Giliran Ustad Dzulqarnain Didatangkan Pemkot Palopo

5972
Ustad Dzulqarnain M Sunusi. (ft/int)

PALOPO — Setelah mendatangkan ustad Khalid Basalamah belum lama ini, kini pemkot Palopo berencana mendatangkan ustad Dzulqarnain M Sunusi untuk mengisi tabligh akbar di Masjid Agung Luwu Palopo.

Pendiri pondok pesantren As-Sunnah Makassar akan memberikan siraman rohani kepada umat muslim Palopo sekitar awal September mendatang. Demikian diungkapkan Pj Walikota Palopo, Andi Arwien Azis melalui Kabag Humas, Eka Sukmawaty.

Menurut Eka, dalam rangka menambah ilmu dan kecintaan terhadap agama memang sudah seharusnya pemerintah rutin untuk menggelar majelis ilmu atau tabliqh akbar. Lanjutnya, seorang ketika berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian atau majelis ilmu, maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah. “Tentu juga bagi siapa saja yang menuntut ilmu di masjid akan mendapat semua keutamaan menuntut ilmu secara umum,” ungkap Eka.

Saat ini dengan kemajuan teknologi, internet dan sosial media, sudah sangat mudah mendapatkan ilmu. Namun sebaiknya lebih banyak menuntut ilmu di majelis ilmu dibandingkan melalui internet dan sosial media lainnya. “Semoga kita terus bersemangat untuk mendatangi majelis ilmu di dunia nyata tidak hanya mencukupkan diri total dengan ilmu yang didapatkan di dunia maya atau internet,” harapnya.

Sesuai agenda yang ada, kegiatan majelis ilmu akan di laksanakan pada Minggu, 21 Dzulhijjah 1439 H atau 2 September 2018 mendatang dan terbuka untuk umum bagi muslim dan muslimah. Kegitan itu juga direncanakan akan dilaksanakan dua sesi, yakni usai shalat Subuh hingga selesai, dan akan berlanjut pada pukul 09:30 WITA hingga menjelang sholat dhuhur, di Masjid Agung Luwu Palopo.

Sekadar tambahan, ustad Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi atau yang akrab disapa Abu Muhammad lahir di Kota Makassar pada tanggal 12 Agustus 1976. Ilmu agamanya bermula dari tahun 1994. Ia belajar bahasa Arab dan beberapa cabang ilmu syari’at lainnya di pulau Jawa. Mendekati pertengahan tahun 1995, ia mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu ke Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman. Dan ia terus menerus belajar di desa terpencil itu hingga pertengahan tahun 1999. Di Ma’had Darul Hadits Abu Muhammad hafal Al-Qur’an 30 juz dan memperlajari berbagai bidang ilmu syari’at. Semenjak kembali dari Yaman pada tahun 1999, ia banyak sibuk dengan mengajar dan menulis. Ia juga sibuk meneliti, membahas dan belajar hingga hari ini. (asm)