CATATAN ALE: Mutasi

523
Muhammad Nursaleh

Oleh: Muhammad Nursaleh

SAAT menuju rebahan, kusempatkan membuka satu pesan WA yang baru masuk. Isinya begini; nda digeser ji posisi ‘ ta bro ? Saya jawab, “Iye ndak ji kak. Kalau digeser juga ndak apa-apa ji kak. Wajar itu. Saya terima apa pun. Yang penting silaturrahmi ndak putus.”

Ia balas,”Alhamdulillah.”

Saya tak mau berbalas pesan ini berhenti secepatnya. Saya menulis lagi,”Hehehehehe. Apa yang dilakukan bupati adalah hal yang sudah mutlak harus dilakukan. Supaya jadi pelajaran. Terutama soal pentingnya menghargai sebuah pilihan. Tidak perlu harus kehilangan harga diri. Kalah ya kalah. Banyak orang tidak konsisten. Tidak dewasa. Mau jadi bagian dari sebuah kemenangan. Padahal dia berada di barisan pihak yang kalah.”

Terakhir ia menulis,” Iye cocok itu bro. Semua ini dinamika yg wajar saja. Kadang mmg perlu hal seperti ini.”

Pesan terputus. Selesai. Hape kuletakkan. Kubaringkan badan di samping istriku yang sejak tadi telah pulas setelah sebelumnya ia ngobrol soal atasannya yang dimutasi. Saya menanggapi dengan mengatakan hal itu wajar sewajar bupati memilih “orang-orang”-nya.

Istriku membenarkan. Termasuk ketika kukatakan jika seandainya saya dimutasi, dilepastugaskan dari jabatan, itu juga adalah hal yang wajar dan saya akan menerimanya lapang dada. Tidak perlu marah. Bukankah saya juga bagian dari orang-orang yang kalah yang sangat tidak pantas berharap anugerah dari sebuah kemenangan yang diraih orang lain.

Satu hal yang kutegaskan pada istriku, bahwa kita sepantasnya bangga bisa tetap pada pendirian, mampu konsisten berada di tengah labirin, di tengah-tengah pusaran orang-orang yang menyibukkan diri demi mempertahankan kursi, melakukan berbagai upaya untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan. Kita ini justru memilih menepi dengan kesiapan diri menanggung konsekuensi.

****

Saya paksa mata untuk tidak lekas tertutup. Kunyalakan televisi. Tayangan berita seputar kabinet Jokowi kupilih. Memang menarik ditonton sejak Jokowi dilantik. Bikin penasaran. Terutama siapa wajah yang akan diundang ke istana. Apalagi sejak beredarnya nama-nama kabinet bayangan di media sosial yang didominasi kaum muda sebagaimana desain yang diungkap Jokowi jauh sebelum dirinya dilantik. Jokowi berencana mengangkat menteri muda hingga merombak nomenklatur kementerian dan lembaga. Termasuk rencana mengganti menteri yang sebelumnya dinilai tidak beres, kinerjanya buruk ditambah main politik dua kaki.

Hari ini di istana negara, Jokowi sambil lesehan di beranda tangga istana begitu santai mengumumkan sekaligus memperkenalkan 38 wajah yang akan menghiasi kabinetnya di periode ke-2. Hari ini selain menunaikan tugasnya sebagai kepala negara, menaruh harapan besar kepada kabinetnya, pula Jokowi kepada seluruh rakyatnya juga telah menunjukkan politik balas budi. Memberi posisi terbaik bagi orang-orang yang dinilainya telah berjasa besar membantu kemenangannya di arena pilpres 2019.

Sebuah hal yang semestinya dilakukan seorang Jokowi dan itu adalah sebuah kewajaran yang tidak bisa dibantah. (*)

  • Muhammad Nursaleh adalah PNS di Pemkab Luwu. Penulis mantan wartawan beberapa media di Luwu Raya.