Judas Ajak Wija To Luwu Satukan Persepsi

220
Wali Kota Palopo, HM Judas Amir

PALOPO-Wali Kota Palopo, Judas Amir mengajak seluruh Bija atau Wija To Luwu agar lebih mempererat persatuan dan persepsi antar sesama Wija To Luwu kedepannya.

Menurutnya, momentum Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) yang ke-74 ini merupakan momen yang tepat, untuk menyatukan persepsi antar sesama baik itu, persepsi tentang suku dan bahasa Luwu itu sendiri.

Sebab katanya, selama ini belum ada pengakuan yang secara rill yang menyebutkan Luwu sebagai sebuah suku yang memiliki bahasa daerahnya sendiri.

Hal tersebut, dikatakan oleh orang nomor satu di Kota Palopo, pada peringatan hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) yang ke-74 yang diperingati pada hari ini.

“Sampai detik ini belum ada kesepakatan para pihak bahwa bahasa Luwu ini, seperti ini. Ini menurut pemahaman saya, jika saya keliru saya mohon maaf,” katanya.

Tidak hanya itu, Judas juga membeberkan jika sejauh ini, dirinya juga belum menemukan satu pembicara yang menyebutkan adanya bahasa Luwu secara umum dan suku Luwu.

“Yang saya mau adalah saya minta tolong kalau ada bahasa Luwu dan suku Luwu, bagaimana kali ini, di momen hari jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu, kita memproklamirkan suku Luwu dan bahasa Luwu,” ujarnya.

Dia juga berpandangan, bahwa sebagai Wija To Luwu, ia secara pribadi mengatakan jika dirinya butuh pengakuan yang secara rill tentang keberadaan suku dan bahasa Luwu itu sendiri.

“Bagi saya pribadi, saya butuh pengakuan dari luar akan keberadaan bahasa Luwu dan suku, ini saya sebagai Bija Luwu. Saya berharap ini diproklamirkan jika memang tidak melanggar ketentuan agama, hukum dan adat istiadat kita,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Wali Kota dua periode ini juga menjelaskan jika menurut pengetahuannya, Bija atau Wija To Luwu ini, bukan hanya yang bermukim di wilayah Luwu Raya saja.

Namun katanya, terdapat sejumlah daerah baik itu di wilayah Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Tenggara yang pantas untuk disebut Bija To Luwu jika melihat dari sejarah Kedatuan Luwu itu sendiri.

“Mari kita memegang teguh nama daerah ini dan pesan-pesan dari nenek moyang kita, yaitu Tana Luwu. Kita ini Bija Luwu, baik itu dari Belopa, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja, Toraja Utara, termasuk Kolaka Utara dan Kolaka,” ujarnya

Hanya saja kata Judas Amir, kekurangan akan kesepakatan tentang bahasa Luwu ini, menjadi salah satu kekurangan yang mendasar untuk seluruh Bija to Luwu yang berada di luar wilayah Luwu Raya.

“Daerah di atas adalah daerah yang dihuni masyarakat Luwu, Bija Luwu. Hanya memang, ada kekurangan kita sebagai orang Luwu yang menurut saya kita tidak ada bahasa Luwu,” kunci Judas Amir. (Sya)