Dicari 2690 Petani Kakao Potensial di Luwu Utara untuk Peningkatan Produktivitas Kakao

77
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University bekerjasama dengan International Finance Coorporation (IFC) bersama mitra dari Olam Food Ingredients (OFI) dan Crowde, melaksakan kegiatan Dialog Pemangku Kepentingan Program Pendampingan Petani Kakao Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (29/6/2022), di Aula Kantor Bappelitbangda Luwu Utara. (Dok. Pemkab Luwu Utara)
ADVERTISEMENT

LUWU UTARA — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University bekerjasama dengan International Finance Coorporation (IFC) bersama mitra dari Olam Food Ingredients (OFI) dan Crowde, melaksakan kegiatan Dialog Pemangku Kepentingan Program Pendampingan Petani Kakao Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (29/6/2022), di Aula Kantor Bappelitbangda Luwu Utara.

Program pendampingan petani kakao ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kakao perkebunan rakyat, khususnya di Kabupaten Luwu Utara.

ADVERTISEMENT

Untuk diketahui, lokus dari Program ini hanya ada di tiga wilayah Indonesia, yaitu Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung, dan dua wilayah daerah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara.

Target dari program ini adalah 6000 petani kakao, khusus petani binaan OFI atau Olam, dengan sasaran 30 persen kaum perempuan dan kaum muda.

ADVERTISEMENT

Kabupaten Luwu Utara sendiri mendapat jatah terbesar, yaitu 2690 petani kakao, Kabupaten Luwu Timur 1510, dan Kabupetan Pesawaran 1800 petani. Mencari petani kakao potensial sebanyak 6000 petani menjadi tugas dari pelaksana program ini.

Koordinator Program Pendampingan Petani Kakao wilayah Luwu Utara dari LPPM-IPB University, Titik Sumarti menyebutkan bahwa ribuan petani kakao potensial ini nantinya akan diarahkan pada tiga hal mendasar, yaitu bagaimana petani dapat mengetahui praktik-praktik pertanian, menguasai teknologi digital, dan memahami literasi finance atau literasi keuangan.

ADVERTISEMENT

“Arah dari program ini adalah strategi pemberdayaan terhadap komunitas petani kakao dari kalangan perempuan dan pemuda. Kenapa harus mereka, karena kita tahu bahwa dalam komunitas petani kakao, tidak hanya petani kakao sendiri, tetapi ada keluarga, termasuk kaum perempuan dan anak-anak muda,” jelas Titik.

Kaum perempuan ini, kata dia, akan diberi kesempatan ikut di dalam kelembagaan kelompok petani, dan juga dapat ikut bermusyawarah dalam menentukan keputusan kelompok

Sementara kaum pemuda, ada tiga hal yang harus dimiliki untuk menjadi petani potensial, yaitu pertama kompetensi dan confidence, di mana mereka harus diberikan motivasi agar bangga menjadi petani kakao.

Kedua integritas, di mana mereka harus diberi pemahaman bahwa mereka adalah bagian dari komunitas petani kakao. Ketiga aksesibilitas, di mana mereka akan diberi kemudahan mengakses berbagai platform digitalisasi.

“Yang ditawarkan kepada kami sebagai mitra adalah bagaimana merekrut petani potensial melalui sebuah aplikasi seluler, yaitu e-Cocoa Aplication. Di mana mitra kami lainnya, yaitu IFC dan OFI, sudah memiliki aplikasinya,” kata Titik.

Dosen Dept Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University ini mengatakan bahwa aplikasi tersebut dapat digunakan petani untuk mengakses berbagai pelatihan via handphone.

“Kami punya staf lokal dan fasilitator desa yang semuanya adalah anak-anak muda lokal, yang punya komitmen mendampingi petani. Jadi, mereka ini yang akan membantu petani supaya mereka dapat mengakses aplikasi tersebut dengan baik,” terangnya.
Titik menyebutkan, ada dua pelatihan yang bisa diakses, yaitu Pelatihan Pemangkasan dan Pemupukan. “Dua kegiatan ini semuanya untuk produkvitas kakao, yaitu pangkas yang baik dan pupuk yang tepat,” imbuhnya.

Sekadar diketahui program ini menggunakan pendekatan holistik yang membahas akses ke layanan penyuluhan via aplikasi e-Cocoa, pembentukan fasilitator petani laki-laki dan perempuan, modul pelatihan literasi keuangan dan produk pinjaman melalui Fintech.

Nah, untuk mendukung program ini, IFC menugaskan LPPM IPB University melakukan implementasi pemberdayaan perempuan dan pemuda dalam praktik pertanian, teknologi digital, dan literasi keuangan.

Petani kakao ini nantinya tersebar di semua kecamatan di Luwu Utara, minus Rongkong, Seko, Rampi dan Bonebone.

Turut hadir sebagai Narasumber Kadis Pertanian Rusydi Rasyid; Kaids Kominfo SP Arief R. Palallo; serta Kepala Disporapar Jumail Mappile. Kegiatan ini dibuka Sekretaris Bappelitbangda Syawal Sammang. (LH)

ADVERTISEMENT