OPINI Jelang Pilkada : Penantang Itu Gas Poll…

356
Nursandy Syam, Manager Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI)

SEORANG penantang apalagi berstatus “wajah baru” memang tak mudah merintis jalan masuk ke arena pertarungan, terlebih lagi meraih kemenangan. Salah satu modal dasar seorang penantang harus punya mental bertarung yang kuat dalam mengikuti kontestasi yang masih melibatkan petahana. Pasalnya, petahana yang sudah berurat berakar bagi sebagian pihak adalah prospek yang menakutkan.

Argumentasi soal kekuatan petahana tentu bisa dibenarkan. Petahana memiliki banyak keuntungan dan “bekal mewah” mengikuti proses kontestasi. Dimulai dari pengenalan nama yang sudah populer, basis politik, jejaring politik yang memadai, penguasaan birokrasi lokal hingga peningkatan kemampuan penggalangan dana.

Fase awal mengikuti pemilihan sebagai penantang salah satu petahana mungkin tergolong berat bahkan tampak mustahil. Lain hal, jika arena kontestasi  lebih terbuka seringkali prosesnya lebih mudah.

Namun peluang mengalahkan pemain lama bukanlah misi yang “impossible”. Jika atribut-atribut primer sebagai seorang penantang sudah powerful dimiliki.

Seorang penantang perlu mengetahui bahwa sebagian besar petahana berada dalam mode kampanye abadi. Setelah memenangkan kontestasi, mereka segera mulai merencanakan dan bersosialisasi untuk pemilihan berikutnya.

Posisi sebagai kepala daerah disadari ataupun tidak memberi insentif elektoral bagi mereka. Celakanya, banyak penantang membuat kesalahan dengan menunggu hingga peluit kick off dibunyikan untuk memulai kerja-kerja elektoralnya.

Untuk penantang, tidak ada bahasa “terlalu dini” untuk memulai sosialisasi. Meskipun pemilih belum memiliki pikiran tentang pemilihan, mulailah sesegera mungkin. Jika merasa surplus waktu, itu keuntungan yang perlu dimanfaatkan secara optimal.

Seringkali penantang berasumsi bahwa pemilihan masih lama, sehingga menunda memulai pergerakan. Anggapan itu wajar saja, apalagi terkait dengan kemampuan ekonomi masing-masing penantang.

Tak hanya soal pemanfaatan waktu, kalkulasi dan pembacaan politik seorang penantang sangat penting dalam menentukan lawan sesungguhnya. Sebelum ia mendapat kesempatan untuk mendefinisikan dirinya sendiri.

Setelah menentukan dan mengetahui lawan, penantang perlu melakukan kontras yang tajam antara dirinya dengan incumbent. Bukankah alasan mengapa orang memilih keluar dari petahana karena mereka menemukan figur yang lebih baik.

Anda harus hadir di pikiran dan hati pemilih dengan sosok yang lebih baik daripada lawan anda. Tunjukkan pada masyarakat pemilih mengapa anda berbeda, jelas berbeda, dan mengapa perbedaan itu membuatnya menjadi pilihan yang unggul.

Menaklukkan incumbent dimungkinkan dengan persiapan, strategi dan kerja keras. bergeraklah lebih awal, dan atur irama untuk kontestasi. Tunjukkan pada pemilih bahwa ada perbedaan yang mencolok antara anda dan lawan anda pada masalah yang anda tentukan.

Katakan pada mereka mengapa anda adalah kandidat yang lebih kuat, dan bekerja keras untuk menyampaikan pesan anda kepada masyarakat pemilih.

Jika ingin mengejar ketertinggalan, penantang sebaiknya “Gas Poll”. Pendekatan “wait and see” hanya akan mengurangi ketersediaan waktu yang cukup. Penantang tak sekedar mengalir, harus deras dan kencang. Perlahan mengurangi berjalan, mulai memperbanyak berlari kecil.

Nursandy Syam

Manager Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI)