Terbaik Parade Cinta Tanah Air 2019, Dua Siswa Lutim Wakili Sulsel ke Tingkat Nasional

143

LUTIM – Dua orang siswa dari SMAN 7 Luwu Timur berhasil keluar sebagai juara 1 pada kegiatan Parade Cinta Tanah Air 2019 SMA sederajat Tingkat Sulsel. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

Parade cinta tanah air berlangsung dari tanggal 29-31 Juli 2019, bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla, area kantor Dinas Pendidikan Prov. Sulawesi Selatan.

Pada kegiatan ini, peserta yang lolos seleksi, wajib mempresentasikan karya essai inovatif mereka di depan dewan juri yang berasal dari Kemenhan RI, Dinas UKM dan Disdik Provinsi Sulawesi Selatan. SMAN 7 Luwu Timur berhasil meloloskan dua tim, masing-masing Rayu Kanran dan Muhammad Fikri sebagai tim 1 dan Jessika Mawarani dan Sandi sebagai tim 2.

Dari dua tim ini, mereka berhasil menyabet juara pertama lewat penampilan memukau tim 1 atas nama Rayu Kamran dan Muhammad Fikri, sekaligus mewakili Sulsel ke Provinsi Bali pada kegiatan Parade Cinta Tanah Air 2019 Tingkat Nasional pada bulan September mendatang.

Kedua siswa SMAN 7 Lutim ini membawakan essai yang berjudul “Meningkatkan Nilai Jual dan Eksistensi Pangan Lokal Melaluii Pemanfaatan Sagu (Metroxylon Sagurottb) Menjadi Fettucini Sagu Dengan Metode Sederhana Berstandar Sehat Dan Berkelas”.

Alasan mereka mengangkat judul ini dilatarbelakangi pada kebijakan impor pangan selama ini, dimana kondisi ini akan berdampak pada ketahanan pangan di Indonesia yang akan terus berdegradasi tanpa adanya sinergi dari pangan, padahal di Indonesia tersedia diversifitas komoditas surplus seperti sagu di Kabupaten Luwu Timur.

Luwu Timur dapat dikatakan sebagai surganya sagu dikarenakan kondisi klimatologis yang cocok bagi pertumbuhan tanaman sagu. Tanaman ini ideal sebagai pengganti pangan impor seperti beras karena kandungan patinya yang tinggi.

“Namun, untuk mematahkan persepsi masyarakat bahwa sagu itu primitif, maka kami memutuskan akan meningkatkan nilai jual sagu serta eksistensi pangan ini melalui fettucini sebagai platformnya,” ujar Rayu Kamran.

Kegiatan presentasi diawali dengan seremoni pembukaan lalu diteruskan dengan pameran karya inovasi sesuai judul essai yang akan dipresentasikan. Setelah itu, lalu dilanjutkan dengan presentasi hasil essai di depan para dewan juri selama 10 menit disambung dengan sesi tanya jawab antara dewan juri dan para peserta.

Khusus untuk tim yang menjadi juara 1, dewan juri yang terdiri dari 5 orang tersebut melakukan aksi debat yang cukup alot, namun mampu diimbangi dengan jawaban yang cukup cerdas dari Rayu Kamran dan Muhammad Fikri.

Sementara itu, Faizal Akbar, guru pembimbing siswa mengatakan bahwa, kegiatan ini sangat cocok untuk memupuk rasa cinta tanah air sejak dini.

“Juga menjadi media dalam mengasah kemampuan analisis siswa menjawab problematika Indonesia khususnya di bidang UMKM yang selama ini menjadi salah satu tujuan dari kebijakan nawacita. Sekaligus menjadi salah satu cara untuk mempromosikan Kabupaten Luwu Timur sebagai surga sagu yang bisa menjadi bahan pangan alternatif untuk ketahanan pangan Indonesia,” ujarnya. (ikp/kominfo)