Ini Penyebab Patahuddin Diberhentikan Sebagai Ketua Golkar Luwu

2540

BELOPA — Penyebab diberhentikannya Patahuddin sebagai Ketua DPD II Golkar Luwu, terkuak. Pemicunya adalah penentuan Wakil Ketua DPRD Luwu.

Diduga kuat, Ketua DPD I Golkar Sulsel, Nurdin Halid tak suka titahnya atau perintahnya ‘dicueki’ oleh mantan Calon Bupati Luwu itu. Jauh hari sebelumnya, DPP Partai Golkar dan DPD I sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang menunjuk Zulkifli sebagai Wakil ketua DPRD Luwu. Kenyataannya, hingga pelantikan Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD Luwu, Selasa lalu, Zulkifli batal dilantik.

Musababnya, DPD II Golkar Luwu belum memasukkan nama Zulkifli ke Sekretariat DPRD.

” Golkar Luwu menolak mengeluarkan rekomendasi untuk pimpinan DPRD Luwu karena tidak sesuai dengan mekanisme dan aturan yang ada di Partai Golkar. Ini yang menjadi penyebab sehingga Ketua diberhentikan,” ungkap mantan Wakil Sekretaris I Golkar Luwu, Ismail Ishak.

Ismail sendiri pasca pemberhentian Patahuddin mengaku mundur dari kepengurusan Golkar Luwu. Selain Ismail, ada sejumlah loyalis Pata lainnya yang juga memilih mundur.

Disebut-sebut kubu Patahuddin lebih sreg kepada Andi Muharrir ketimbang Zulkifli. Pada periode lalu, Andi Muharrir adalah Ketua DPRD Luwu dan merupakan kader Golkar.

Adapun Zulkifli sebelumnya adalah anggota KPU Luwu dan bergabung dengan Golkar saat pemilihan legislatif. ” Tidak ada masalah siapapun yang ditunjuk. Yang kita sebenarnya mau adalah penentuannya sesuai dengan mekanisme yang ada di partai,” kata Ismail.

Sementara itu, Plt Ketua Golkar Luwu, Madjid Tahir mengaku dalam waktu dekat akan berkonsultasi dengan Patahuddin. Termasuk melakukan pendekatan kepada kader-kader yang mundur.

” Saya akan berkonsultasi dengan Patahuddin. Semoga kader-kader Golkar dapat aktif kembali,” katanya via WhatsApp.

Mantan anggota DPRD Sulsel ini mengakui posisi kader Golkar di Luwu memang berat setelah kekalahan beruntun di tiga perhelatan politik.

Pemilihan Gubernur Sulsel, pemilihan Bupati Luwu, serta pemilihan legislatif baru-baru ini. Jumlah kursi Golkar Kabupaten Luwu berkurang 50 persen di DPRD Luwu.

Dari enam menjadi tiga kursi sehingga membuat posisi Ketua DPRD yang selama ini jatah Golkar lepas. ” Tugas saya mengajak semua untuk move on agar dapat menghadapi tantangan politik ke depan. Saya optimis moril mereka akan bangkit kembali, Insya Allah,” tandasnya.

Hanya saja, niat rekonsiliasi yang ditawarkan Madjid Tahir itu ditolak Ismail Ishak. ” Kami akan menolak. Untuk apa lagi ada rekonsiliasi. Silahkan kakanda Madjid Tahir menjalankan tugasnya. Keputusan kami sudah bulat untuk mundur dari Golkar,” tegasnya.

Patahuddin sendiri mengaku sudah legowo dengan keputusan DPD Golkar Sulsel yang mencopotnya. Kepada Koran SeruYA, ia mengatakan, semua yang terjadi adalah dinamika dalam politik.

” Ini biasa terjadi. Ini dinamika dalam sebuah organisasi politik,” katanya. ” Pak NH (Nurdin Halid) yang mengangkat saya jadi ketua dan dia juga yang memberhentikan saya jadi ketua. Oleh karena itu saya sangat berterima kasih atas kepercayaanya selama ini,” tambahnya.

Namun, ia tak menjelaskan secara detil apa yang menyebabkan sehingga diberhentikan sebagai Ketua Golkar Luwu.

Patahuddin ditunjuk menjadi Ketua DPD Golkar Luwu jelang pilgub 2018 lalu. Ia menggantikan Andi Mudzakkar mantan Bupati Luwu yang maju sebagai calon wakil gubernur Sulsel.

Cakka sapaan akrab Andi Mudzakkar dianggap tak loyal kepada partai. Sebab, Golkar juga mengusung calon sendiri yakni pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar. (fit/adn)