Aniaya 12 Murid Peserta Kemah, Guru Diringkus Polisi di Luwu Timur

1593
Babinsa Desa Atue bersama polisi dan warga saat mendata korban penganiayaan di lokasi kejadian.

MALILI–Entah apa yang merasukinya, AKN, seorang guru pendamping pramuka dari MTS As’adiyah Malili, Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulsel, menganiaya 12 muridnya yang tengah mengikuti perkemahan di lokasi Perkemahan Dusun Harapan, Desa Atue, Kecamatan Malili.

Kasus penganiayaan ini terjadi sekitar pukul 01:30 Wita, Jumat dini hari, 8 November.

Informasi dihimpun KORAN SERUYA, pelaku berinisial AKN sebelum menganiaya siswanya terlebih dulu merusak tenda siswa menggunakan badik. Setelah itu, AKN mengumpulkan para siswa keluar dari lokasi kemah.

Pelaku meminta para peserta berbaris, dimana siswa di barisan depan dan siswi di barisan belakang. Dalam keadaan berbaris, AKN memukul betis dan paha siswanya menggunakan balok sehingga para korban menderita luka memar di betis dan paha.

Belum lagi, AKN menyuruh para korban berguling di tanah. Beberapa korban mengaku, AKN meludahi mereka saat berguling-guling di tanah.

Beberapa warga yang berada di sekitar lokasi perkemahan mendengar teriakan para siswa. Mereka mendekati lokasi perkemahan. Saat itulah, warga menyaksikan para siswa tengah dianiaya oleh AKN.

Warga kemudian mengamankan pelaku. Selanjutnya warga melaporkan kejadian tersebut ke aparat kepolisian dan Babinsa di desa itu. Polisi ke lokasi kejadian untuk mengamankan AKN. Para korban penganiayaan kemudian dibawah ke Puskesmas Malili untuk mendapat pengobatan.

Babinsa Desa Atue, Serka Yosef Muktio mengatakan, pelaku sudah diamankan polisi setelah warga memergoki AKN menganiaya sejumlah siswa. “Beberapa warga yang melaksanakan penjagaan/ronda di posko dekat tempat kejadian mendengar teriakan dan tangisan beberapa siswa, hingga warga mendatangi lokasi dan mengamankan guru pendamping pramuka tersebut,” ucap Babinsa Desa Atue Serka Yosep Muktio.

Adapun murid yang jadi korban penganiayaan, yakni Mustofa, 14 tahun, Krisna, 15 thn, Rendi, 14 tahun, Aco, 14 tahun, Aril, 13 tahun.

Korban lainnya, yakni Riska, 14 tahun, Fani, 14 tahun, Mesya, 15 tahun, Andini, 13 tahun, Devi, 14 tahun, Fitra, 15 tahun, dan Ribi, 14 tahun.

“Para murid ini rata-rata menderita luka memar di betis dan paha,” kata Serka Yosef Muktio. (iys)