PBTL di Palopo Dimulai, Kirab Budaya Tarik Perhatian Warga

473
Peserta Kirab Budaya. (Foto : Liq Mughni)
ADVERTISEMENT

PALOPO — Pekan Budaya Tana Luwu (PBTL) resmi berlangsung, Senin (17/1/2022). Agenda pertama kegiatan itu ialah kirab budaya. Para peserta kirab budaya start dari Lapangan Pancasila Kota Palopo hingga ke Istana Kedatuan Luwu.

Dalam kirab budaya ini, ditampilkan seluruh anak suku yang berada di bawah naugan kedatuan Luwu. Mereka tampil dengan pakaian khas dan senjata tradisional mereka.

Warga Palopo sangat antusias melihat kirab budaya Tana Luwu. Sepanjang jalan, dipenuhi masyarakat yang ingin menonton parade kebudayaan itu.

Tak sedikit pula dari mereka membawa serta anaknya. Tujuannya, untuk memperkenalkan kebudayaan Luwu kepada buah hati mereka. Dengan begitu, anak mereka bisa mendapat pengetahuan mengenai Kedatuan Luwu.

ADVERTISEMENT

“Dari sini, anak-anak dapat mengetahui pakaian adat dari anak suku yang berada di naungan Kedatuan Luwu. Ada juga tarian dari berbagai suku di Luwu. Hal ini berdampak posiitif bagi anak dan tidak melupakan dari mana mereka berasal,” ujar salah seorang warga, Yusuf.

Sementara itu, Maddika Bua, Andi Syaifuddin Kaddiraja mengatakan, pekan budaya Tana Luwu digelar untuk menyambut dua hari besar bagi rakyat Luwu. Hari besar yang dimaksud ialah, hari jadi Luwu yang jatuh tanggal 21 Januari dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu yang diperingati setiap tanggal 23 Januari.

“Dua momen bersejarah bagi Rakyat Luwu diperingati secara berdekatan. Dua hari bersejarah ini merupakan momentum rakyat Luwu agar tidak melupakan kebudayaannya,” jelas Maddika Bua.

Khusus untuk hari perlawanan rakyat Luwu, Maddika Bua mengatakan bahwa hal itu merupakan bentuk ketegasan Datu-Pajung Luwu saat itu, Andi Djemma bahwa Kedatuan Luwu masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Ada ketegasan Andi Djemma saat diminta oleh NICA untuk menurunkan bendera Merah Putih yang berkibar di Istana Kedatuan Luwu. Dia mengatakan, jika bendera merah putih ini tidak diturunkan, maka dirinya akan mati di tangan Nica. Tapi, bila dia menurunkannya, dia akan mati dibunuh rakyatnya sendiri. Andi Djemma saat itu memilih untuk tidak menurunkan bendera Merah Putih dan memilih untuk memimpin perjuangan rakyat Luwu dalam mempertahankan kemerdekaan RI,” tuturnya.

“Untuk anak-anakku para generasi penerus bangsa, jangan lupakan sejarah. Kita harus bangga sebagai Wija To Luwu. Datu Luwu, Andi Djemma sudah mencontohkan bagaimana mempertahankan kemerdekaan, tinggal kita mengisinya dengan kegiatan yang positif dan tentu yang membuat harum nama Luwu,” pungkasnya. (liq)

ADVERTISEMENT