Suhu Esktrim Landa Luwu Raya Capai 38,2 Derajat Celcius, Ini Imbauan BMKG Masamba

1266
ILUSTRASI

PALOPO–Suhu ekstrim melanda sejumlah daerah di Sulsel, termasuk di Luwu Raya. Suhu ekstrim ini mencapai 38,2 derajat celsius yang merupakan tertinggi selama bulan Oktober 2019.

Kepala Stasiun BMKG Andi Jemma Masamba, Luwu Utara, Winarno Nurdiyanto, mengatakan, suhu ekstrim di Sulsel saat ini hingga 38,2 derajat celsius
merupakan rekor tertinggi selama beberapa tahun terakhir.

“Sesuai data suhu maksimum yang tercatat selama beberapa tahun di BMKG Masamba, suhu tersebut merupakan rekor tertinggi yang terjadi pada bulan Oktober 2019, meski 4 daerah di Sulawesi Selatan yakni Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur (Luwu Raya) data suhu maksimum rata-rata yang tercatat di Stasiun BMKG Andi Jemma dari tanggal 19 – 22 Oktober 2019 adalah 34 celsius,” ujar Winarno, kemarin.

Dia mengimbau, masyarakat masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla.

Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya gelombang tingggi yang terjadi dengan ketinggian 1,25 hingga 2, 5 meter yang berpotensi terjadi di Selat Makassar bagian selatan, Perairan barat Sulawesi Selatan, Perairan Kepulauan Selayar, Perairan Sabalana, Teluk Bone bagian selatan, dan Laut Flores.

Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) RI, Mulyono R. Prabowo, dalam rilis mengatakan, pada tanggal 20 Oktober terdapat tiga stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi yang mencatat suhu maksimum tertinggi, yaitu Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) 38.8 °C, diikuti Stasiun Klimatologi Maros 38.3 °C, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera 37.8 °C.

Suhu tersebut merupakan catatan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, dimana pada periode Oktober di tahun 2018 tercatat suhu maksimum mencapai 37 derajat celsius.

Stasiun – stasiun meteorologi yang berada di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatatkan, suhu udara maksimum terukur berkisar antara 35 °C – 36.5 °C pada periode 19-20 Oktober 2019.

Berdasarkan persebaran suhu panas yang dominan berada di selatan Khatulistiwa, hal ini erat kaitannya dengan gerak semu Matahari. “Seperti yang kita ketahui pada bulan September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga bulan Desember. Sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagainya,” kata Mulyono dalam rilisnya.

Menurutnya, kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari. Selain itu pantauan dalam 2 hari terakhir, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari.

“Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara. Gerak semu matahari merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya,” ucapnya.

Mulyono mengatakan, bahwa dalam waktu sekitar satu minggu kedepan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan dan kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya. (fit)