Tak Bisa Mudik dan Terpaksa Berlebaran di Papua Barat, Tokoh Asal Luwu Saifuddin Kasim Sudah Terbiasa Jadi “Bang Toyib”

530
Kepala Bidang Perhubungan Laut dan Udara, Dishub Teluk Bintuni Papua Barat Saifuddin Kasim, ST., M.Si dan istri tercintanya Hj. Asni, S.Pi
ADVERTISEMENT

TELUK BINTUNI–Bagi umat muslim, mudik (pulang kampung) dan merayakan lebaran bersama sanak keluarga dan kerabat dekat, adalah hal terindah serta jadi impian semua orang.

Namun bagi Saifuddin Kasim, makna lebaran Idul Fitri tahun ini sama seperti tahun sebelumnya, dimana tahun lalu juga, dengan adanya larangan mudik dari Pemerintah, khususnya bagi ASN, membuat dirinya, mau tidak mau, suka atau tidak suka, tetap harus tinggal di Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat, melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai abdi negara.

ADVERTISEMENT

Tokoh asal Belopa Kabupaten Luwu itu saat dihubungi Koran Seruya via telepon, Selasa (11/5/2013) mengaku sudah terbiasa dengan situasi seperti lirik dalam lagu Bang Toyip yang katanya 3 kali lebaran nggak pulang-pulang. Ya ampun.

Lebaran tahun ini, dia pun harus rela seorang diri, lantaran istri dan 4 anaknya sudah berada di Belopa Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

ADVERTISEMENT

“Tahun lalu tidak pulang kampung, tahun ini juga, karena masih ada larangan dari Pemerintah. Ya, mau gimana lagi, kita tuh kan harus patuh sama perintah atasan kita. Lagi pula kita di Indonesia masih harus mewaspadai virus corona yang semakin bermutasi dan banyak varian baru, jangan sampai kita kayak India, yang fenomenanya mirip,” jelas Saifuddin tatkala ditanya alasan, kenapa masih betah lebaran di kampung orang.

Saifuddin Kasim kini masih menjabat Kepala Bidang Perhubungan Laut dan Udara di Dishub Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.

Meski begitu, suasana ramadhan dan terlebih lebaran di kampung halaman masih terngiang. Momen berharga pas bulan puasa paling ia rasakan adalah saat bangun makan sahur dan memandang sawah ladang di desanya yang terhampar luas membentang di kawasan Belopa Utara. Tapi hasrat itu harus ia pendam demi panggilan tugas yang akan ia paripurnakan.

Soal maju di perhelatan Pilkada Luwu, Saifuddin Bilang Begini

“Saya masih 5 tahun lagi pensiun, tentu saya harus siapkan ‘bekal’ nanti setelah ini, what next, apalagi nih ladang pengabdian yang harus aku lakoni?,” tanyanya.

“Bisa jadi, nanti saya tetap di Papua, atau kembali ke kampung halaman, mencari peluang-peluang untuk menghabiskan sisa usia bersama keluarga dan masyarakat,” ucap Saifuddin yang rupanya masih belum mau “berterus terang” apakah bakal maju bertarung di Pilkada Luwu 2024.

Selain karena masih lama purna tugas (pensiun), Saifuddin juga mengaku lebih enjoy menikmati kehidupannya saat ini daripada harus bermimpi terlalu tinggi. “Mungkin nanti ada saatnya juga. Makanya saya sudah bikin SKF, Saifuddin Kasim Foundation. Sebuah yayasan yang bergerak di bidang ekonomi kerakyatan, yang membantu masyarakat kecil utamanya Petani yang mau beternak ayam kampung,” tuturnya.

Pejabat eselon III itu mengungkapkan, dirinya sudah punya jejaring dengan 15 kecamatan di Kabupaten Luwu yang memanfaatkan fasilitas bantuan SKF tadi untuk membantu masyarakat menopang perekonomian mereka di tengah Pandemi Covid-19 yang seolah tak berkesudahan ini.

“Sudah hampir 5 bulan (berjalan), alhamdulillah, kita sudah jalan di kurang lebih 15 kecamatan. Sudah ada sekitar 400-an peternak yang kami bina. Mereka (calon peternak) hanya menyiapkan lahannya saja. Nanti kami sendiri yang siapkan bibit ayam, peralatan, makanan ternak (pakan) dan obat-obatan. Ini akan terus kami kembangkan sampai ke desa-desa dan pada saatnya nanti akan menciptakan peternak mandiri dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi ikon Kab. Luwu sebagai salah satu daerah penghasil daging (ayam, kambing, sapi dll),” imbuh Saifuddin.

Nampaknya, Saifuddin lebih suka berbuat banyak tanpa harus berisik, Diam-diam ia telah bekerja nyata bagi kemajuan kampung halamannya, dibanding tokoh-tokoh lain di Tana Luwu, yang biasanya lebih banyak koar-koar di Sosmed, protes dan kritik sana sini, tapi tanpa dibarengi dengan berbuat sesuatu bagi kemajuan daerahnya. Atau yang biasa disebut OMDO alias NATO.

Bukan hanya membantu masyarakat dengan memberdayakan Peternak ayam kampung, Saifuddin juga berencana membuat ranch atau peternakan sapi dengan skala besar, dan masih di Kabupaten Luwu, tentu saja.

“Saya punya lahan 44 hektar di daerah Padang Sappa, Ponrang, Luwu. Nanti saya mau buat peternakan sapi bersama mitra usaha kami. Kita masih kekurangan daging sapi segar. Soalnya kita masih impor daging dari negara lain, seperti kata Pak Jokowi. Saya rencana buat semacam ranch khusus sapi, sehingga kita bisa memberdayakan peternak lokal kita. Insha Allah, sedang kami siapkan,” ungkapnya.

Kembali ke soal lebaran Idul Fitri yang sisa satu hari lagi.

Jadi, menu apa nih yang paling favorit dan spesial bagi seorang abang toyib, eh maaf, abang Saifuddin Kasim? “Sama seperti kebanyakan orang, saya hobi makan buras, opor ayam dan lainnya penganan di hari raya. Kalau ketupat sih itu pasangannya cocok dengan coto yang berkuah. Wah nikmat sekali, apalagi jika ditambah kapurung, tapi orang disini bilang Papeda, pasti lebih mantap,” ulasnya.

Tak lupa, di ujung percakapan via telepon, Saifuddin Kasim turut menyampaikan salam lebaran bagi semua kerabat dan handai taulan, khususnya masyarakat di Kabupaten Luwu.

“Saya, Saifuddin Kasim, ST., M.Si dan istri saya Hj. Asni, S.Pi, kami sekeluarga memohon maaf sebesar-besarnya bilamana ada kekhilafan selama ini, mohon dimaafkan. Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin.”

“Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal ya karim. Barakallahu fiikum,” ucapnya dengan tulus.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah bagi seluruh umat muslim yang merayakannya.

Naskah/editor: Iccank Razcal

(*)

ADVERTISEMENT