Cerita Dibalik Penangkapan Gubernur Sulsel, Mulai Aroma Konflik dengan Wakilnya Hingga Wacana Pilgub 2024

9059
ADVERTISEMENT

MAKASSAR–Kabar penangkapan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Sabtu dini hari (27/2/2021) ramai di media sosial. Bahkan, Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri membenarkan Operasi Tangkap Tangan (OTT), Sabtu (27/2/2021) dini hari.

Setibanya di Jakarta, Prof Andalan– begitu Nurdin Abdullah akrab disapa– langsung menjalani pemeriksaan. KPK memastikan, Nurdin Abdullah ditangkap terkait kasus dugaan korupsi.

ADVERTISEMENT

Diketahui, Nurdin Abdullah menjabat sebagai Gubernur Sulsel sejak 5 September 2018. Dia berpasangan dengan Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman. Sudirman ini merupakan adik kandung eks Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Nurdin-Sudirman sebelumnya menjabat sebagai Bupati Bantaeng selama 2 periode mulai 2008 hingga 2018. Pada Pilgub Sulsel 2018, Nurdin-Andi diusung tiga partai politik, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan Partai Amanat Nasional (PAN).

ADVERTISEMENT

Pada pemilihan yang diselenggarakan tanggal 27 Juni 2018, Nurdin Abdullah-Sudirman mendulang , 1.867.303 suara, mengungguli tiga orang pesaingnya.

Setahun setelah mereka menjabat, dinamika pun terjadi. Berembus kabar hubungan Nurdin dan Sudirman tidak harmonis. Pemicunya adalah pada 28 April 2019.

ADVERTISEMENT

Pada saat itu, Sudirman menerbitkan Surat Keputusan (SK) untuk melantik 193 orang dengan formasi jabatan eselon III dan IV. Tak berapa lama, Nurdin menganulir pelantikan itu.

Penyebabnya, kata Nurdin, pada saat itu adalah pelantikan seorang pejabat harus menggunakan peraturan gubernur, bukan hanya SK yang ditandatangani oleh wakil gubernur.

Sejak saat itu, aroma konflik internal mulai tercium. Namun, Nurdin pada saat itu tidak mau menyalahkan siapa-siapa usai menganulir pelantikan 193 pejabat di lingkungan Pemprov Sulsel oleh wakil gubernur.

“Kejadian kemarin tidak ada yang salah, tapi itu kesalahan proses. Karena kita paham mengangkat orang harus sesuai dengan kinerja, dan dinilai oleh tim penilai kinerja,” ujar Nurdin pada saat itu, dilansir KORAN SERUYA dari kumparan.com.

Polemik pengangkatan dan penganuliran pejabat itu juga membuat Nurdin diperiksa Pansus Angket DPRD Sulsel pada Agustus 2019.

Sejak saat itu, hubungan antara Nurdin-Sudirman masih diisukan kurang harmonis. Namun mereka saat di depan khalayak berupaya tetap kompak menjalankan roda pemerintahan Provinsi Sulsel.

Polemik lainnya adalah Wagub Sulsel Sudirman Sulaiman yang menghentikan check sound acara musik bertajuk Makassar Millenial Sound di Cafe Red Corner, Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Kecamatan Rappocini, Makassar.

Red Corner ini letaknya hanya 100 meteri dari rumah dinas wakil gubernur. Kabar yang beredar pada saat itu, Wagub Sulsel melalui stafnya menghentikan acara yang dihadiri sejumlah musikus beken itu karena mengganggu tidur siang. Kebetulan check sound dilakukan pada pukul 14.oo WITA.

Namun Devo Khaddavy, yang saat itu menjabat sebagai Kabiro Humas Pemprov Sulsel, mengatakan penyebab check sound dihentikan bukan karena Sudirman hendak tidur siang.

“Tetapi ia sedang menerima tamu di rumah jabatan, pas suara sound nyaring saat itu,” kata Devo, 28 Juni 2019.

Nah pastinya, OTT Nurdin Abdullah oleh KPK ini akan mengubah wajah perpolitikan di Sulsel menuju Pilgub 2024. Apalagi jika dalam perkara ini, Nurdin ditetapkan sebagai tersangka. Namun, kita tunggu saja perkembangan OTT Nurdin di KPK. (**)

ADVERTISEMENT