Diskusi Virtual: Gelap Terang Pendidikan Online di tengah Pandemik Covid-19

272

KORANSERUYA–Diskusi virtual kali ini dilaksanakan oleh Netfid dan Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDi) Sulawesi Selatan dengan menghadirkan lima Narasumber dari berbagai kalangan dan dipandu oleh salah seorang anggota Netfid SulSel bernama Saenal Salman. Berlangsung pada pukul 13.40 WITA, dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting.

Kelima narasumber tersebut adalah Dr. Hj. Nur Setiawati Mappaseleng, M.Ag., Ph.D (JaDi Sulsel), Dr. Muh. Fachri Said, S.H., M.H (Dosen Universitas Muslim Indonesia), A. Appi Patongal (salah seorang pendidik di komunitas 1000 Guru Sulsel), Muhammad Aras Prabowo (Pengamat Politik dan Pendidikan sekaligus Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia), dan Muh. Shany Kasyaf (Pemerhati Pendidikan Alternatif).

“Siang ini, kita akan mengulas soal gelap dan terangnya pendidikan hari ini yang mengharuskan segenap elemen untuk berpartisipasi dalam meningkatkan taraf pendidikan Indonesia”, ucap moderator.

Selanjutnya diberikan waktu kepada seluruh Narasumber selaku pelaku di dunia pendidikan menelaah dari sudut pandang masing-masing tentang pendidikan yang beralih ke online learning.

“Kita merasakan bahwa gejolak dunia pendidikan memang tak henti-hentinya di bahas. Situasi yang dihadapi sekarang ini, membuat kita makin sadar peranan tenaga pendidik begitu besar, apalagi guru di Sekolah Dasar”, kata Dr. Muh. Fachri Said.
Kemudian silang pendapat pun diberikan kepada seluruh panelis. Tentu makin beragam perspektif, dapat membuka wawasan seluruh peserta diskusi virtual hari ini.

Kesemuanya sependapat bahwa tenaga pendidik dan peserta didik belum siap beralih ke metode perkuliahan daring. Lantaran, control-teacher tidak begitu intens. Dan keluarga patut menyadari interaksi berkelanjutan harus dilakukan, supaya sang anak dapat nyaman dan mengefektifkan pembelajaran online untuk mencerdaskan kehidupan buah hati.

“Saat ini, kita diharuskan untuk mendayagunakan seluruh potensi tenaga pendidik demi kenyamanan peserta didik sewaktu menerima pembelajaran daring. Olehnya itu, kita jalan terlalu agresif, dan interaksi kita perlu ditingkatkan agar peserta didik dapat khidmat menerima pembelajaran, apalagi tidak semua daerah seragam koneksi internetnya”, ujar Muhammad Aras Prabowo.

Pertemuan tersebut sangat interaktif, dan berakhir pada pukul 16.20 WITA. Lebih dari 30 orang peserta diskusi virtual antusias mengikuti diskusi kali ini.

Sebelum diskusi berakhir, Kepala Seksi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Islam Negeri Kementrian Agama RI bernama Amiruddin Kuba, M.A. Beliau turut memberi komentar soal pendidikan hari ini.

“Walau bagaimana pun, seluruh elemen pendidikan harus punya kemampuan beradaptasi. Kita mendapati problem di lapangan terkait keluhan hampir seluruh instansi pendidikan. Alhasil, kami tetap mengupayakan agar 10% akan disubsidikan dan kemudian dialokasikan untuk menutup segala kekurangan dunia pendidikan hari ini”, tandasnya.

Komentar moderator turut menghiasi respon soal dunia pendidikan. Dia berpesan bahwa semoga pasca pandemic Covid-19 ini dunia pendidikan Indonesia dapat maju dan berdaya kompetitif dalam mencetak generasi penerus bangsa.

“Olehnya itu, mari bersama-sama ikut berpartisipasi dalam meningkatkan taraf pendidikan Nasional. Kita jangan terhenti, meskipun tantangan hari ini begitu besar buat seluruh pelaku dunia pendidikan. Semoga dengan peristiwa ini, peningkatan mutu pendidikan dapat sesuai dengan amanat UUD 1945”, tutupnya. (rls)