OPINI HARI IBU: Tiga Hari Memeluk Mayat Ibu

299

 

Oleh: Armin Mustamin Toputiri

Warga sekitar jalan Bontonompo Makassar, mencium aroma tak sedap. Menyengat serasa bau bangkai. Warga curiga bau itu dari bangkai tikus. Setelah mencari-cari, bangkai tidak ditemukan. Warga penasaran, coba menyisir seputaran salah satu rumah indekost yang sejak dua bulan lalu dihuni seorang ibu. Makin mendekat, sumber bau kian menusuk hidung. Warga curiga, sumber bau berada dalam rumah kost itu. Memastikan, jika di dalamnya ada bangkai telah membusuk.

Bangkai apa gerangan? warga tak berani menyimpulkan. Rumah indekost itu terkunci rapat dari dalam. Meski curiga, mau mendombrak pintunya, tapi warga tak berani bertindak sepihak. Cara terbaik ditempuh, melaporkan ke aparat kepolisian terdekat. Tak lama, aparat kepolisian segera menyusul datang di lokasi. Membenarkan ada bau menyengat. Sumbernya – keras dapat diduga – berasal dari dalam rumah indekos itu. Pintu berulang diketuk, tetapi tak ada reaksi dari dalam.

Faktanya, pintu terkunci dari dalam. Penanda, jika ada orang dalam rumah. Bersepakat dengan warga, aparat mengambil tindakan darurat, mendobrak jendela samping. Saat jendela terkuak, aroma bau bangkai kian menyengat. Diterpa hembusan angin. Di dalam kamar, terlihat seorang ibu terlentang kaku. Seorang balita, memeluknya erat. Melihat kondisi mengenaskan, bersama aparat – setelah sebelumnya mendobrak jendela – saatnya mendobrak pintu di bagian depan.

Aparat memeriksa kondisi perempuan itu, benar sudah tak bernyawa lagi. Putrinya yang masih balita, setia memeluk mayat ibunya. Keduanya, segera dilarikan ke rumah sakit Bayangkara. Tim medis melakukan pemeriksaan, lalu menyimpulkan. Bahwa di bagian fisik, tak ditemukan tanda telah terjadi penganiayaan. Tetapi mayat, diduga telah kehabisan nafas, sejak tiga hari sebelum ditemukan terbujur kaku dalam kamar di peluk anak balitanya. Wajar, beraroma tak sedap lagi.

Meletakkan koran, seusai membaca kisah tragis itu, rasa dan rasio saya saling beradu. Rasa pilu serta rasio gamang membayang di benak. Bagaimana mungkian anak balita itu, selama tiga hari tak bergeming untuk tetap berada di sisi – memeluk – ibunya, padahal ibunya tak bernafas lagi?. Bagaimana mungkin bisa bertahan dengan aroma tak sedap? warga dekat rumah saja, mencium dari jarak jauh. Bagaimana mungkin bisa bertahan tiga hari tak mengasup makan dan minum?

Betapa sayang dan cintanya ia pada sang bunda. Mewujud mayat sekalipun tetap saja memeluk bundanya. Walau aroma tak sedap dari mayat bundanya, menusuk hidungnya. Walau telah tiga hari tak mengasup sebutir nasi atau setes air, ia tetap saja bertahan untuk berada di sisi bunda. Ia tak tega, tak rela meninggalkan bundanya terbaring kaku sendiri, tanpa ada siapa menemani. Ia ingin menepati janji pada sang bunda, akan menemani hingga di ujung akhir hayat sekalipun.

Masih balita – baru dua tahun lebih tiga bulan – belum cukup umur untuk tahu, kenapa ayah dan bundanya berpisah. Lalu ia dibawa pergi oleh bundanya. Meninggalkan rumah kebahagian yang telah dihuni hidup secara bahagia. Berdua pergi menjauh, menyewa rumah indekost. Di sanalah sang bunda meraup nafas terakhir. Dan sang bunda telah masuk ke liang lahat. Di atas pusara, saya membayangkan balita itu berbisik lirih. “Maafkan aku bunda, bakti telah kutunai, hanya sebatas itu aku sanggup menemani bunda”.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2019