PPNI Palopo Kutuk Serangan Teroris KKB Tewaskan Nakes, Taufiq: Banyak Tenaga Medis Asal Luwu Raya dan Toraja Butuh Jaminan Keamanan di Papua

816
Ketua PPNI Kota Palopo, Taufiq
ADVERTISEMENT

KORANSERUYA.COM–Aksi keji yang dilakukan teroris Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, yang menewaskan seorang perawat bernama Gabriela Meilan, 22 tahun, dan melukai 4 tenaga kesehatan dan 1 hilang, membuat insan kesehatan di Tanah Air berduka. Insiden tak berprikemanusiaan yang dialami para pejuang kesehatan di daerah pelosok Papua itu menuai kecaman.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Palopo, Sulsel, termasuk ikut berduka cita sedalam-dalamnya atas gugurnya Gabriela Meilan, yang jenazahnya ditemukan dalam jurang sedalam 500 meter akibat serangan KKB ke Puskesmas tempatnya bertugas, di Kiwirok.

ADVERTISEMENT

PPNI Kota Palopo juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Gabriela Meilan dan para nakes yang luka-luka dan masih hilang akibat serangan KKB, atas pengabdiannya dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pedalaman di Papua.

“Selamat Jalan sejawat (Gabriela Meilan), kami lanjutkan perjuanganmu. PPNI Kota Palopo sangat berbelasungkawa atas musibah para nakes di Kiwirok,” kata Ketua PPNI Palopo, Taufiq kepada KORAN SERUYA, Jumat (17/9/2021).

Para nakes yang diserang secara keji dan tempat tugasnya dibakar, harusnya dijaga dan dilindungi karena mereka melaksanakan misi pelayanan kemanusiaan bidang kesehatan bagi masyarakat di daerah pedalaman Kiwirok, Papua.

Untuk itu, tegas Taufiq, PPNI Kota Palopo mengecam penganiayaan para nakes itu hingga salah seorang gugur dalam tugas, 4 luka-luka, dan 1 masih hilang.

“Sesungguhnya perawat adalah pelayan manusia dalam kemanusiaan harus dilindungi dan dijaga siapa saja, termasuk para KKB. Untuk itu, PPNI mengecam dan mengutuk keras penyerangan KKB tersebut,” tandas Kadis Kesehatan Kota Palopo ini.

PPNI Palopo, lanjut Taufiq, ikut mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas pelaku penganiayaan dan penyerangan Puskesmas Kiwirok dengan memberikan hukuman seberat-beratnya.

Dosen senior Akpes Kamanre Palopo ini menegaskan, tindakan kekerasan terhadap tenaga kesehatan yang dilakukan teroris KKB merupakan pelanggaran serius terhadap UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dan UU No. 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

PPNI Palopo dalam pernyataan sikapnya juga meminta pemerintah setempat, aparat keamanan dari unsur TNI dan Polri memberikan jaminan keamanan perawat dan petugas kesehatan lainnya yang sedang memberikan pelayanan kesehatan di Papua, termasuk mereka yang bertugas di pedalaman atau daerah terpencil.

“Jaminan keamanan sangat dibutuhkan supaya para tenaga kesehatan tidak ketakutan dan selalu khawatir dalam melaksanakan tugas pengabdian untuk pelayanan kemanusiaan,” kata Taufiq.

Dikatakan Direktur Akademi Keperawatan (Akper) Kamanre Palopo ini, banyak perawat asal Luwu Raya dan Tana Toraja, terkhusus Kota Palopo yang mengabdi di berbagai daerah di Papua dan Papua Barat.

Termasuk banyak alumni berbagai kampus kesehatan di Palopo yang bertugas di daerah itu, termasuk alumni Akper Kamanre Palopo, sehingga pihaknya patut meminta semua stakeholder terkait memberikan jaminan keamanan kepada para tenaga kesehatan di daerah konflik tersebut.

Diberitakan KORAN SERUYA sebelumnya, seorang suster atas nama suster Gabriela Meilan, 22 tahun, gugur dalam serangan KKB setelah Puskesmas Kiwirok diserang dan dibakar teroris KKB, Senin (13/9/2021) pagi lalu.

Gabriela bersama sejumlah rekannya kabur hingga nyawanya tak terselamatkan akibat melompat masuk jurang. Dalam insiden tersebut, satu nakes meninggal dunia (Gabriela Meilan), 4 nakes luka-luka, salah satunya Kristina Sampe Tonapa asal Toraja, Sulsel. Dan masih satu nakes dinyatakan hilang. (liq)

ADVERTISEMENT