Peserta Kursus Asal Luwu Salut Marwal Iskandar Gairahkan Lagi Sepakbola di Sulsel dan Kampung Halamannya Sendiri

463
Akmal Anas, coach Soccer School di Bajo kabupaten Luwu memberikan testimoni soal Marwal Iskandar dalam kiprahnya memajukan sepakbola Tana Luwu dan Sulsel. (Foto: Iccank/Koran Seruya)
ADVERTISEMENT

PALOPO–Hanya dalam hitungan bulan, kota Palopo mendapat kepercayaan dari PSSI untuk menggelar Kursus Pelatih yang diikuti peserta yang didominasi Wija To Luwu serta juga yang berasal dari beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan.

Setelah Kursus Lisensi D awal Maret tahun ini, Askot PSSI Palopo kembali menggelar Kursus Pelatih Lisensi C AFC Awal Juni 2021.

ADVERTISEMENT

Semua tak lepas dari perhatian penuh seorang legenda Gaspa Palopo yang fenomenal, H. Marwal Iskandar, yang juga alumni PSM Makassar.

Digelarnya Kursus Pelatih itu membuat Marwal memanggil sahabat-sahabat lamanya serta calon pelatih profesional se-Sulsel untuk bergabung dan menjadi peserta kursus Pelatih lisensi D dan C yang digelar beruntun di kota Palopo.

ADVERTISEMENT

Di mata salah satu Peserta kursus, Faisal Rizal, eks pemain Gaspa Palopo era 95, ia memuji sosok Marwal Iskandar sebagai tokoh sepakbola Sulsel khususnya di Tana Luwu yang begitu konsisten membangkitkan persepakbolaan di kampung halamannya sendiri.

Dua sahabat lama, Faisal (kiri) dan Marwal Iskandar (kanan) bernostalgia saat Kursus Pelatih Lisensi C AFC di kota Palopo. (Foto: Iccank/Koran Seruya)

Ical sapaan akrab breaker (gelandang bertahan) kawakan di Tim Porda Palopo tahun 1995 itu mengatakan, hadirnya kembali Marwal di Tana Luwu saat ini bisa membuat roh sepakbola dan kejayaan Gaspa bangkit kembali.

ADVERTISEMENT

Setelah lama berpisah Ical mengaku kagum dan tak menyangka garis tangan Marwal Iskandar yang punya sapaan akrab Kandacong itu bisa terus bersinar meski tak lagi menjadi pemain sepakbola profesional.

“Dulu kami sama-sama di Porda di Makassar tahun 95 mewakili Tim Sepakbola Luwu, waktu itu masih 1 kabupaten di Luwu Raya sebelum pemekaran, setelah itu kami berpisah, saya ke Putra Samarinda, Marwal ke PSM,” cerita Faisal.

Pertemanan puluhan tahun lalu itu masih terjalin hingga saat ini, meski Faisal sekarang lebih banyak di Parepare mengurusi Sekolah Sepakbola di sana (Habibie Football School).

Lain halnya Akmal Anas, pelatih SSB di kecamatan Bajo Kabupaten Luwu itu merasa Coach Marwal yang kini sebagai Instruktur Nasional di PSSI dinilai sangat vital dalam memajukan sepakbola Tana Luwu.

“Kalau kita bicara tokoh sepakbola di Tana Luwu ini dalam skop Luwu Raya maka nama Marwal Iskandar ada di ranking paling atas dalam hal memajukan sepakbola dan perhatiannya atas pembinaan usia muda,” sebut Akmal.

“Beliau (Marwal, red) selalu memotivasi kami untuk membuat sekolah bola bagi perkembangan sepak bola di Kabupaten Luwu, dia banyak membantu apalagi cita-citanya ingin agar Sulsel yang dulu dikenal lumbung pemain berbakat bisa ikut bangkit, dengan metoda pelatihan yang update dengan perkembangan sepak bola Internasional saat ini,” ungkap Akmal.

Akmal yang kini membina 70 siswa di Soccer School Bajo berharap Marwal Iskandar bisa terus berkiprah tidak saja di tingkat Nasional tetapi tetap fokus memberi kontribusi bagi sepak bola di kampung halamannya.

“Saya rasa Coach Marwal yang selama ini sudah banyak melanglang buana keliling Nusantara sudah waktunya lebih mencurahkan perhatian pada kemajuan sepakbola Sulawesi Selatan dan khususnya lagi Tana Luwu,” kuncinya.

Sementara, Marwal Iskandar yang dihubungi Koran Seruya di sela-sela Kursus Pelatih di Stadion Lagaligo mengaku jika apa yang dilakukannya selama ini hanya demi kemajuan olahraga yang ia ganrungi sejak kanak-kanak itu.

“Terima kasih jika diapresiasi, saya berprinsip, biarlah saya bekerja dan membantu orang ataupun Tim tanpa perlu diketahui banyak orang. Saya cukup jadi pemain belakang layar saja, yang ingin berkontribusi tanpa harus tampil kelihatan sendirian di depan, semua teman-teman di PSSI sudah paham sejak dulu karakteristik saya,” ujarnya merendah sekaligus berterimakasih atas sanjungan kepada dirinya, seorang putra “kamase” yang lahir di Palopo, kini bergelar instruktur Nasional sebelum bermain di 8 klub profesional dan juga pernah berguru di Jerman itu.

(*)

ADVERTISEMENT