ATI Dewantara Palopo Gelar Lomba Standup Comedy, Temanya: Kritik DPR

130
ADVERTISEMENT

PALOPO–Standup Comedy Competition pertama yang dilakukan kalangan perguruan tinggi sukses digelar di kota idaman, Palopo pada Sabtu petang (12/12) di Kampus Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo (ATI DP), di Jalan Ahmad Razak, Wara.

Ketua panitia event, Muh Yamin yang juga mahasiswa ATI DP mengatakan, tujuan dari kegiatan tersebut sebagai wadah masyarakat umum untuk menuangkan kegelisahan terhadap kondisi bangsa dan negara lewat komedi.

ADVERTISEMENT

“Respon masyarakat cukup baik dengan kegiatan ini. Itu bisa dilihat dari banyaknya jumlah penonton yang turut meramaikan kegiatan ini,” sebut Yamin.

Lomba ini terlaksana dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan mengingat pandemi covid-19 masih berlangsung, dengan jumlah peserta sebanyak 15 orang.

ADVERTISEMENT

Salah satu dewan juri, yang juga Ketua Komunitas Standup Comedy kota Palopo, Anjas Wirabuana, memberi apresiasi atas terlaksananya event ini, yang menurutnya sangat bagus dijadikan sebagai ruang untuk menyuarakan aspirasi dalam bentuk lain, tanpa harus melakukan demontrasi di jalan, sehingga hal ini bisa menjadi kritikan yang elegan dalam bentuk komedi.

“Ke depannya, saya berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti di tahun ini tapi bisa dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya. Ke depan dapat menghadirkan salah satu Anggota Dewan, agar aspirasi bisa langsung tersampaikan,” jelas Anjas, yang dikenal dengan nama panggung Anjas Chambank.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Direktur ATI DP, Dr. Suaedi MSi, mengaku sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa ATI DP.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan langkah awal bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat ke depannya, dan dapat melatih mahasiswa dalam hal kreatifitas, problem solving, dan team work.

Pemenang pertama di ajang ini, Muh Aksa diganjar hadiah uang tunai serta piagam. Saat open mic di hadapan juri dan tamu undangan, Aksa banyak menyentil kebiasaan buruk DPR yang di mata masyarakat masih kerap dipandang sebagai ‘tukang setempel’ semata bagi Pemerintah dan dinilai lebih banyak diam daripada bersuata kritis, menyuarakan aspirasi masyarakat.

Juara kedua, diraih Muh. Asbar B, juara ke 3 Hermawan dan juara favorit disematkan kepada Muhammad Qayyum. Bertindak sebagai dewan juri, masing-masing Risal Mantovani, Kastono, dan Anjas Wirabuana (Anjas Chambank). (iys)

ADVERTISEMENT