan budaya leluhurnya, orang-orang tua kita kita dulu. Mereka asyik dengan gadgetnya masing-masing.”
Resto Tepi Sawah ini sendiri launching pada 7 Januari lalu, atau kurang lebih baru satu bulan, tapi namanya sudah mulai menggaung dan viral di sosial media. Wah hebat!
Ferdhy mengatakan, di masa pandemi kita tak boleh tinggal diam, tetap harus semangat, berjuang meningkatkan ekonomi masyarakat, agar segera pulih.
“Saya punya 23 orang tenaga kerja, tenaga lokal disini semua saya ambil. Koki ada 3 orang. Kami ingin memberdayakan tenaga lokal. Semoga hadirnya Tepi Sawah ini bisa menjadi pemacu semangat adik-adik, anak-anak muda ini untuk berkreasi memajukan sektor UKM, lakukan yang bisa kita lakukan, semampu kita dulu, jangan dipaksakan harus langsung besar,” papar mantan Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sulsel ini.
Muhammad Ferdhy Asdana, nama lengkap owner yang jebolan S1 dan S2 Universitas Negeri Makassar (UNM) ini merasa tertantang karena melihat anak muda zaman Now, menurutnya, banyak yang pintar dan menguasai teknologi tetapi tak mau berinteraksi dan menciptakan nilai-nilai positif.
“Saya lulusan S1 dan S2 master pendidikan di UNM, sebenarnya salah jurusan, harusnya saya mengajar atau jadi dosen, hahaha,” ucap sang Owner sambil tertawa.
Menariknya lagi, di Tepi Sawah ini, gelas yang digunakan adalah gelas lurik dari besi. Serta piring tempo doeloe yang terbuat dari alumunium.
Konsep jadul ini, kata Ferdhy, ingin mengembalikan ingatan pengunjung akan kehidupan zaman dahulu yang sederhana tapi berkesan.
Gelas Lurik ala Jokowi ini, menurut staf ahli di Fraksi NasDem DPRD Sulawesi Selatan ini ia dapatkan dengan susah payah, lantaran stoknya yang semakin langka, dan hanya ada di Pulau Jawa.
“Saya cari sampai di Jakarta, Alhamdulillah akhirnya ketemu juga, dengan perjuangan yang berat, karena sudah tekad saya, saya cari terus sampai dapat barang ini,” akunya.
“Bagi saya Jokowi adalah idola. Ia bukan anak raja, anak orang kaya, dari kalangan jelata tetapi bisa jadi Pemimpin, itu hal yang luar biasa menurut saya,” imbuhnya.


