73 Tahun Lalu, 40 Ribu Jiwa Rakyat Sulsel Dibantai Keji

442
Monumen Korban 40.000 Jiwa rakyat Sulsel di Makassar

HARI ini, 11 Desember 2019, diperingati sebagai Hari Korban 40.000 jiwa rakyat Sulsel. Tahun ini, peristiwa mengenaskan itu diperingati yang ke-73 tahun.

Peristiwa pembantaian 40.000 jiwa rakyat Sulsel ini, terjadi saat masa penjajahan Belanda dipimpin Kapten Raymond Westerling. Saat itu, tentara Belanda secara kejam membantai dan membunuh 40.000 jiwa rakyat Sulsel. Para korban kemudian dikuburkan secara massal di sebuah lokasi yang kini menjadi Monumen Korban 40.000 Jiwa.

Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah memimpin upacara peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel ke-73, di Monumen Korban 40.000 jiwa. Nurdin mengenang kejinya penjajah Belanda membantai dan membunuh 40.000 rakyat Sulsel.

“Hanya bangsa yang besar yang bisa menghargai pahlawannya. Setiap kali kita memperingati Hari Korban 40.000 jiwa, maka setiap itu juga kita mengingat bagaimana perjuangan para pahlawan kita,” ujar Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

“Sebenarnya kalau kita (kenang) ini sangat menyayat hati kita, melihat begitu sadis, dan begitu tidak berperikemanusiaan,” lanjut Prof Andalan, sapaan karib Nurdin Abdullah.

Ditegaskan Nurdin Abdullah, peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa bukan momentum untuk membalas dendam. Peringatan tersebut harus membuat arwah para korban tersenyum dengan melihat pembangunan daerah yang semakin baik.

Untuk itu, pesan Nurdin Abdullah, para penerus bangsa ini tak sekadar menghormati jasa pahlawan dengan mengikuti upacara bendera. Yang tidak kalah penting, generasi bangsa harus mampu memberikan andil dengan mengisi kemerdekaan melalui pembangunan.

“Bagaimana supaya seluruh pahlawan kita ini bisa bahagia ketika melihat seluruh perjuangan-perjuangan selama ini dilanjutkan dalam bentuk yang lain, yaitu mendorong ekonomi kita semakin baik, masyarakat kita sejahtera, pembangunan secara merata,” jelasnya. (*/tari)